Tragedi di Lahat: Ketika Kecanduan Judol Menggerus Nurani Seorang Anak
Oleh: Solehah Ummu Syakila*)
IndonesiaNeo, OPINI - Peristiwa tragis yang terjadi di Lahat, di mana seorang anak tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri, menjadi tamparan keras bagi kita semua (metrotvnews.com, 9/04/2026).
Judi online bukan sekadar hiburan digital. Ia adalah jebakan yang secara perlahan menggerogoti akal sehat, emosi, hingga nilai-nilai kemanusiaan seseorang. Akses yang mudah melalui ponsel, iming-iming kemenangan instan, serta tekanan ekonomi sering kali membuat seseorang terjerumus semakin dalam. Ketika sudah kecanduan, logika menjadi tumpul dan empati bisa lenyap.
Kasus di Lahat ini menunjukkan betapa dahsyatnya dampak kecanduan tersebut. Seorang anak yang seharusnya menjadi pelindung dan kebanggaan orang tua, justru berubah menjadi pelaku kekerasan paling keji. Ini bukan hanya soal kriminalitas, tetapi juga kegagalan dalam mengendalikan diri dan lemahnya benteng moral akibat pengaruh adiksi.
Lebih jauh lagi, fenomena ini tidak bisa dilihat sebagai kesalahan individu semata. Ada faktor lingkungan, kurangnya pengawasan, serta minimnya edukasi tentang bahaya judi online. Banyak keluarga yang belum menyadari tanda-tanda kecanduan sejak dini, sementara negara pun masih menghadapi tantangan besar dalam memberantas praktik judol yang terus bermunculan.
Tragedi ini seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak. Orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, masyarakat harus berani peduli, dan pemerintah harus lebih tegas dalam menutup akses serta menindak pelaku industri judi online. Edukasi mengenai literasi digital dan kesehatan mental juga menjadi kunci penting agar generasi muda tidak mudah terjerumus.
Pada akhirnya, kasus ini bukan sekadar berita kriminal, melainkan cerminan krisis yang lebih dalam. Jika kita tidak segera bertindak, bukan tidak mungkin tragedi serupa akan kembali terulang. Kita harus sadar bahwa kecanduan judol bukan hanya merusak individu, tetapi juga bisa menghancurkan keluarga—bahkan menghilangkan nyawa.
Dalam pandangan Islam, peristiwa tragis seperti yang terjadi di Lahat bukan hanya dipandang sebagai tindakan kriminal, tetapi juga sebagai bentuk penyimpangan serius dari nilai-nilai keimanan dan kemanusiaan.
Pertama, Islam dengan tegas mengharamkan judi dalam bentuk apa pun, termasuk judi online. Dalam Al-Qur’an (QS. Al-Ma’idah: 90), Allah menyebut judi sebagai perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan yang harus dijauhi. Hal ini karena judi dapat menimbulkan permusuhan, kebencian, serta melalaikan manusia dari mengingat Allah dan menjalankan kewajibannya.
Kedua, tindakan membunuh, apalagi terhadap orang tua kandung, merupakan dosa besar yang sangat berat. Dalam Islam, berbakti kepada orang tua (birrul walidain) adalah kewajiban utama setelah menyembah Allah. Bahkan berkata kasar saja sudah dilarang, apalagi sampai melakukan kekerasan. Perbuatan tersebut jelas bertentangan dengan ajaran Islam dan termasuk dalam dosa besar yang ancamannya sangat berat di akhirat.
Dari sudut pandang ini, kecanduan judi online bisa dilihat sebagai pintu masuk menuju kerusakan moral yang lebih besar. Ketika seseorang sudah dikuasai hawa nafsu dan kecanduan, ia bisa kehilangan kendali diri hingga melakukan hal-hal yang di luar batas kemanusiaan dan ajaran agama.
Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga diri dari hal-hal yang merusak (hifzun nafs dan hifzun ‘aql), serta menutup pintu-pintu yang bisa membawa kepada keburukan. Oleh karena itu, menjauhi judi bukan hanya soal hukum halal-haram, tetapi juga upaya menjaga akal, keluarga, dan kehidupan sosial.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa lemahnya iman dan kurangnya pengendalian diri dapat membawa seseorang pada kehancuran. Islam mendorong umatnya untuk memperkuat iman, memperbanyak dzikir, menjauhi lingkungan yang buruk, serta mencari bantuan jika menghadapi kecanduan atau tekanan hidup.
Akhirnya, pendekatan Islam tidak hanya menghukum, tetapi juga mengajak untuk introspeksi dan perbaikan. Masyarakat diharapkan saling mengingatkan dalam kebaikan, keluarga memperkuat pendidikan agama, dan individu berusaha mendekatkan diri kepada Allah agar terhindar dari perbuatan yang merusak diri sendiri dan orang lain.[]
*) Pegiat literasi


Post a Comment