Adab dan Ilmu: Mana yang Harus Didahulukan?
IndonesiaNeo, TIPS - Dalam tradisi keilmuan Islam, perbincangan tentang hubungan antara adab dan ilmu bukanlah isu baru. Para ulama sejak dahulu telah menekankan bahwa proses menuntut ilmu tidak bisa dilepaskan dari pembinaan adab. Bahkan, dalam banyak kitab tentang etika penuntut ilmu—seperti Tadzkirah al-Sāmi‘ wa al-Mutakallim—ditegaskan bahwa adab memiliki posisi yang sangat menentukan nilai dan manfaat ilmu itu sendiri.
Salah satu ungkapan klasik yang sering dikutip datang dari Habib bin al-Syahid. Ia berpesan kepada putranya agar senantiasa bergaul dengan para fuqaha dan ulama, belajar dari mereka, dan meneladani adabnya. Baginya, adab jauh lebih berharga daripada sekadar memperbanyak riwayat hadis tanpa disertai etika dan akhlak yang lurus. Pesan ini menegaskan bahwa tujuan berguru kepada ulama bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi juga pewarisan sikap hidup dan kemuliaan akhlak (Yuana Ryan Tresna, 2025).
Penekanan serupa juga terlihat dalam ungkapan para imam besar. Imam Malik secara tegas menyatakan bahwa seorang penuntut ilmu seharusnya mempelajari adab terlebih dahulu sebelum mendalami ilmu. Senada dengan itu, Imam Abdullah bin al-Mubarak menyebutkan bahwa kebutuhan manusia terhadap sedikit adab jauh lebih besar daripada kebutuhan terhadap banyak ilmu. Pernyataan-pernyataan ini sering dirangkum dalam ungkapan populer: adab sebelum ilmu.
Namun, ungkapan tersebut kerap disalahpahami. Yang dimaksud “adab sebelum ilmu” bukanlah urutan hakikat sebab-akibat secara epistemologis. Dalam kerangka epistemologi, ilmu justru menjadi dasar lahirnya amal, dan dari amal itulah terbentuk akhlak serta adab. Dengan kata lain, secara hakikat, adab merupakan buah dari ilmu yang diamalkan, bukan sesuatu yang muncul tanpa ilmu.
Lalu bagaimana menyelaraskan dua pandangan ini? Kuncinya terletak pada pembedaan konteks. Dalam konteks epistemologi, alurnya jelas: ilmu melahirkan amal, dan amal membentuk akhlak serta adab. Tetapi dalam konteks metodologi menuntut ilmu, seorang pelajar memang dituntut untuk mempelajari ilmu tentang adab sejak awal. Adab dijadikan fondasi agar proses belajar berjalan lurus dan tidak menyimpang.
Dari sinilah ungkapan para ulama tentang keutamaan adab dapat dipahami dengan jernih. Maksudnya bukan meremehkan ilmu, tetapi menegaskan bahwa ilmu tentang adab—seperti etika kepada guru, tata krama dalam belajar, serta sikap tunduk kepada Allah—harus didahulukan sebelum menyelami ilmu-ilmu yang lebih luas seperti tafsir, hadis, dan fikih. Tanpa adab, ilmu justru berpotensi menjadi sumber kesombongan, perdebatan kosong, dan fitnah bagi diri sendiri maupun orang lain.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa ungkapan “adab sebelum ilmu” memiliki makna metodologis, bukan epistemologis. Secara hakikat, adab memang lahir dari ilmu yang diamalkan. Namun, dalam proses belajar, ilmu tentang adab harus diletakkan di awal agar ilmu yang diperoleh selanjutnya menjadi berkah, membuahkan amal, dan membentuk akhlak yang mulia. Inilah keseimbangan yang ditekankan para ulama agar ilmu tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga menyehatkan jiwa dan perilaku.[]Adm


Post a Comment