Hardiknas dan Wajah Buram Pendidikan Kita
Oleh: Rusnawati*)
IndonesiaNeo, OPINI - Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Upacara digelar, pidato disampaikan, slogan-slogan indah tentang mencerdaskan kehidupan bangsa bergema di mana-mana. Namun di balik kemeriahan peringatan itu, ada kenyataan pahit yang tak bisa kita tutup mata: dunia pendidikan kita sedang dalam kondisi darurat. Bukan darurat infrastruktur atau kurikulum semata, melainkan darurat moral dan karakter yang jauh lebih mendasar dan mengkhawatirkan.
Hardiknas 2026 semestinya menjadi momen refleksi mendalam, bukan sekadar seremonial. Sebab rentetan berita menyayat hati terus mengalir dari berbagai penjuru negeri, mewakili gambaran betapa kelamnya potret pendidikan kita hari ini.
Dalam hitungan minggu menjelang Hardiknas 2026, berita duka bersambung dari berbagai penjuru negeri. Ilham Dwi Saputra (16 tahun) tewas dikeroyok secara brutal di Bantul — dipukul, disundut rokok, lalu dilindas berulang kali (Kumparan & tvOnenews, April 2026). Di Bogor, dua pelajar SMA disiram air keras hingga wajah mereka terluka (Detik.com, 22 April 2026). Di Bandung, seorang pelajar tewas dengan enam pelaku yang juga berstatus pelajar (Kompas.id). Totalnya, 233 kasus kekerasan tercatat di dunia pendidikan hanya dalam tiga bulan terakhir (Kompas.id) — lebih dari dua kasus setiap harinya.
Di ranah akademik, UTBK-SNBT 2026 kembali diwarnai sindikat perjokian: ijazah palsu di Unesa, joki "pemain lama" yang kabur di Unair, hingga bayaran Rp 100 juta per kelulusan (Detik.com & Kompas.id). Modusnya makin canggih: pemalsuan dokumen hingga alat bantu dengar tersembunyi (Tempo.co). Akademisi UNJ memastikan ini bukan ulah individu, melainkan sindikat terorganisasi (Medcom.id, 23 April 2026).
Melengkapi gambaran buram ini: narkoba yang terus menyasar pelajar, dan guru-guru yang kini terancam dipenjara hanya karena menegur atau menghukum siswanya secara wajar. Sekolah bukan lagi ruang yang aman. Pendidikan kita sedang dalam kondisi darurat yang sesungguhnya
Analisis: Mengapa Ini Terus Terjadi?
Rentetan fakta di atas bukan kebetulan dan bukan pula semata kelalaian individu. Ini adalah panen pahit dari benih sistem yang telah lama ditanam dengan keliru. Ada lima akar masalah yang harus kita bedah secara jernih dan berani.
Pertama: Hardiknas — Perayaan di Atas Luka yang Belum Sembuh. Tragisnya, setiap tahun Hardiknas hadir bukan sebagai kabar baik, melainkan sebagai pengingat bahwa kita terus berputar di lingkaran yang sama. Pemerintah berganti, kurikulum direvisi, anggaran pendidikan ditambah, namun kondisi moral generasi justru semakin memburuk. Ini adalah tanda bahwa kita sedang mengobati gejala, bukan menyembuhkan penyakit. Hardiknas mestinya menjadi momen untuk duduk bersama, membuka mata, dan dengan jujur mengakui: sistem kita sedang gagal. Bukan hanya gagal menghasilkan generasi cerdas, tetapi gagal menghasilkan generasi yang manusiawi. Selama kejujuran ini tidak hadir, Hardiknas hanyalah perayaan di atas luka yang belum pernah benar-benar disembuhkan.
Kedua: Krisis Kepribadian sebagai Buah dari Pendidikan Tanpa Arah. Selama puluhan tahun, sistem pendidikan nasional kita lebih sibuk mengejar angka — nilai ujian, peringkat sekolah, akreditasi — daripada membentuk manusia. Kurikulum terus berganti: dari KTSP ke K13, dari K13 ke Kurikulum Merdeka, namun pertanyaan paling mendasar tidak pernah dijawab: manusia seperti apa yang hendak kita lahirkan? Tanpa jawaban atas pertanyaan ini, pendidikan kita hanya berjalan tanpa kompas. Hasilnya nyata: pelajar yang pandai secara kognitif tetapi rapuh secara moral. Mereka fasih berbicara tentang hak asasi manusia dalam pelajaran PPKn, tetapi tega mengeroyok teman sendiri di luar kelas. Mereka lulus dengan nilai sempurna, tetapi tidak merasa bersalah menyontek dan membeli ijazah. Inilah krisis kepribadian paling nyata yang sedang kita alami: ilmu tanpa adab, kecerdasan tanpa nurani, prestasi tanpa integritas. Pendidikan kita telah menghasilkan kepala yang penuh, tetapi hati yang kosong.
Ketiga: Sistem Sekuler-Kapitalistik yang Meracuni Makna Sukses. Inilah akar paling dalam yang paling jarang berani kita sentuh. Ketika pendidikan dijalankan dalam logika pasar dan kapitalisme, maka tujuan belajar bergeser dari mencari kebenaran dan membangun peradaban, menjadi semata-mata memenangkan kompetisi demi status dan penghasilan. Ijazah dari perguruan tinggi ternama bukan lagi simbol kompetensi, melainkan tiket masuk ke jenjang sosial yang lebih tinggi — dan tiket itu bisa dibeli. Maka lahirlah generasi yang berpikir: mengapa belajar keras jika bisa membayar joki? Mengapa menghargai proses jika yang dihitung hanya hasil? Mengapa menghormati sesama jika yang penting adalah menang? Sistem ini tidak hanya gagal membentuk karakter — ia secara aktif membentuk karakter yang salah: pragmatis, oportunis, dan bersedia menghalalkan segala cara. Bukan generasi yang buram karena malas, tetapi generasi yang buram karena sistem telah mengajari mereka bahwa "berhasil dengan cara apapun" adalah hal yang wajar.
Keempat: Hukum yang Kendor Menjadi Undangan bagi Kejahatan. Sistem hukum kita yang berlaku lunak terhadap pelaku di bawah umur — dengan alasan perlindungan anak — tanpa disadari telah menjadi tiket aman bagi para pelaku kejahatan belia. Ketika seorang remaja tahu bahwa ia bisa mengeroyok, bahkan membunuh, dan hukumannya tidak akan sebanding dengan kejahatan yang ia lakukan, maka tidak ada lagi faktor pencegah yang nyata. Lebih parah lagi, kelonggaran ini tidak diimbangi dengan upaya rehabilitasi dan pembinaan karakter yang serius. Hasilnya, pelaku hari ini akan menjadi residivis esok hari. Hukum yang terlalu lunak bukan hanya gagal menghukum — ia juga gagal mendidik. Sementara korban menderita, pelaku melanjutkan hidupnya hampir tanpa beban. Ini bukan keadilan; ini adalah bentuk pengabaian sistemik terhadap keselamatan generasi muda itu sendiri.
Kelima: Agama Diajarkan sebagai Hafalan, Bukan sebagai Kepribadian. Inilah akar terdalam yang paling jarang dibicarakan secara terbuka. Dalam sistem pendidikan sekuler, agama dikotakkan: dua jam seminggu, diajarkan sebagai mata pelajaran, diuji dengan soal pilihan ganda, lalu dilupakan begitu bel berbunyi. Akibatnya, agama hanya hidup di buku teks — bukan di dalam dada dan perilaku pelajar. Seorang siswa bisa mendapat nilai 100 dalam pelajaran agama dan hafal puluhan ayat tentang larangan membunuh, namun tetap menjadi pelaku kekerasan brutal di luar sekolah. Mengapa? Karena agama tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari cara ia memandang dunia dan dirinya sendiri. Ketika agama gagal menjadi pandangan hidup, maka ruang itu tidak dibiarkan kosong — ia diisi oleh konten media sosial yang merayakan kekerasan, budaya gangster yang mengagungkan kekuatan fisik, dan hedonisme yang menjadikan kesenangan sesaat sebagai tujuan hidup. Inilah yang sedang terjadi pada generasi kita hari ini: bukan mereka yang jahat dari lahir, melainkan sistem yang membiarkan mereka tumbuh tanpa pondasi nilai yang sesungguhnya.
Konstruksi Solusi: Pendidikan Dalam Bingkai Islam
Islam bukan sekadar agama ritual yang mengurus hubungan manusia dengan Tuhannya di sudut-sudut tempat ibadah. Islam adalah sistem kehidupan yang komprehensif (nizhamul hayah) yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia — termasuk bagaimana sebuah negara mendidik generasinya. Berbeda dengan sistem sekuler yang memisahkan agama dari urusan publik dan kenegaraan, Islam justru menjadikan akidah sebagai fondasi seluruh bangunan peradaban. Dan di atas fondasi itulah, sistem pendidikan Islam dibangun.
1. Tujuan Pendidikan: Mencetak Manusia, Bukan Sekadar Mesin Ekonomi
Dalam kitab Nizhamul Islam dan berbagai dokumen pemikirannya menegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk syakhsiyah Islamiyah — kepribadian Islam yang utuh dan bulat. Kepribadian ini terdiri dari dua dimensi yang tidak bisa dipisahkan: aqliyah Islamiyah (cara berpikir yang berlandaskan akidah Islam, menjadikan halal-haram sebagai tolok ukur) dan nafsiyah Islamiyah (dorongan jiwa dan sikap yang selaras dengan perintah Allah SWT).
Ini berbeda secara fundamental dari sistem sekuler yang hanya menargetkan kecerdasan kognitif. Dalam pendidikan Islam, seorang pelajar tidak hanya diajarkan apa yang benar, tetapi dibentuk agar secara otomatis dan konsisten melakukan yang benar dalam setiap kondisi — bukan karena ada CCTV atau pengawas ujian, melainkan karena ia menghayati muraqabatullah (kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi) dan yaumul hisab (keyakinan bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di akhirat). Inilah kontrol moral internal yang tak bisa ditembus oleh situasi apapun — dan inilah yang absen dalam sistem pendidikan sekuler hari ini.
Dengan tujuan seperti ini, sistem pendidikan Islam secara inheren menghasilkan manusia yang tidak akan pernah mau menjoki ujian (karena itu adalah penipuan yang diharamkan), tidak akan mengeroyok sesama (karena jiwa manusia adalah amanah yang wajib dijaga), dan tidak akan menghina guru (karena menghormati orang yang berilmu adalah bagian dari menghormati ilmu itu sendiri).
2. Negara sebagai Pelayan, Bukan Pengusaha Pendidikan
Dalam pandangan Islam, negara Islam (Khilafah) memikul kewajiban mutlak untuk menyediakan pendidikan berkualitas secara gratis bagi seluruh warganya — Muslim maupun non-Muslim, kaya maupun miskin, di kota besar maupun di pelosok. Pendidikan bukan bisnis yang diserahkan kepada mekanisme pasar. Ia adalah kewajiban negara yang dibiayai dari Baitul Mal, yang sumbernya antara lain dari pengelolaan sumber daya alam milik umum.
Implikasinya sangat konkret: tidak ada pelajar yang terputus pendidikannya karena tidak mampu bayar SPP. Tidak ada perguruan tinggi swasta mahal yang hanya bisa dijangkau oleh kalangan berada. Dan tidak ada yang perlu membayar joki untuk masuk PTN favorit, karena pendidikan berkualitas sudah tersedia untuk semua. Ketika akses pendidikan merata dan gratis, maka kompetisi tidak lagi terasa seperti pertempuran hidup-mati yang memaksa orang menghalalkan segala cara.
Lebih dari itu, negara dalam Islam juga bertanggung jawab membangun bi'ah salihah — lingkungan sosial yang kondusif bagi ketakwaan. Media tidak bebas menyebarkan konten kekerasan dan pornografi. Hiburan tidak bebas mengumbar hedonisme. Lingkungan publik dirancang agar mendorong amar ma'ruf dan mencegah nahi munkar. Dengan kata lain, negara Islam tidak hanya membangun sekolah yang baik di tengah masyarakat yang rusak — ia membangun seluruh ekosistem yang mendukung terbentuknya generasi yang baik.
3. Sistem Sanksi: Keadilan yang Memberikan Rasa Aman
Islam tidak naif. Ia tahu bahwa pendidikan karakter saja tidak cukup selama tidak ada sistem penegakan hukum yang kuat. Maka Islam membangun sistem sanksi (uqubat) yang tegas, adil, dan memberikan efek jera nyata — bukan simbolis.
Dalam syariat Islam, pembunuhan dibalas dengan qishash (hukum balas setimpal) kecuali dimaafkan oleh keluarga korban, atau diganti dengan diyat (denda darah). Ini adalah keadilan yang sesungguhnya: korban mendapat kepastian keadilan, keluarga korban punya hak penuh, dan masyarakat mendapat jaminan bahwa kejahatan tidak akan dibiarkan berlalu begitu saja. Tidak ada perlakuan istimewa berdasarkan usia selama seseorang telah baligh dan berakal — karena Islam menilai kematangan berdasarkan kemampuan memahami tanggung jawab, bukan sekadar angka umur dalam dokumen sipil.
Dalam konteks kecurangan, Rasulullah SAW bersabda tegas: "Man ghasyyana fa laysa minna" — "Barangsiapa menipu kami, ia bukan golongan kami" (HR. Muslim). Perjokian, pemalsuan dokumen, dan kecurangan akademik yang merugikan kepentingan umum masuk dalam kategori yang dapat dikenai sanksi ta'zir — hukuman yang ditentukan oleh negara sesuai tingkat kejahatan, dan bisa sangat berat. Tidak ada celah untuk berlindung di balik sindikat, koneksi orang dalam, atau kekuatan uang.
4. Sinergi Tiga Pilar: Bukan Sekolah Saja yang Mendidik
Salah satu keunggulan terbesar sistem pendidikan Islam adalah visinya yang menyeluruh. Islam tidak pernah membebankan tanggung jawab pembentukan generasi hanya kepada sekolah dan guru. Ia membangun tiga pilar yang bekerja secara sinergis dan searah.
Keluarga adalah madrasah pertama. Ayah dan ibu adalah guru pertama yang menanamkan akidah, adab, dan nilai-nilai kehidupan sejak anak masih dalam buaian. Islam mewajibkan orang tua mendidik anak-anaknya (quu anfusakum wa ahlikum naara — "jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka"), dan masyarakat Islam memahami ini sebagai tanggung jawab, bukan sekadar pilihan.
Masyarakat adalah lingkungan yang memperkuat nilai-nilai itu — bukan menghancurkannya. Dalam sistem Islam, masyarakat memiliki budaya amar ma'ruf nahi munkar yang aktif: saling mengingatkan, saling menjaga, dan tidak membiarkan kemungkaran berkembang tanpa teguran. Pelajar yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini tidak akan menemukan "ruang aman" untuk melakukan kekerasan atau kecurangan, karena lingkungan sosialnya sendiri akan menolak dan mengoreksi.
Negara adalah penjamin sistem. Ia memastikan bahwa seluruh kebijakan publik — pendidikan, media, hukum, ekonomi — berjalan searah menuju satu tujuan: membentuk masyarakat yang bertakwa. Tidak ada kontradiksi antara yang diajarkan di sekolah dan yang disaksikan di masyarakat. Tidak ada jurang antara nilai yang diajarkan guru dan realita yang dihadapi pelajar di jalanan.
Ketika ketiga pilar ini bergerak bersama dalam satu sistem yang utuh, hasilnya bukan sekadar generasi yang "baik-baik saja", melainkan generasi yang menjadi penggerak peradaban.
5. Bukti Sejarah: Islam Pernah Melahirkan Peradaban Ilmu Terbesar di Dunia
Ini bukan teori yang belum pernah diuji. Sejarah mencatat dengan sangat jelas bahwa ketika Islam diterapkan secara menyeluruh sebagai sistem negara, hasilnya adalah peradaban keilmuan yang menjadi rujukan dunia selama berabad-abad.
Pada masa Khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan Khalifah al-Ma'mun (813-833 M) dari Dinasti Abbasiyah, Baghdad menjadi kota paling maju di dunia. Baitul Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) yang didirikan al-Ma'mun bukan sekadar perpustakaan — ia adalah lembaga riset, penerjemahan, dan pengembangan ilmu pengetahuan lintas peradaban yang dibiayai penuh oleh negara. Di sinilah lahir nama-nama besar yang ilmunya masih kita rasakan hingga hari ini: Al-Khawarizmi, yang meletakkan fondasi aljabar dan namanya diabadikan dalam kata algorithm; Ibnu Sina (Avicenna), yang kitab Al-Qanun fit-Tibb-nya menjadi standar pendidikan kedokteran di Eropa selama lebih dari 600 tahun; Al-Biruni, yang memetakan geografi bumi dengan ketelitian yang mengagumkan; Al-Farabi, yang mengembangkan logika dan filsafat; hingga Al-Ghazali, yang memadukan keilmuan Islam dengan kedalaman spiritual. Yang perlu digaris bawahi: mereka bukan hanya cerdas secara intelektual — mereka dikenal karena kejujuran ilmiah, integritas pribadi, dan ketakwaan mereka. Tidak ada di antara mereka yang "membeli gelar" atau "menjoki ujian".
Di barat, Andalusia (Spanyol Islam) di bawah Kekhalifahan Umayyah (abad ke-8 hingga ke-11 M) menjadi mercusuar peradaban Eropa yang masih tenggelam dalam kegelapan Abad Pertengahan. Kota Cordova memiliki lebih dari 70 perpustakaan umum dan lebih dari 400.000 judul buku — pada saat sebagian besar kota-kota Eropa tidak memiliki satu pun perpustakaan. Universitas Cordova menjadi destinasi para pelajar dari Prancis, Inggris, Jerman, bahkan para biarawan dan bangsawan Kristen yang datang untuk belajar ilmu kedokteran, matematika, astronomi, dan filsafat dari para ulama Muslim. Bahasa Arab menjadi bahasa ilmu pengetahuan dunia saat itu — sebagaimana bahasa Inggris hari ini.
Di timur, Samarkand dan Bukhara (kini Uzbekistan) menjadi pusat ilmu pengetahuan yang melahirkan para cendekiawan agung seperti Al-Bukhari (ulama hadits) dan Ibnu Sina sendiri, yang tumbuh dan belajar di bawah sistem pendidikan Islam yang menjamin akses ilmu bagi siapapun.
Yang paling penting untuk digarisbawahi: dalam seluruh rentang kejayaan Islam itu, tidak kita temukan dalam catatan sejarah tentang pelajar yang membayar joki untuk lulus, mahasiswa yang mengeroyok sesama hingga tewas, atau guru yang dipenjara karena menegur muridnya. Bukan karena manusia pada zaman itu lebih suci secara alami — tetapi karena sistem yang dibangun secara konsisten membentuk, mendorong, dan melindungi karakter yang mulia. Kejayaan itu adalah buah dari sistem yang utuh, bukan kebetulan sejarah.
Penutup: Saatnya Jujur Dan Berubah
Kita tidak bisa terus-menerus merayakan Hardiknas dengan penuh kebanggaan sementara kenyataannya pendidikan kita sedang menangis. Ilham Dwi Saputra yang tewas dikeroyok, dua pelajar Bogor yang wajahnya terluka oleh air keras, ribuan peserta UTBK yang kalah bersaing dengan joki berduit, guru-guru yang takut mendidik karena terancam dipenjara — mereka semua adalah korban dari sebuah sistem yang telah lama gagal.
Sudah saatnya kita jujur: persoalan pendidikan tidak bisa diselesaikan dengan pergantian kurikulum, penambahan anggaran, atau program karakter yang bersifat kosmetik. Diperlukan perubahan sistem yang mendasar — mengembalikan pendidikan pada tujuan sejatinya, yaitu membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia, dalam bingkai sistem yang menjadikan ridha Allah sebagai tujuan dan syariat-Nya sebagai panduan.
Sejarah telah membuktikan bahwa sistem itu ada, pernah diterapkan, dan berhasil melahirkan peradaban terbaik yang pernah manusia saksikan. Pertanyaannya bukan lagi "apakah sistem itu bisa bekerja?" Pertanyaannya adalah: sudahkah kita cukup jujur dan berani untuk mengakui bahwa kita membutuhkannya?
Hardiknas bukan sekadar hari libur nasional. Ia adalah panggilan untuk berbenah — secara sungguh-sungguh, dari akar, dan dengan keberanian untuk mengubah sistem yang telah terbukti gagal ini. Wallahu a'lam.[]
*) Pemerhati Kebijakan Publik


Post a Comment