Header Ads


Hari Pendidikan Diperingati, Kualitas Pendidikan Makin Memprihatinkan

Oleh: Rasyidah*)


IndonesiaNeo, OPINI - Setiap tanggal 2 mei senantiasa dilakukan seremonial untuk memperingati hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Begitupun dengan tahun ini pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia memperingatinya menjadi peringatan momentum penting dalam dunia pendidikan nasional, pemerintah menetapkan tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.”Tema ini menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam mendukung sistem pendidikan yang inklusif dan berkualitas (TentangGuru.com, 28/4/2026).

Setiap tahunnya peringatan Hari Diknas hanyalah seremonial wajib namun refleksi masih jauh dari kata positif. Dibalik kemegahan seremonial Hari Pendidikan Nasional yang diperingati menunjukkan wajah pernikahan kita sesungguhnya sedang bersumpah air mata.

Di tengah seremonial Hari Pendidikan, segala macam bentuk kejahatan dan kesenjangan dalam dunia pendidikan yang makin amburadul. Nampak jelas bahwa PR besar dalam dunia pendidikan belum tuntas, masih banyak yang terus diperbaiki. Misal kesenjangan antara guru dan pegawai SPPG MBG sangat kelihatan bagaimana kinerja dan gaji yang mereka dapatkan. 

Belum lagi kesenjangan yang tinggi seolah guru tidak diberikan penghormatan, padahal mereka yang mendidik dan mengajarkan anak bangsa. Ditambah lagi, pernyataan menteri yang akan menutup jurusan di dunia kampus yang tidak akan relevan lagi dengan beberapa tahun kemudian, ternyata salah satunya menutup jurusan pendidikan itu sendiri, dihapuskannya guru honorer, dan masih banyak lagi para guru yang sampai saat ini mengabdi kepada bangsa namun tidak digaji.

Realitas hari ini kasus kekerasan dan pelecehan seksual makin hari makin naik yang dilakukan oleh pelajar ataupun mahasiswa. Tidak ada ruang aman di sekolah dan di kampus tidak memberikan jaminan. Disamping itu pelaku amoral yang dilakukan oleh orang-orang yang terdidik sebagai cerminan dari rusaknya moral generasi hari ini dan minimal akhlak mulia dan kepribadian orang terpelajar. Dan yang parahnya kebijakan tentang Kurikulum Pendidikan terus diganti yang pada akhirnya bukan memberikan kesempatan dan kemudahan para guru namun justru menyulitkan guru untuk menyelesaikan masalah administrasi. 

Sejatinya peringatan Hari Pendidikan Nasional ditujukan sebagai alarm keras bagi seluruh pihak terutama bagi negara untuk memperbaiki kembali kondisi buruk pendidikan hari ini. Yang jauh dari kata ideal dan sempurna. Dunia pendidikan hari ini banyak tercoreng oleh perilaku amoral para pelajar.

Kegagalan implementasi arah/peta jalan pendidikan sehingga menghasilkan pelajar yang krisis kepribadiannya, yaitu cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis, sehingga jauh dari predikat kaum intelektual yang beradab dan bermoral. 

Sistem pendidikan hari ini hanya di rancang untuk memenuhi tuntutan dunia pekerjaan sehingga jauh dari nilai-nilai islami yang lebih menitikberatkan bukan hanya pada kecerdasan intelektual tetapi juga kepribadian Islam sehingga melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas tapi berakhlak mulia. Sistem pendidikan sekuler kapitalistik menghasilkan output orang-orang yang ingin sukses instan tanpa mau berusaha secara serius, juga orang-orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang dalam jumlah besar. 

Longgarnya sanksi negara bagi pelaku pelajar (mayoritas masih di bawah umur) sehingga menoleransi kriminalitas yang dilakukan sebagai kenakalan anak semata. Tanpa ada sanksi yang tegas sehingga tidak ada efek jera bagi pelakunya. Hari ini nyawa manusia seolah tidak ada harganya di rusaknya sistem. Minimnya pendidikan nilai-nilai agama yang benar dalam pendidikan sekuler, memperlebar ruang kebebasan yang akhirnya mengikis moral dan kepribadian, bahkan mudah terseret pada tindak kejahatan dan kemaksiatan. 

Dalam Islam, pendidikan merupakan hal penting dan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Asas akidah pada sistem pendidikan Islam menghasilkan insan kamil yang cerdas sekaligus bertakwa sehingga tidak melakukan kecurangan demi meraih kesuksesan. 

Pendidikan Islam fokus pada pembentukan karakter (syakhsiyah Islamiah) dimana pelajar harus memiliki keselarasan antara pola pikir dan pola sikapnya. Pengaruhnya adalah keterikatan pelajar dengan syariat Islam. Dampaknya adalah terciptanya masyarakat yang bertakwa. Yang mengedepankan amat makruf nahi mungkar dan tersebar luas dakwah Islam.

Dengan penanaman aqidah yang kuat maka terbentuk moral yang berakhlak karena menempatkan adab diatas ilmu. Generasi yang dihasilkan memberikan prestasi gemilang. Penguasaan sain poligon karena satu tokoh ilmuwan menguasai berbagai bidang keilmuan. Islam memberikan kesempatan yang luas bagi siapapun dalam menuntut ilmu.

Kurikulum Islam mempunyai visi dan misi yang jelas, karena negara menjamin fasilitas pendidikan dari gedung hingga perangkat lunak akan menjadi prioritas. Karena sumber daya alam (SDA) dan kelola negara digunakan untuk menjamin kepentingan umat. Misi negara dalam mensejahterakan guru sebagai ujung tombak pendidikan terlihat dari gaji guru yang besar yaitu 15 dinar (1 dinar=4,25 gram emas) atau setara Rp 67.575.000 dengan 1 gram emas Rp 1.060.00. Itu terjadi saat pemerintahan Khalifah Umat bin Khattab. Bahkan menghargai karya tulis pendidik emas seberat buku yang ditulisnya. MasyaAllah.

Negara Islam akan membangun suasana hidup yang penuh ketakwaan dan mendorong setiap orang untuk berlomba dalam amal kebaikan. Sinergi pendidikan dalam keluarga, lingkungan dan sistem pendidikan Islam yang diterapkan oleh negara harus berpijak pada akidah dan syariat Islam. 

Oleh sebab itu sudah saatnya kita menerapkan kembali sistem Islam hyang bukan hanya ibadah ritual tetapi penerapannya secara menyeluruh dalam aspek kehidupan.[]


*) Pegiat Literasi

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.