Header Ads


Yang Membuat Kita Menang


Kontributor : @edgarhamas
Gen Saladin | @gen.saladin | t.me/gensaladin

"Kebenaran yang tidak terorganisir", tutur Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan serius, "akan kalah oleh kebatilan yang terorganisasir." Kaidah ini berulangkali kita dengarkan, tapi sayangnya tidak sepenuhnya kita jalani.

Kemenangan akan diberikan Allah untuk siapapun yang memang menyentang "check list" persyaratannya. Bangsa apapun itu. Peradaban manapun dia. Jika bersungguh-sungguh, jika etos kerjanya baik, dan inovasinya unggul, itulah sunnah kauniyah untuk mencapai kemenangan.

Zulkarnain, ketika dihadapkan dengan bangsa yang meminta tolong dari serangan Yajuj dan Majuj, tidak senewen dan sekadar memohon doa sambil terduduk malas. Beliau jutsru mengajarkan pada kita —sebagaimana tergores gagah dalam Al Kahfi— untuk mengorganisir sumber daya manusia dan menciptakan karya peradaban bertajub dinding super kokoh.

Umat Islam, Allah mengajarkan kita buat adil dalam segala hal, sebab itulah yang membedakan kita dari bangsa, umat dan peradaban lain; ketika dengan jelasnya Allah tunjuk kita sebagai "Ummatan wasathan" yang pertengahan. Yakni, imbang antara berpikir dan beraksi, beretorika dan terjun ke lapangan.

Yang kerja, kerja, kerja saja tanpa doa tulus pada Allah, hanya akan menguras tenaga tanpa memberikan kebahagiaan sejati. Yang berdoa, berdoa dan berdoa saja tanpa berusaha, dia berarti belum paham apa makna iman sebenarnya, karena iman adalah al qaul wa al 'amal, perkataan dan aksi.

Dalam bab keyakinan dan keimanan, kita tak punya saingan. Keyakinan pada Allah secara total akan menciptakan mental tak takut apapun selain pada-Nya, dan menggugah kesadaran kita bahwa semua hal bisa terjadi atas kehendak-Nya.

Namun dalam bab ikhtiar dan "al akhdu bil asbab", mencari sebab-sebab kauniyah untuk kemenangan, kita perlu belajar dari siapapun yang hari ini berhasil jadi sokoguru dunia. Suatu hari, dosen Fiqh kami Dr Abdullah Syarif berkata, "kenapa presiden-presiden Eropa sempat bermain golf, tapi kekayaan dunia tetap ada dalam genggaman mereka?"

Kami pun bingung. Bertanya-tanya. Apa yang mereka punya. Lalu Syaikh Abdullah Syarif menjawab, "karena mereka lebih disiplin dalam bekerja dan memanajemen waktu daripada Umat Islam. Mereka punya waktu khusus untuk bekerja dan mereka fokus bekerja. Tapi mereka menyiapkan waktu untuk rekreasi dan mereka fokus berekreasi."

Sebab-sebab kekalahan kita pun demikian. Jika kita terlalu percaya diri membawa simbol Islam, tapi hati kita tidak sejalan dengan nilai-nilainya, aksi kita tidak meneladani tata hidup Rasulullah ﷺ yang serba proporsional dalam setiap agenda hidupnya baik individu maupun masyarakat; biasanya di situlah kekalahan akan datang bahkan sebelum kita bertempur.

Di episode karier Muslimin Andalusia, suatu Idul Fitri Kaum Muslimin menerima kekalahan telak melawan koalisi pasukan Castille dan Aragon. Hanya karena mereka makan terlalu banyak di hari raya, malas-malasan menuju medan perang dan berbangga dengan jumlah besar. Seperti ini terus berulang sepanjang sejarah.

Rasulullah ﷺ memberi kita wejangan darurat untuk menyikapinya, "seorang mukmin tidak akan jatuh dua kali di lubang yang sama." Sejarah, kisah-kisah dan riwayat pendahulu sudah memberi kita gambaran bahwa kemenangan akan terjadi jika ada perpaduan antara totalitas iman pada Allah dan ikhtiar maksimal.

Kemampuan kita menjaga totalitas keyakinan pada Allah dengan amal ibadah kita, dipadu dengan mobilitas kita mengorganisir ikhtiar manusiawi yang efisien dan efektif, insyaAllah akan berujung kemenangan, cepat atau lambat.

Jarak antara realitas dan impian itulah yang bernama konsistensi dan kesabaran. Dua saudara kembar yang jadi nafas panjang para pahlawan.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.