Header Ads


Kisah Inspiratif Sa'id bin Jubair: Menolak Ancaman dan Tetap Teguh di Jalan Kebenaran

Ilustrasi dua lelaki Arab sedang berdialog


Indonesia Neo - TELADAN - Pewaris ilmu dari Abdullah bin Abbas ra. dan Abdullah bin Umar ra., Sa’id bin Jubair dikenal sebagai salah satu ulama paling alim di kalangan tabiin. Ia bersama Abdurrahman bin al-Asy’ats bersitegang dengan Khalifah Abdul Malik bin Marwan karena tindakan sewenang-wenang dan pembunuhan yang keterlaluan. Sa’id tertangkap di Makkah setelah Ibnu al-Asy’ats kalah dalam Perang Dairul Jamajim, ditangkap oleh Khalid bin Abdullah al-Qasri yang menjabat sebagai Gubernur Makkah.

Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi menghadapkan Sa’id. Saat Hajjaj bertanya, “Siapa namamu?” Sa’id menjawab, “Sa’id bin Jubair.” Hajjaj berkata, “Bukan, kamu adalah Syaqi bin Kusair.” Sa’id menanggapi, “Ibuku lebih mengetahui namaku daripada dirimu.”

Hajjaj menambahkan, “Celaka ibumu dan juga kamu.” Sa’id menjawab, “Yang mengetahui hal gaib bukanlah kamu.” Hajjaj berkata, “Sungguh, saya akan mengganti duniamu dengan api yang menyala-nyala.”

Ancaman Hajjaj tidak membuat Sa’id merasa takut. Ketika ditanya tentang pendapatnya mengenai Rasulullah ﷺ, Sa’id dengan yakin menyatakan bahwa Nabi ﷺ adalah pemimpin penuh kasih sayang dan petunjuk.

Pada suatu momen, Hajjaj mengajukan banyak pertanyaan kepada Sa’id. Sa’id pun menjawabnya dengan kata-kata yang menghujam dan meyakinkan. Berikut petikan dialognya.

Hajjaj: “Apa pendapatmu mengenai Ali? Apakah ia di surga atau di neraka?”

Sa’id: “Jika engkau telah masuk ke neraka dan mengetahui siapa saja yang berada di dalamnya, pastilah engkau mengetahui penduduk neraka.”

Hajjaj: “Apa pendapatmu mengenai para khalifah?”

Sa’id: “Saya bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.”

Hajjaj: “Siapakah di antara mereka yang paling engkau sukai?”

Sa’id: “Orang yang paling diridai oleh Sang Penciptaku.”

Hajjaj: “Siapa orang yang paling diridai oleh Sang Pencipta?”

Sa’id: “Pengetahuan mengenai hal ini ada di sisi Zat yang mengetahui rahasia bisikan mereka.”

Hajjaj: “Saya ingin engkau jujur kepadaku.”

Sa’id: “Jika saya tidak menjawab pertanyaanmu, berarti saya tidak berdusta kepadamu.”

Hajjaj: “Mengapa engkau tidak tertawa?”

Sa’id: “Bagaimana seorang makhluk yang diciptakan dari tanah bisa tertawa, sedangkan tanah dapat dilahap api?”

Hajjaj: “Bagaimana dengan kami yang bisa tertawa?”

Sa’id: “Hati manusia tidaklah sama.”

Hajjaj ingin merayu Sa’id dengan kesenangan materi duniawi. Ia meminta bawahannya agar mengumpulkan mutiara, zamrud, dan permata ke hadapannya. Tujuannya untuk membujuk Sa’id agar lebih lunak dalam menyampaikan kritik pada masa pemerintahannya.

Sa’id berkata kepada Hajjaj, “Jika engkau mengumpulkan semua ini agar terlindungi dari ketakutan pada hari kiamat, itu bagus. Jika tidak demikian, hal ini akan menjadi sebuah teror, bagaikan semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya. Tidak ada kebaikan sedikit pun dalam sesuatu yang dikumpulkan hanya untuk dunia, kecuali harta yang baik dan dizakati.”

Kemudian, Hajjaj menyuruh agar diambilkan alat musik gambus dan seruling. Ketika kecapi itu dimainkan dan seruling ditiup, Sa’id menangis, lalu Hajjaj bertanya, “Apa yang membuatmu menangis? Apakah permainan musik ini?”

Sa’id menjawab, “Yang membuatku menangis ialah kesedihan. Tiupan tersebut mengingatkanku akan hari agung, yaitu hari ketika sangkakala ditiup. Sedangkan kecapi tersebut berasal dari pohon yang ditebang tanpa hak, tali senarnya berasal dari kulit kambing yang akan dibangkitkan bersamanya pada hari kiamat.”

Hajjaj berkata, “Celakalah engkau, Sa’id!” Sa’id menimpali, “Tidak ada celaka bagi orang yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.”

Kemudian Hajjaj berkata, “Pilihlah, Sa’id!” (maksudnya, pilihlah dengan cara apa saya membunuhmu?). Ia menjawab, “Terserah kamu sendiri, hai Hajjaj! Demi Allah, engkau tidak akan membunuhku, melainkan Allah Swt. pasti akan membunuhmu dengan cara yang sama di akhirat.”

Hajjaj berkata, “Apakah kamu ingin saya ampuni?” Ia menjawab, “Sesungguhnya ampunan ialah dari Allah Swt., sedangkan kamu tidak mempunyai hak membebaskan dan memberi ampunan.”

Hajjaj berkata kepada tentaranya, “Bawalah ia pergi, lalu bunuhlah!” Ketika Sa’id dibawa keluar, ia tertawa. Hajjaj diberitahu mengenai hal ini, lalu Sa’id dibawa kembali lagi.

Hajjaj bertanya, “Apa yang membuatmu tertawa?” Ia menjawab, “Saya takjub pada kelancanganmu terhadap Allah Swt. dan kesabaran-Nya terhadapmu.”

Hajjaj berkata, “Bunuhlah ia!” Selanjutnya, Sa’id mengucapkan, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS Al-An’am: 79).

Hajjaj berkata, “Hadapkanlah wajahnya ke selain arah kiblat.” Kemudian Sa’id mengucapkan, “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain.” (QS Thaha: 55).

Hajjaj berkata, “Sembelihlah ia!” Sa’id berkata, “Sesungguhnya saya bersaksi bahwa tiada Ilah yang benar, selain Allah Yang Esa. Tiada sekutu baginya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Ambillah dariku sampai engkau bertemu denganku pada hari kiamat.”

Kemudian Sa’id berdoa, “Ya Allah! Janganlah engkau memberinya kesempatan untuk membunuh seorang pun setelahku.”

Sa’id terbunuh pada Sya’ban, 96 H, sedangkan Hajjaj meninggal dunia pada Ramadan, pada tahun itu juga. Allah Swt. tidak memberinya kesempatan membunuh seorang pun setelah Sa’id, hingga ia meninggal dunia.

Sa’id bin Jubair, sosok tabiin pemilik hafalan Al-Qur’an yang kuat. Ia sangat mengenal ilmu tafsir, sebagaimana ia juga orang yang paling memahami hadis, halal, dan haram. Seorang ulama tabiin, Wafa’ bin Iyas menjadi saksi kemuliaan Sa’id.

Pada waktu itu, Sa’id memberi pesan kepada Wafa’ yang isinya, “Pertahankanlah untuk terus membaca Al-Qur’an.” Bahkan, ia melakukan rutinitas kehidupannya bersama Al-Qur’an. Sa’id berkata, “Saya membaca Al-Qur’an secara keseluruhan di dalam dua rakaat salat sunah di Baitullah yang mulia.”

Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Sa’id ialah keteguhannya menghadapi penguasa zalim. Jawabannya penuh hikmah, bahkan mengalahkan kekejaman penguasa saat itu. Ia tidak ragu dan takut, walaupun kematian di depan mata. Ini karena bagi Sa’id, rida Allah dan Rasul-Nya adalah perbekalan untuk kehidupan akhiratnya.

Karakter inilah yang harus dimiliki seorang pengemban dakwah. Tidak gentar walau dihina dan tidak takut meski dicela. Tidak bermanis muka di hadapan penguasa zalim. Tetaplah teguh dan istikamah menyampaikan kebenaran meski permusuhan dan kebencian yang kita dapatkan. Ini karena kebenaran akan selalu terang benderang di tengah gelombang fitnah akhir zaman.

Jadikan Allah Taala sebagai sumber kekuatan agar kita senantiasa diberikan keteguhan layaknya Sa’id bin Jubair dalam mengemban risalah Islam hingga akhir hayat.[]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.