SKB Sembilan Kementrian Akankah Jadi Solusi Masalah Kejiwaan Anak?
Oleh: Zahra Tenia*)
IndonesiaNeo, OPINI - Pemerintahan mengambil langkah serius untuk menangani masalah kejiwaan pada anak. Upaya ini diwujudkan dengan menggandeng beberapa kementerian yang memiliki peran penting dalam mengatasi masalah persoalan pada anak.
Pratikno, selalu Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) dalam rapat dijakarta menyampaikan kompleksitas faktor yang mempengaruhi kejiwaan anak, sehingga masing-masing kementrian diharapkan dapat memberikan kontribusinya. Langkah nyata yang diambil adalah dengan dengan penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak yang ditandatangani oleh sembilan kementrian dan lembaga, yaitu: Kementrian Kesehatan oleh Budi Gunadi Sadikin, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) oleh Arifah Fauzi, Kementerian Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) oleh Meutya Hafid, Kementrian Sosial (Mensos) oleh Saifullah Yusuf, Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) oleh Abdul Mu'ti, Kementrian Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Kementerian Agama (Menag) oleh Nasaruddin Umar, serta Kementrian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji, dan juga perwakilan dari Kapolri (antaranews.com, 05/03/26).
Penandatangan dilatarbelakangi maraknya kasus bunuh diri dan kejiwaan anak yang semakin mengkhawatirkan. Arifah Fauzi selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Tahun 2024, hasilnya ditemukan fakta 7,28 persen anak mengalami masalah kesehatan jiwa dan 62,19 persen di antaranya juga mengalami kekerasan, baik secara fisik, emosional, maupun seksual (kemenpppa.go.id).
Terdapat 4 faktor yang menjadi pemicu utama mengapa anak ingin mengakhiri hidupnya, konflik keluarga sebanyak 24-46%, faktor psikologis 8-26% perundungan 14-18 %, dan tekanan akademik 7-16% (heaaling119.id dan KPAI).
Memang benar, masalah kejiwaan anak tidak bisa ditangani oleh satu Kementrian saja. Namun, benarkah SKB Sembilan Mentri mampu menjadi solusi atas meningkatkan masalah kejiwaan pada anak?
Kehidupan Sekuler Ciptakan Krisis Kejiwaan Anak
Masalah Kejiwaan anak patut dipertanyakan dan menjadi perhatian yang mendalam oleh masyarakat terutama negara. Anak adalah aset masa depan negara, namun jiwa yang rapuh dan lemah tidak akan mampu membawa sebuah bangsa menjadi negara yang berdaya, berdaulat dan disegani oleh negara lain. Perlu di telisik lebih mendalam mengapa kasus kejiwaan anak semakin hari semakin mengkhawatirkan, sehingga solusinya pun memberikan dampak yang efektif.
Sistem sekuler kapitalis hari ini tidak dipungkiri menjadi penyebab utama mengapa anak mengalami krisis kejiwaan. Sekulerisme menjadikan kehidupan dunia sebagai sebuah poros hidup, dibandingkan akhirat. Dunia dikejar, tanpa diimbangi dengan iman dan ketaqwaan. Semua paradigma dan nilai-nilai Islam semakin hari semakin menipis dan hampir hilang di tengah hegemoni media kapitalis global.
Pengaruh sekulerisme bisa dirasakan diberbagai kehidupan, baik sekolah, lingkungan maupun masyarakat.
Ranah keluarga, dan sekolah menjadikan orientasi hidup anak didunia tidak lagi untuk ibadah, namum kesenangan dunia. Belajar tidak lagi untuk mendapatkan ilmu, sebagaimana agama menuntunkan, prestasi tidak lagi dikejar, kecuali hanya untuk sekedar reward/ pun pujian dan pekerjaan .
Begitu pun dalam lingkungan masyarakat, standar kesuksesan senantiasa diukur dari materi. Orang yang tidak bekerja, yang tidak memiliki jabatan ataupun kekuasaan sering kali dianggap tidak berguna,dan dipandang sebelah mata. Secara keseluruhan inilah yang meningkatkan resiko terhadap tekanan mental yang berujung pada krisis kejiwaan.
Islam Menjawab
Kerusakan yang terjadi dalam masyarakat, terutama anak-anak harus segera dicegah dan diatasi. Virus sekulerisme harus sedini mungkin dihentikan agar tidak terus menyebar dan menginfeksi juataan, milyaran bahkan triliunan anak-anak yang ada di dunia.
Upaya ini dapat dilakukan jika aktivitas dakwah ditengah masyarakat dijadikan agenda bersama umat Islam memerangi sekulerisme. Umat Islam harus bersatu mengganti sistem kapitalis sekuler menjadi sistem Islam. Sistem yang tanpa cacat dan cela karena berasal dari dzat yang menciptakan manusia.
Islam mengharuskan sebuah negara hadir untuk mengurus rakyatnya. Negara bertanggung jawab sebagai rain, memastikan seluruh rakyat, termasuk anak-anak terlindungi dari dampak buruk nilai-nilai sekuler, liberal dan kapitalistik. Negara akan menstop segala hal negatif yang berdampak buruk bagi perkembangan jiwa anak seperti game online, judi online, dan maraknya pergaulan bebas yang melanggar batas-batas agama, negara harus hadir dengan memberikan panduan dan sanksi yang tegas .
Bidang pendidikan, negara menjadikan aqidah Islam sebagai asas kurikulum materi yang diajarkan. Hidup adalah untuk beribadah kepada Allah S.wt bukan untuk kesenangan dunia semata. Islam juga mengajarkan agar anak menjadi pribadi yang bermental kuat, dan tahan uji. Ditanamkan dalam diri anak bahwa hidup adalah tempat ujian yang harus dihadapi dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Anak sejak dini juga dibiasakan untuk sholat, baca Qur'an dan berdzikir yang akan senantiasa melembutkan hati dan menjaga kestabilan emosi untuk senantiasa tenang dalam kondisi apapun karena Allah bersamanya. Sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28 yang berbunyi:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ٢٨
Yang artinya: orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.
Bidang kesehatan, negara hadir dengan memberikan pelayanan kesehatan secara gratis, konseling terhadap berbagai masalah yang dihadapi anak tanpa dipungut biaya. Bidang Ekonomi, negara menjamin setiap. Keluarga terjamin kebutuhan hidupnya dengan menyediakan lapangan pekerjaan, sehingga setiap keluarga terbebas dari kemiskinan dan menjadikan setiap anak terpenuhi kebutuhannya baik primer maupun sekunder. Anak merasa nyaman belajar,tanpa harus memikirkan masalah biaya dan kebutuhan lainnya.
Khatimah
Tidak ada solusi lain untuk mengatasi permasalah kejiwaan anak selain sistem Islam. Masalah Kejiwaan anak tidak cukup dengan SKB sembilan kementrian, melainkan seluruh elemen/ bidang terkait yang menunjang dalam bernegara. Dengan kata lain, sistem yang ada harus dirubah, diganti dengan sistem Islam.
Umat Islam harus bersatu dan menjadikan tegaknya sistem Islam sebagai agenda bersama untuk terus-menerus disuarkan dan diperjuangkan.
Wallahu alam bishowab.[]
*) Aktivis Muslimah


Post a Comment