Header Ads


Pertarungan Aang vs Ozai, Tadabbur Fathu Makkah dan Imajinasi Pembebasan Al Aqsha



IndonesiaNeo, TARIKH - Kita semua sepakat Avatar Korra jelek banget. Tapi kita juga setuju bahwa Avatar Aang plotnya bagus. Tapi ini bukan tentang Avatar saja. Semakin kita besar, kita sadar bahwa upaya Aang bersama kawan-kawannya adalah ikhtiar untuk membebaskan dunia dari penjajahan. Negara Api menyalahgunakan kekuatannya untuk menebar ketakutan. Mirip jigongnis.

Puncak perjuangan melawan imperialisme negara api itu adalah ketika Aang akhirnya menghadapi final boss: Firelord Ozai. Aang yang berasal dari Air Nomad yang dibantai habis-habisan, akhirnya datang momentum bertemu dengan pelaku genosida itu. Ozai ini banyak miripnya dengan penjajah hari ini: haus kekuasaan, dingin dan minim empati, serta manipulatif. Ia tak pernah merasa bersalah. Ia menganggap dirinya lah kebenaran itu.

Tapi apakah Aang melawan kekerasan dengan darah? Apakah ia mengalahkan Ozai dengan cara yang barbar sebagaimana Air Nomad dibantai dengan cara barbar? Aang justru merasa bahwa mengalahkan Ozai tidak bisa dengan cara Ozai. Itu bertentangan dengan nilai hidupnya. Pada akhirnya, Aang menggunakan teknik kuno bernama energybending untuk menghilangkan kemampuan bending Ozai. Hasilnya: Ozai tetap hidup. Tapi ja kehilangan kekuatan api dan kemampuan mendominasi dunia.

Tahukah engkau? Di dunia nyata, Aku jadi ingat sama cara pandang yang serupa. Ketika dulu Libya dijajah Italia, suatu kali mujahid berhasil menawan beberapa serdadu musuh. Salah seorang komandan ingin membalas dendam kepada serdadu yang telah membantai keluarganya. Tapi Sang Legend bernama Umar Mukhtar menasihati, "kita ini bukanlah mereka. Kita adalah muslim. Kita ikuti cara Rasulullah." Dahsyat!

Sebab dulu Rasulullah ï·º adalah contoh paling nyata dan keren tentang seseorang yang sangat bisa membalas dendam, tapi malah tak beliau lakukan. Ini terjadi saat pembebasan kota Makkah. Saat orang-orang khawatir akan diusir dan disakiti, Rasulullah ï·º malah masuk ke Makkah justru dengan lisan yang beristighfar dan wajah yang teduh. Penduduk Makkah dimaafkan. Kecuali segelintir orang yang kejahatannya memang di luar batas.

Aang memang hebat, tapi di dunia nyata, kita punya contoh yang sebenarnya, yang itu adalah teladan kita. Seseorang yang ketika di bawah, ia bersabar dan teguh berjuang. Tapi, ketika ia di atas, ia tak angkuh dan malah banyak memaafkan. Seringkali ujian manusia itu adalah ketika ia punya segalanya; apakah ia akan tetap menjadi dirinya, atau tunduk pada dendam masa lalunya?

Nah, menariknya ada ilmuwan Ghazzah yang menggambarkan; kelak saat pembebasan Al Aqsha terjadi, umat ini juga akan melakukan yang Rasulullah ï·º lakukan. Nama ilmuwannya adalah Dr Nashr Fahjan, ia menulis buku "Wa'dul Akhirah; Zawaal Laa Ibadah", yang secara makna adalah: Janji Terakhir; kejatuhan, bukan pembantaian. Beliau mentadabburi Al Isra, lalu menulis bahwa kelak kita akan menghancurkan penjajah. Tapi bukan dengan kengerian yang dibalas kengerian.

Imajinasi kita pada pembebasan Al Aqsha kelak, adalah bayangan yang kita dapatkan dari Rasulullah ï·º saat membebaskan Makkah. Atau dalam pop culture, seperti Aang lakukan pada Ozai. Kejahatannya dihentikan, kekuatannya ditundukkan, tapi orang-orang jahat ini diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, sambil menjalani hukuman atas kerusakan yang mereka lakukan. Seperti pula yang Umar Mukhtar katakan, "kita ini bukanlah mereka. Kita adalah muslim. Kita ikuti cara Rasulullah."[]


Sumber: Gen Saladin Channel (Telegram)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.