Banjir Kendari dan Peradaban Yang Kehilangan Arah
Oleh: Ema Fitriana Madi, S.Pd*)
IndonesiaNeo, OPINI - Hujan kembali turun di Kendari. Langit gelap, air perlahan naik, lalu jalan-jalan berubah menjadi sungai. Rumah-rumah warga terendam. Anak-anak digendong menembus banjir. Para ibu menyelamatkan barang seadanya, sementara sebagian kepala keluarga hanya bisa memandangi rumah mereka yang dipenuhi lumpur.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari mencatat sedikitnya 657 rumah terendam dan hampir 3.000 warga terdampak banjir di 15 titik lokasi. Sawah warga ikut rusak, akses jalan terganggu, bahkan longsor turut terjadi di beberapa wilayah (antaranews.com, 11/5/2026; suaramilenial.id, 11/5/2026).
Namun sesungguhnya, yang tenggelam bukan hanya rumah-rumah warga.
Yang sedang tenggelam adalah rasa aman masyarakat, rasa tanggung jawab para pemimpin, dan cara pandang manusia terhadap bumi yang Allah titipkan.
Setiap kali banjir datang, narasi yang muncul hampir selalu sama: “karena curah hujan tinggi.” Padahal hujan bukan musuh manusia.
Dalam Islam, hujan adalah rahmat. Allah menurunkan air dari langit untuk menghidupkan bumi dan menjadi sumber kehidupan. Yang menjadi masalah bukan airnya, tetapi bagaimana manusia memperlakukan alam. Allah Ta’ala berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia...” (QS. Ar-Rum: 41).
Ayat ini terasa sangat nyata hari ini. Kerusakan lingkungan tidak muncul tiba-tiba. Ia lahir dari keserakahan manusia, pembangunan tanpa amanah, tata kota yang buruk, eksploitasi alam, dan sistem kehidupan yang menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan utama.
Daerah resapan ditutup beton. Sungai menyempit. Hutan ditebang. Pembangunan perumahan dan proyek terus meluas tanpa mempertimbangkan keseimbangan lingkungan.
Lalu ketika banjir datang, rakyat diminta “bersabar.”
Inilah wajah pembangunan dalam sistem kapitalisme sekuler, sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam sistem ini, ukuran keberhasilan bukan lagi keberkahan dan keselamatan rakyat, tetapi investasi, proyek, dan keuntungan ekonomi. Selama menghasilkan uang, kerusakan sering dianggap wajar.
Selama ada kepentingan ekonomi, suara rakyat kecil mudah diabaikan. Akibatnya, alam diperlakukan seperti barang dagangan, bukan amanah dari Allah. Padahal Islam memandang manusia sebagai khalifah di muka bumi. Bukan penguasa yang bebas merusak, tetapi penjaga yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Rasulullah SAW bahkan mengajarkan adab terhadap lingkungan jauh sebelum dunia modern berbicara tentang krisis iklim dan sustainable living . Islam melarang kerusakan, pemborosan, dan kezaliman terhadap alam. Namun, hari ini agama hanya ditempatkan di masjid dan ruang ibadah pribadi. Sementara urusan politik, pembangunan, ekonomi, dan tata kota diatur dengan hawa nafsu manusia.
Inilah Dampak Sekularisme
Ketika agama dipisahkan dari kehidupan, manusia kehilangan kompas moral. Yang halal dan haram tidak lagi menjadi standar. Yang dipikirkan hanya untung dan rugi.
Maka jangan heran jika pembangunan terus berjalan, tetapi bencana juga terus berulang. Dan yang paling sering menjadi korban adalah rakyat biasa.
Ironisnya lagi, masyarakat perlahan mulai terbiasa dengan bencana. Banjir dianggap “langganan tahunan.” Padahal tidak ada yang normal dari rumah yang terendam, anak-anak yang harus mengungsi, atau warga yang hidup dalam ketakutan setiap kali hujan deras turun. Hari ini Kendari banjir. Kemarin Jakarta, Makassar, Maros, Medan, Bekasi, dan daerah lainnya juga mengalami hal serupa.
Ini bukan sekadar masalah cuaca. Ini tanda ada yang salah dengan cara manusia membangun peradaban.
Manusia modern merasa dirinya paling hebat. Teknologi berkembang pesat. Gedung menjulang tinggi. Kawasan elit dibangun di mana-mana. Tetapi satu hujan deras saja cukup membuat kota lumpuh.
Allah hanya perlu menurunkan air beberapa jam, lalu manusia sadar betapa lemahnya dirinya.
Maka bencana seharusnya menjadi momen muhasabah. Bukan hanya sibuk menyalahkan cuaca, tetapi bertanya: sudah sejauh mana manusia melampaui batas terhadap bumi dan terhadap aturan Allah?
Dalam sejarah Islam, pengelolaan lingkungan dan perlindungan rakyat bukan hal yang diabaikan.
Khilafah Islam pernah memiliki tata kelola air dan lingkungan yang maju pada zamannya. Pada masa Khilafah Abbasiyah, kanal, bendungan, dan sistem irigasi dibangun serius demi menjaga distribusi air dan melindungi masyarakat.
Di Andalusia Islam, para ilmuwan muslim mengembangkan teknologi pengairan dan tata kota yang sangat maju. Air dikelola sebagai kebutuhan vital rakyat, bukan sekadar komoditas bisnis.
Bahkan Khalifah Umar bin Khattab ra. pernah memerintahkan pembangunan kanal untuk mengatasi krisis pangan dan mempermudah distribusi logistik rakyat. Karena dalam Islam, pemimpin adalah ra’in, pengurus rakyat. Rasulullah SAW bersabda:
“Imam adalah pemelihara dan ia bertanggung jawab terhadap rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan jika prinsip ini benar-benar diterapkan hari ini. Maka jabatan tidak akan menjadi alat mencari keuntungan. Tata kota tidak dibangun sembarangan. Lingkungan tidak dijual kepada oligarki. Keselamatan rakyat akan menjadi prioritas utama.
Khilafah bukan sekadar simbol sejarah, tetapi sistem pemerintahan Islam yang menerapkan syariat secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan: politik, ekonomi, lingkungan, sosial, hingga pengelolaan sumber daya alam.
Dalam sistem Islam, sumber daya alam tidak boleh dikuasai segelintir pihak. Negara wajib mengelolanya demi kemaslahatan umat.
Islam juga memiliki konsep hima, yaitu kawasan lindung yang dijaga negara demi melestarikan lingkungan dan mencegah kerusakan ekosistem. Ini menunjukkan bahwa Islam memiliki perhatian besar terhadap keseimbangan alam jauh sebelum dunia modern mengenal konsep konservasi.
Hari ini dunia sibuk berbicara tentang climate change , sustainability , dan green economy . Tetapi mereka lupa bahwa akar kerusakan bukan sekadar soal teknologi.
Akar kerusakan adalah hilangnya ketakwaan. Ketika manusia tidak lagi takut kepada Allah, maka bumi diperlakukan semaunya. Dan ketika syariat Allah disingkirkan dari kehidupan, kerusakan menjadi sesuatu yang sulit dihentikan.
Musibah banjir di Kendari seharusnya menyadarkan umat bahwa kita membutuhkan lebih dari sekadar bantuan logistik dan proyek drainase sementara.
Kita membutuhkan perubahan mendasar dalam cara mengatur kehidupan. Kita membutuhkan pemimpin yang amanah, bukan sekadar pandai pencitraan. Kita membutuhkan sistem yang menjadikan keselamatan rakyat sebagai kewajiban syar’i, bukan sekadar janji politik.
Dan kita membutuhkan penerapan syariat Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah agar kehidupan berjalan sesuai petunjuk Allah, bukan hawa nafsu manusia.
Tentu membantu korban banjir adalah kewajiban. Menolong sesama adalah bagian dari iman. Tetapi umat juga harus mulai berani bertanya: Mengapa bencana terus berulang? Mengapa rakyat terus menjadi korban? Mengapa kerusakan lingkungan semakin parah?
Jangan sampai masyarakat hanya sibuk membersihkan lumpur, sementara akar kerusakan tetap dipertahankan.
Karena bumi yang rusak sering kali hanyalah cermin dari manusia yang jauh dari aturan Allah.
Semoga musibah ini menjadi pengingat bagi kita semua. Bahwa manusia bukan pemilik bumi, melainkan penjaga yang akan dimintai pertanggungjawaban. Bahwa jabatan adalah amanah. Dan bahwa solusi sejati tidak akan lahir dari sistem kapitalisme sekuler yang rusak, tetapi dari kembali kepada syariat Allah secara menyeluruh.
Semoga Allah melindungi saudara-saudara kita di Kendari, mengangkat kesulitan mereka, dan memberi hidayah kepada umat ini agar kembali menjadikan Islam sebagai pedoman kehidupan.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.[]
*) Pegiat Literasi


Post a Comment