Keteladanan Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada Hari Raya
IndonesiaNeo, TELADAN - Hari Raya Idul Fitri bukan hanya momen kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga saat yang tepat untuk menumbuhkan akhlak mulia dan keteladanan. Salah satu tokoh Islam yang dapat dijadikan teladan dalam suasana Idul Fitri adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ia dikenal sebagai pemimpin yang sangat zuhud, sederhana, dan dekat dengan rakyat. Dalam sebuah kisah, ia keluar dari istana tanpa pengawal untuk menyapa masyarakat pada hari raya. Di tengah keramaian, ia melihat seorang anak berpakaian lusuh. Setelah didekati, ternyata anak itu adalah putranya sendiri. Peristiwa ini menggambarkan betapa kuatnya nilai kesederhanaan dalam diri Umar bin Abdul Aziz, bahkan di saat orang lain berhari raya dengan kemewahan.
Kisah itu semakin menyentuh ketika sang anak menjawab dengan tenang saat ayahnya menangis karena melihat dirinya berpakaian sederhana. Ia mengatakan bahwa orang yang benar-benar merugi adalah mereka yang kehilangan ridha Allah atau durhaka kepada orang tua, lalu ia berharap ridha Allah melalui ridha ayahnya. Dari peristiwa ini tampak bahwa Idul Fitri bukan sekadar soal pakaian baru atau kemeriahan, melainkan tentang hati yang bersih, bakti kepada orang tua, dan keikhlasan dalam menjalani hidup. Umar bin Abdul Aziz pun menunjukkan kasih sayang seorang ayah sekaligus kebijaksanaan seorang pemimpin yang menghargai ketulusan anaknya.
Keteladanan Umar bin Abdul Aziz mengajarkan bahwa kemuliaan seorang muslim tidak diukur dari penampilan lahiriah, tetapi dari kesederhanaan, kerendahan hati, dan perhatian kepada keluarga serta masyarakat. Pada hari raya, sikap seperti ini sangat penting untuk diteladani agar Idul Fitri benar-benar menjadi hari kemenangan yang penuh makna. Dari beliau, kita belajar untuk tetap rendah hati, tidak berlebih-lebihan, menghormati orang tua, dan menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama dalam setiap amal.
Kisah ini dirangkum dari kitab Hasyiyatus Syarqawi karya Syekh Abdullah bin Hijazi As-Syarqawi, yang diterbitkan di Beirut oleh Darul Fikr pada tahun 2006 M/1426–1427 H, juz I halaman 274. Kisah tersebut juga dapat ditemukan dalam artikel yang dimuat di situs NU Online.[]


Post a Comment