Ketika Ujian Datang, Hanya Allah Sebaik-baik Sandaran
Oleh: Tyas Ummu Amira*)
IndonesiaNeo, OPINI - Di kala ujian menyapa kadang hati dirundung gelisah dan kecewa. Besar kecil ujian tergantung kadar keimanan dalam diri setiap orang. Jika kita melihat orang yang kadar keimanannya dua puluh empat karat atau menuju level tertinggi maka, akan berbeda dengan orang tingkatan di bawahnya. Hal ini menunjukkan atau bisa dikatakan berarti jika orang yang taat beribadah maka dia akan berbeda dengan ahli maksiat.
Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu beberapa derajat atas sebagian (yang lain) untuk menguji kamu atas apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat hukuman-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am: 6:165).
Dari sini kita sadar hanya Allah SWT yang tahu seberapa tinggi level kita terhadap keimanan kepada-Nya serta akan meninggikan derajatnya. Di balik ujian yang menerpa seorang hamba ada jalan sunyi untuk keluar darinya, yakni dengan bersandar semua permasalahan atau ujian hanya kepada-Nya. Ya benar, tempat sebaik-baik sandaran dan harapan yang tak pernah mengecewakan serta memberikan pertolongan.
Sebagaimana dalam firman-Nya:
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 2:214).
Jika manusia jatuh atau pada fase beban masalah hidup terasa berat, tak sedikit mengeluh bahkan mengumpat kepada Allah. Dan tidak jarang menyalahkan takdir yang telah Allah tetapkan. Dalam konteks ujian, ujian terberat juga bisa kita lihat pada saat kita sedang berada pada titik mendapatkan waktu sehat, harta berlimpah, serta kekuasaan akan tetapi terlenakan dengan kenikmatan dunia serta merasa tenang meskipun dalam kemaksiatan. Inilah yang paling bahaya, sering disebut-sebut dengan istidraj yang artinya pemberian kenikmatan dari Allah SWT kepada orang-orang yang sebenarnya sedang dimurkai-Nya. Kenikmatan tersebut bisa berupa harta melimpah, kedudukan tinggi, keberhasilan duniawi, atau kehidupan yang tampak sempurna.
Ujiannya pun juga beragam sebagaimana dalam Surat Al-Baqarah ayat 155, yang berbunyi:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ
Artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
Ujian kita tidak sebanding sebagaimana yang dialami oleh para nabi dan rasul. Rasulullah SAW bersabda: “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang setelahnya.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menegaskan bahwa beratnya ujian bukan tanda murka Allah, melainkan bukti cinta dan pemilihan.
Salah satunya Nabi Nuh ‘alaihis salam diuji selama ratusan tahun berdakwah tanpa hasil yang sebanding. Ia dihina, ditolak, bahkan didustakan oleh kaumnya, termasuk sebagian keluarganya sendiri. Al-Qur’an menggambarkan kesabaran beliau dalam firman Allah: “Maka Nuh tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun…” (QS. Al-‘Ankabut: 14). Ujian ini mengajarkan bahwa tugas seorang hamba adalah berusaha dan taat, sementara hasil sepenuhnya berada di tangan Allah. Islam
Ujian adalah bukti rasa cinta Allah kepada hamba-Nya, dengan diuji berbagai kesulitan, ketakutan, dan lain sebagainya apakah dia masih menyembah-Ku, beriman kepada-Ku, atau sebaliknya. Sebagaimana orang yang akan naik kelas pasti ada ujian yang akan ditempuh sesuai kapasitas dan level masing-masing. Jika dia lulus dalam ujian pertama maka akan dinaikkan derajatnya dan naik kelas, dan seterusnya. Di lain sisi juga menggugurkan dosa-dosanya hingga dia pulang menghadap Allah tanpa membawa dosa. Sebagaimana kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian berlebihan, tempuhlah kejujuran dan perbaikilah dirimu. Sesungguhnya setiap musibah yang menimpa seorang muslim itu adalah sebagai penghapus dosa, termasuk pula jika ia terantuk batu ataupun tertusuk duri.” Muslim berkata; “Dia adalah Umar bin Abdurrahman bin Muhshin dari penduduk Makkah (HR. Muslim No. 4671).
Maka dari itu sahabat yang dimuliakan Allah semoga kita tetap bersabar dalam berdamai dengan semua qadha Allah. Dan jadikanlah Allah sebagai sebaik-baik sandaran.
Waalahu a’lam bishawab.[]
*) Pemerhati Anak dan Remaja


Post a Comment