Header Ads


Pemuda antara Kegelapan atau Kegemilangan Masa Depan

Oleh : Zayyan Abdurrahman*)


Pemuda memilki peranan sangat penting di dalam pembangunan suatu negara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah pemuda di Indonesia sebanyak 64,19 juta jiwa atau 24,02% dari total penduduk yaitu satu di antara empat orang Indonesia adalah pemuda.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy mengatakan bahwa keberhasilan pembangunan pemuda menjadi salah satu kunci sukses dalam memanfaatkan bonus demografi.

“Sebagai  generasi penerus bangsa, pemuda harus mempunyai pengetahuan, keterampilan, karakter, dan jiwa patriotisme,” ujarnya saat menjadi pembicara pada Dialog Nasional Pemuda Tahun 2020 yang digelar secara daring oleh Bappenas. 

Namun, jika melihat realita pemuda saat ini begitu miris. Perilaku mereka sangat minim visi, para pemuda sibuk mengejar duniawi dan eksistensi diri. Melansir dari detik news, sebanyak  266 remaja berstatus pelajar SMP dan SMA Diponegoro mengajukan dispensasi nikah. Rata-rata jenis perkaranya  adalah hamil di luar nikah.

Pengadilan Tinggi Agama Semarang Jawa Tengah juga mencatatat ada 11.392 kasus dispensasi nikah selama tahun 2022. Sebagian besar hamil di luar nikah. Kemudian darı 405 kehamilan yang tidak direncanakan 95% dilakukan oleh remaja usia 15-25 tahun, sedangkan angka aborsi di Indonesia mencapai 2.5 juta kasus. 

Inilah potret betapa buruknya generasi produk sistem Demokrasi Sekulerisme, sistem yang sedang diterapkan di negeri ini. Sistem ini membuat remaja memisahkan agama dari kehidupan, agama tidak dijadikan lagi petunjuk dalam berfikir dan bertingkah laku. Para pemuda berjalan mengikuti hawa nafsunya sehingga mereka menyibukkan diri untuk mengejar eksistensi diri, popularitas, memburu kesenangan fisik, hiburan dan nilai nilai materialistik. Dan hal ini makin parah, ketika negara juga tidak punya visi penyelamat generasi. Negara Demokrasi yang menggaungkan kebebasan, berlepas tangan dari tanggung jawabnya menjaga generasi atas nama HAM. Negara Demokrasi hanya mencukupkan diri pada upaya-upaya pragmatis. 

Belum pernah ada peradaban yang paling merusak dalam sejarah manusia selain peradaban Barat sekarang, yakni Demokrasi. Kenapa? Karena peradaban Barat itu peradaban sekuler, peradaban yang membuang Tuhan.

Peradaban yang sebenarnya merusak ini, isinya berupa peradaban syahwat, yang dipuja 4 hal: kekuasaan, kekayaan, kecantikan dan popularitas. Empat ini yang dipuja, dituhankan, persis seperti di zaman jahiliyah.

Di zaman jahiliyah mereka lebih memuliakan atau menyukai penyanyi,penghibur, kemudian yang punya banyak pasukan, keturunan bangsawan, yang kaya, itu yang dihormati.

Sementara dalam sistem Islam, tidaklah demikian, karena konsepnya sudah berubah, Al-Quran turun mengubah konsep peradaban itu, islam tidak memuja semua itu, tapi yang dihormati adalah takwa,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"Sesungguhnya orang yang paling mulia dinantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu." (Qs. Al-Hujurat Ayat 13)

Sangat jauh berbeda dengan sistem Islam yang disebut dengan Khilafah dalam menjaga generasi. Islam memandang kualitas pemuda sangat penting dalam eksitensi pradaban Islam. 

Oleh karena itu Islam memerintahkan semua pihak untuk mendidik para pemuda agar mereka menjadi sosok yang berkualitas untuk kemuliaan Islam dan bermanfaat bagi umat. Dari lingkungan terkecil, Islam memerintahkan orang tua agar mendidik anak mereka dengan akidah Islam. Akhirnya jiwa-jiwa mereka terpupuk kerinduan menyerahkan dirinya untuk kemuliaan Islam. Masyarakat Islam memiliki budaya amar ma'ruf nahi munkar. Mereka tidak akan membiarkan kemaksiatan terjadi. 

Sedangkan negara berperan untuk menjaga generasi secara komunal. Khilafah akan menerapkan sistem pendidikan Islam yang outputnya akan melahirkan generasi yang memiliki kepribadian Islam yakni memiliki pola pikir dan pola sikap sesuai dengan syariat Islam. Mereka juga akan dibekali ilmu-ilmu duniawi agar survive dalam kehidupan. Alhasil para generasi akan tersibukkan dengan aktivitas-aktivitas untuk kemuliaan Islam. 

Kemudian juga didukung oleh sistem pergaulan Islam dan media dalam Islam. Ketika ada yang bermaksiat, seperti melakukan tawuran, maka khilafah akan memberikan sanksi kepada para remaja tersebut. Jika remaja tersebut sudah baligh, maka dia akan diberi sanksi. Jika mereka berbuat onar, maka akan mendapatkan sanksi ta'zir. Jika melakukan penganiayaan, atau pembunuhan, maka akan mendapatkan sanksi qishas. Sanksi Islam yang diterapkan oleh Khilafah akan memberi efek jera dan penebus dosa sekaligus sebagai efek pencegah. Alahasil tidak ada celah sedikitpun untuk melakukan tindak kejahatan kekerasan, dan maksiat lainnya. 

Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna, yang mengatur sendi kehidupan manusia, bahkan mampu mencetak generasi muda dengan tinta emas. Maukah kita mengambil Islam sebagai aturan kehidupan? []


*) Aktivis Gema Pembebasan Kota Baubau

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.