Krisis Kesehatan Jiwa Anak, SKB 9 Menteri Apakah Jadi Solusi?
Oleh: Miftahul Jannah S.Si*)
IndonesiaNeo, OPINI - Penandatanganan SKB (Surat Keputusan Bersama) tentang Kesehatan Jiwa Anak telah dilakukan oleh 9 menteri dan kepala lembaga di Jakarta, Kamis 5 Maret 2026. Ini adalah langkah serius pemerintah untuk menangani isu kesehatan mental anak di Indonesia yang terus meningkat. (Antaranews.com 5/3/2026)
Berdasarkan Global School-Based Student Health Survey, persentase siswa yang berpikir untuk bunuh diri 5,4% pada 2015 menjadi 8,5% pada 2023. Sementara persentase siswa yang mencoba bunuh diri meningkat lebih tajam dari 3,9% menjadi 10,7% dalam periode yang sama. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menunjukkan terdapat 115 kasus bunuh diri anak pada periode 2023–2025. Dengan rentang usia 11–17 tahun (cnbcindonesia.com 9/3/2026)
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menjelaskan bahwa tren kasus kesehatan jiwa terus meningkat pada anak dan jika disimak dari faktor risikonya ini multisektor tidak bisa ditangani oleh satu kementerian saja. Untuk itu pihak yang ikut meneken SKB ini meliputi Menteri PPPA, Menteri Kesehatan, Menteri Komunikasi dan Digital, Menteri Sosial, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga serta perwakilan Kapolri.
Menko Pratikno menyoroti peran masing-masing sektor kementerian dan lembaga itu untuk bisa mengatasi isu kesehatan jiwa anak-anak mulai dari masalah keluarga, sekolah sampai paparan terhadap konten di media sosial. Oleh karenanya perlu kebijakan di kementerian dan lembaga yang komprehensif untuk diimplementasikan. Baik promotif, preventif dan kuratif.
Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi faktor penyebab tingginya kasus kesehatan mental pada anak bersumber dari lingkungan keluarga. Masalah pola asuh, konflik orang tua, kurang kasih sayang menjadi pemicu rapuhnya mental anak. Setelah keluarga, lingkungan sosial dan pendidikan menjadi penyebab isu kesehatan mental anak. Di sekolah anak menghadapi perundungan dan tekanan akademik. Budi Gunadi menekankan perlunya perbaikan pola asuh dalam keluarga dan sekolah harus menjadi tempat yang sehat di mana bullying tidak mendapatkan tempat sedikit pun.
Jika ditelaah lebih dalam, patut untuk diberi perhatian mengapa keluarga yang harusnya memberi rasa aman pada anak malah menjadi penyebab krisis kesehatan jiwa pada anak? Banyak fakta menunjukkan ayah dan ibu yang sering berkonflik akan berdampak pada pola asuh dan kasih sayang kepada anak. Dan ternyata konflik rumah tangga di antaranya dipengaruhi oleh masalah keuangan, perbedaan pendapat, kurangnya komunikasi serta tingginya tekanan hidup. Dan bila ditelaah lebih jauh semua itu terjadi akibat buah dari penerapan sistem kehidupan yang meminggirkan nilai agama (sekuler), mengagungkan kebebasan (liberal) serta kehidupan yang kapitalistik. Bukan hanya di lingkungan keluarga, paradigma sekuler liberal kapitalis juga telah merasuk di tengah masyarakat. Akibatnya nilai agama (Islam) semakin terpinggirkan sementara nilai sekuler semakin mendominasi.
Lingkungan keluarga yang harusnya berpijak pada akidah Islam dan memberi ruang aman bagi anak bergeser menjadi tempat yang penuh tekanan. Begitu pun juga sekolah yang sejatinya mengajarkan nilai-nilai agama dan syariat, sekarang berfungsi sebagai lembaga yang mencetak peserta didik yang hanya cakap secara akademis tapi minim adab, karakter dan jauh dari sosok berkepribadian Islam. Lingkungan masyarakat dan negara pun memiliki cara pandang yang sama hal ini bisa dilihat bagaimana dominasi informasi yang sekuler liberal serta kapitalistik membanjiri berbagai platform media sosial maupun media elektronik lainnya.
Sistem kehidupan yang sekuler ini tidak layak terus dipertahankan justru harus dijadikan musuh bersama. Karena dialah yang menjadi akar permasalahan problem kesehatan mental anak maupun problem lainnya. Oleh karenanya penandatanganan SKB 9 kementerian hanya akan menyentuh permukaan saja tanpa menyentuh persoalan mendasarnya. Maka upaya mendasar yang harus dilakukan adalah dengan mewujudkan sistem lain yang berasal dari Allah Sang Pencipta alam semesta. Sistem ini adalah sistem Islam, sistem sempurna yang memiliki seperangkat aturan kehidupan.
Keberhasilan penerapan sistem Islam telah banyak ditunjukkan dalam sejarah. Dalam perjalanannya Islam telah berhasil mewujudkan peradaban gemilang selama lebih dari 1400 tahun. Banyak ahli sejarah yang mengakuinya dan sisa-sisa kegemilangan peradaban Islam masih bisa kita rasakan sampai sekarang. Bukan hanya secara historis, secara realitas sekarang, sistem sekuler kapitalis telah menunjukkan kerusakannya. Banyak problem kehidupan muncul akibat penerapan sistem ini. Dan secara perintah agama, penerapan sistem Islam adalah kewajiban bagi muslim. Yang ketika dilaksanakan, maka kerahmatannya bukan hanya untuk muslim bahkan untuk nonmuslim dan seluruh alam.
Penerapan sistem Islam butuh negara. Negara akan menjalankan tanggung jawab sebagai raain (pelayan) dan junnah (perisai) bagi rakyatnya. Negara akan melindungi keluarga dari kerusakan nilai sekuler liberal. Dimulai dari orang tua yang harus paham kewajibannya. Ayah bertugas mencari nafkah, ibu sebagai madrasatul ula, dan ada hubungan persahabatan di antara keduanya. Negara akan memastikan tersedianya lapangan pekerjaan sehingga semua ayah akan mampu menafkahi keluarganya dengan baik. Negara juga menjamin tersedianya sarana pendidikan, kesehatan dan keamanan gratis dan berkualitas untuk semua rakyatnya, bukan hanya untuk yang miskin saja tapi merata untuk seluruh rakyat. Sehingga beban kebutuhan keluarga akan banyak dibantu oleh negara.
Negara juga mewujudkan sistem pendidikan yang berasaskan akidah Islam. Sekolah memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan peserta didik yang bukan hanya menguasai tsaqofah Islam dan menguasai IPTEK tapi juga membentuk orang-orang yang berkepribadian Islam. Negara juga memastikan sistem lain juga berlandaskan Islam seperti sistem ekonomi, sistem sosial, sistem sanksi, sistem peradilan, dll. Maka dengan penerapan yang integral pada semua bidang akan mampu menyelesaikan problem kesehatan mental anak dan problem kehidupan lainnya. Wallahu'alam.[]
*) Aktivis Muslimah


Post a Comment