Header Ads


Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Ketika Pendidikan Kehilangan Arah dan Harapan Perlu Diperbaiki

Oleh: Murni Sari S.AB, M.M*)


IndonesiaNeo, OPINI - Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Momen ini seharusnya jadi waktu untuk benar-benar merenung: sudah sejauh mana pendidikan kita berjalan? Apakah sudah membentuk generasi yang cerdas sekaligus berkarakter? Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Peringatan ini kerap berhenti di seremoni—upacara, pidato, dan slogan—tanpa diiringi perubahan nyata. Sementara itu, berbagai masalah di dunia pendidikan terus muncul, bahkan terasa semakin mengkhawatirkan.

Kalau kita melihat fakta di lapangan, situasinya memang tidak bisa dianggap sepele. Kasus kekerasan di kalangan pelajar semakin sering terjadi, bahkan dengan tingkat brutalitas yang tinggi. Seorang pelajar di Bantul, misalnya, meninggal dunia setelah dikeroyok dan dilindas, sebagaimana diberitakan oleh kumparan dan tvOne News. Di Bandung, enam pelajar justru menjadi tersangka dalam kasus kematian siswa SMA (Kompas.id). Di Bogor, dua pelajar disiram air keras hingga mengalami luka serius di wajah (Detik.com). Bahkan, dalam waktu tiga bulan saja, tercatat 233 kasus kekerasan di dunia pendidikan (Kompas.id). Angka ini menunjukkan bahwa sekolah dan kampus belum benar-benar menjadi tempat yang aman.

Masalahnya tidak berhenti di situ. Kecurangan akademik juga semakin menjadi hal yang “biasa”. Kasus joki UTBK di Surabaya dengan bayaran hingga Rp100 juta (Kompas.id) jadi contoh nyata bagaimana sebagian pelajar lebih memilih jalan instan daripada proses yang jujur. Plagiarisme, mencontek, hingga manipulasi nilai juga masih sering terjadi. Di sisi lain, muncul fenomena yang dulu mungkin sulit dibayangkan: pelajar berani menghina guru, bahkan melaporkan guru ketika ditegur atau dihukum. Ditambah lagi dengan meningkatnya penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa, kondisi ini makin memperlihatkan adanya krisis adab dan moral.

Semua ini seharusnya jadi peringatan keras. Hari Pendidikan Nasional tidak cukup hanya dirayakan, tapi harus dijadikan titik balik. Ada yang keliru dalam sistem yang kita jalankan. Pendidikan saat ini cenderung lebih fokus pada nilai, gelar, dan hasil akhir, dibandingkan proses pembentukan karakter. Tidak heran jika kemudian lahir generasi yang cerdas secara akademik, tapi rapuh secara moral.

Pengaruh pola pikir instan juga tidak bisa dilepaskan dari sistem yang ada. Ketika kesuksesan diukur dari materi dan hasil cepat, maka cara-cara yang ditempuh pun sering kali mengabaikan nilai benar dan salah. Ditambah lagi, sanksi terhadap pelajar yang melakukan pelanggaran sering kali dianggap terlalu lunak karena dilabeli sebagai “kenakalan remaja”. Akibatnya, ada kesan bahwa tindakan salah tidak membawa konsekuensi serius. Di sisi lain, pendidikan agama yang seharusnya menjadi pondasi justru belum tertanam kuat, sehingga banyak pelajar kehilangan arah dalam menentukan batasan perilaku.

Dalam pandangan Islam, pendidikan bukan sekadar urusan sekolah atau kampus, tapi bagian penting dari kehidupan yang harus dijamin oleh negara. Tujuan pendidikan tidak hanya membuat seseorang pintar, tapi juga membentuk pribadi yang utuh—cerdas sekaligus bertakwa. Seluruh proses pendidikan harus berangkat dari akidah, sehingga apa yang dipelajari tidak lepas dari tujuan hidup sebagai hamba Allah. Seperti yang difirmankan Allah SWT, 

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Artinya, belajar pun seharusnya menjadi bagian dari ibadah, bukan sekadar mengejar nilai atau pekerjaan.

Islam juga sangat menekankan pentingnya karakter. Ilmu tidak boleh berhenti di kepala, tapi harus terlihat dalam sikap dan perilaku. Inilah yang disebut sebagai syakhsiyah Islamiyah kesatuan antara cara berpikir dan cara bersikap. 

Allah SWT mengingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. As-Saff: 2–3). Ayat ini terasa sangat relevan, terutama ketika banyak orang tahu mana yang benar, tapi tidak melakukannya.

Selain itu, Islam juga mengatur adanya sanksi yang tegas bagi pelanggaran. Tujuannya bukan untuk menghukum semata, tapi untuk menjaga agar masyarakat tetap aman dan tertib. Bahkan Allah SWT berfirman, “Dan dalam qisas itu ada kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah: 179). Artinya, ketegasan hukum justru melindungi kehidupan dan mencegah kerusakan yang lebih besar.

Tidak kalah penting, negara dalam sistem Islam berperan menciptakan lingkungan yang mendukung kebaikan. Suasana yang dibangun adalah suasana yang mendorong orang untuk berlomba dalam kebaikan, bukan dalam hal-hal yang merusak. Allah SWT berfirman, “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan” (QS. Al-Baqarah: 148). Dalam lingkungan seperti ini, pelajar akan terdorong untuk berprestasi dengan cara yang sehat dan benar.

Pada akhirnya, pendidikan tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah. Keluarga, lingkungan, dan negara harus berjalan bersama. Keluarga menjadi tempat pertama anak belajar nilai, lingkungan memperkuat kebiasaan, dan negara memastikan sistemnya mendukung arah yang benar. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim: 6), yang menegaskan bahwa tanggung jawab pendidikan adalah tanggung jawab bersama.

Refleksi Hari Pendidikan Nasional seharusnya membawa kita pada satu kesadaran: ada yang perlu diperbaiki secara mendasar. Jika tidak, kita akan terus mengulang masalah yang sama dari tahun ke tahun. Namun jika ada keseriusan untuk membenahi, harapan itu tetap ada melahirkan generasi yang tidak hanya pintar, tapi juga berakhlak, jujur, dan punya arah hidup yang jelas.[]


*) Dosen Politeknik Baubau

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.