Header Ads


ISORA 2023: Hendak Kemana Dialog Antaragama?

Ilustrasi Dialog Pluralisme


Indonesia Neo, INTERNASIONAL - Forum R20 International Summit of Religious Authorities (ISORA) baru saja berakhir pada tanggal 27-11-2023 di Jakarta. Acara pertemuan para pemimpin agama internasional ini diselenggarakan oleh PBNU. Menurut Gus Yahya, Ketua PBNU, tujuan forum ini adalah untuk menciptakan gerakan bersama yang dapat meredakan gejolak dunia saat ini yang disebabkan oleh berbagai pertentangan kepentingan global.

Para pemimpin agama yang hadir dalam Forum R20 ISORA 2023 menekankan pentingnya otoritas agama dari berbagai kepercayaan dan negara untuk menggunakan kekuatan dan pengaruh komunitas mereka masing-masing. Hal ini diharapkan dapat memengaruhi para pengambil keputusan, menghentikan konflik bersenjata di Timur Tengah, Eropa, Afrika Sub-Sahara, dan wilayah lain di dunia. Mereka juga berupaya mengembangkan mekanisme dialog dan negosiasi yang efektif untuk mencapai penyelesaian konflik secara damai (Republika, 27-11-2023).

Gus Yahya juga mengundang tokoh-tokoh Yahudi ke ISORA terkait masalah Palestina. Ia meyakini bahwa desakan kepada pemerintah Israel untuk menghentikan agresi ke Palestina melalui peran tokoh agama dari seluruh dunia dapat menjadi kunci. Harapannya adalah pesan perdamaian, penghentian agresi, dan pendudukan dapat disampaikan kepada para pemimpin negara melalui tokoh-tokoh agama yang hadir (Republika, 27-11-2023).

Sebelum ISORA, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) bersama Institut Leimena menyelenggarakan konferensi internasional lintas agama dengan tema “Martabat Manusia dan Supremasi Hukum untuk Masyarakat yang Damai dan Inklusif”. Acara ini merupakan bagian dari peringatan ke-75 Hari HAM Sedunia 2023 dan berlangsung pada 13-14 November 2023.

Dalam konferensi tersebut, Brett Scharffs, Direktur Pusat Internasional Studi Hukum dan Agama Universitas Brigham Young, Amerika Serikat, menyatakan bahwa agama, yang seharusnya menjadi alat perdamaian, kadang-kadang malah menjadi sumber konflik. Oleh karena itu, dialog antaragama menjadi penting di tengah perbedaan untuk menciptakan perdamaian dunia (Antara News, 13-11-2023).

Gagasan dialog antaragama muncul secara global setelah Prancis mengirim delegasi ke Al-Azhar, Kairo, pada tahun 1932, membahas penyatuan Islam, Kristen, dan Yahudi. Konferensi Paris (1933) kemudian diadakan dengan partisipasi orientalis dan misionaris dari berbagai negara. Ide dialog antaragama ini terkadang mencerminkan pandangan bahwa agama dapat menjadi sumber ancaman dan konflik, terutama setelah pengalaman sejarah Barat dengan perang antaragama, seperti perang Katolik-Protestan.

Dalam konteks Islam, sebelum mengadopsi gagasan dialog antaragama, seorang Muslim diharapkan untuk mempertimbangkan prinsip-prinsip hukum syarak. Ide ini muncul sebagai respons terhadap keinginan Barat untuk mempertahankan pengaruhnya di Dunia Ketiga, terutama dalam hubungan dengan Islam.

Ada pandangan dalam Islam bahwa dialog antaragama tidak seharusnya mengarah pada perubahan ajaran agama. Sebaliknya, Islam dianggap sebagai satu-satunya agama yang benar, dan ajakan kepada penganut agama lain adalah untuk kembali pada tauhid, yaitu keyakinan akan keesaan Allah. Dialog antaragama versi kapitalis, yang mengajak penerimaan atas ajaran masing-masing agama, dianggap bertentangan dengan prinsip Islam.

Beberapa pihak percaya bahwa dialog antaragama dapat menjadi sarana untuk meredakan konflik dan mencapai perdamaian dunia. Namun, sejarah menunjukkan bahwa gagasan ini belum memberikan hasil signifikan dalam menyelesaikan konflik agama. Dalam pandangan Islam, gagasan dialog antaragama dengan tujuan mendamaikan konflik antarumat beragama dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai agama.

Islam menawarkan solusi yang berbeda, yaitu melalui penerapan sistem Islam untuk mencapai perdamaian dunia. Upaya mempertemukan atau mengompromikan ajaran agama melalui dialog antaragama dianggap sia-sia oleh beberapa pihak, karena perbedaan substansial yang tidak dapat disatukan. Dalam Islam, solusi terbaik dianggap adalah kembali pada ajaran tauhid dan memeluk Islam. Dengan mempersatukan umat Islam dan menerapkan sistem Islam, konflik antarumat beragama dapat dihindari di dalam wilayah Islam.[]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.