Header Ads


Ulama Perempuan dalam Arus Sejarah Peradaban Islam



Oleh: @akmal_ashari08 • Kontributor Gen Saladin | @gen.saladin | t.me/gensaladin

Ketika mendengar kata ulama, mungkin yang ada dibenak kita adalah nama-nama hebat seperti Imam Asy-Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Malik, dan ulama-ulama lainnya yang berkontribusi besar dalam perkembangan khazanah keislaman. Hampir semua ulama yang kita ketahui dan namanya masyhur ditelinga umat Islam, berasal dari kaum Adam (laki-laki) dan jarang sekali mendengar sosok ulama yang berasal dari kaum Hawa (perempuan). Tapi benarkah sosok ulama masyhur hanyalah dari kalangan laki-laki dan tidak ada dari kalangan perempuan? Tidak!

Faktanya banyak sekali ulama dari kalangan perempuan yang memiliki andil besar dalam perkembangan khazanah keilmuan Islam. Lalu siapa saja mereka?

Memori kita akan kembali mengingat salah satu sosok Ibunda orang-orang beriman, Sayyidah ‘Aisyah binti Abu Bakar r.a. Beliau adalah sosok perempuan cerdas yang menjadi istri dari Rasulullah ﷺ. Namanya masyhur bukan hanya sebagai istri dari Rasulullah ﷺ, melainkan sebagai salah satu tokoh yang berhasil meriwayatkan ribuan hadist Rasulullah ﷺ, dan menjadi guru para sahabat sepeninggal Rasulullah ﷺ.

Bagi saya, sosok Sayyidah ‘Aisyah r.a merupakan cikal bakal ulama perempuan sepanjang sejarah peradaban Islam, keluasan ilmunya seluas samudera dan menjadi teladan utama bagi perempuan masa kini.

Melintas zaman yang berikutnya, adakah sosok ulama perempuan lainnya? Tentu saja ada, terutama pada masa gerakan pembaharuan dan islah yang dilakukan oleh sosok ulama besar, Syekh Abdul Qadir Jailani. Sosok ulama perempuan tidak ketinggalan untuk berkontribusi dalam upaya memperbaiki keadaan umat Islam yang kala itu sedang terpecah-belah dan terpuruk keadaannya.

Ada beberapa nama yang mungkin belum diketahui oleh banyak orang, diantaranya: Syaikhah Aisyah binti Muhammad Al Baghdadi yang menimba ilmu di Madrasah Qadiriyyah dan diberikan ijazah dari Syekh Abdul Qadir Jailani.

Sosok Syaikhah Aisyah binti Muhammad Al Baghdadi turut mengajarkan umat Islam dalam berbagai hal, dan menjadi panutan dalam aktivitas pengajian, dan bimbingan keagamaan. Nama lainnya adalah Syaikhah Khashshah al Ulama binti Al Mubarak bin Ahmad al Anshari yang menimba ilmu di madrasah Suhrawardi.

Syaikhah Khashshah bahkan memiliki sebuah tempat khusus untuk membimbing para perempuan dalam sebuah majelis. Kira-kira kalau di zaman kita ini semacam majelis taklimnya ibu-ibu.

Nama ulama perempuan berikutnya adalah Syaikhah Fathimah binti al Husain bin al Hasan bin Fadhliwaih, seorang muballigh perempuan kenamaan di Baghdad. Beliau memiliki ruangan khusus untuk majelis ilmu khusus kaum perempuan dan membimbing mereka. Diantara murid beliau ada dari kalangan laki-laki, diantaranya Ibnu al Jauzi yang belajar kepadanya ilmu-ilmu Al Quran.

Sebenarnya, masih banyak lagi ulama-ulama perempuan yang terlibat aktif dalam upaya pembaharuan dan perbaikan umat selama periode Ishlah. Dari tangan beliau-beliau lah, kelompok perempuan turut aktif dalam perbaikan umat untuk menghasilkan generasi Shalahuddin.

Masih ada lagi sosok ulama perempuan yang berkiprah pada masa Nuruddin dan Shalahuddin. Mereka semua meneruskan perjuangan para ulama perempuan sebelum mereka dan turut ikut serta dalam perbaikan ummat dan perjuangan jihad yang digerakkan oleh Imaduddin Zanki, Nuruddin Zanki, dan Shalahuddin al Ayyubi. Para ulama perempuan bersama dengan kelompok perempuan dari berbagai elemen lainnya turut berjuang bersama-sama untuk membebaskan Baitul Maqdis dari tangan Pasukan Salib.

Nah, diantara banyak tokoh perempuan pada masa Nuruddin dan Shalahuddin, tercatat ada banyak ulama perempuan yang berperan penting dalam perjuangan dakwah Islam. Beberapa nama ulama perempuan yang dikenal antaranya; Sayyidah Zumurrud Khatun, istri Sultan Buri bin Thaftakin adalah salah satu sosok ulama perempuan yang berasal dari kalangan elit istana.

Namun, setelah peristiwa wafatnya sultan Imaduddin Zanki, Sayyidah Zumurrud Khatun lebih memilih menetap di Halab (Aleppo) dan

aktif dalam kegiatan belajar mengajar Alquran dan Mazhab Hanafi. Sayyidah Zumurrud Khatun bahkan mendirikan sebuah madrasah yang dimanfaatkan untuk umat yang dikenal sebagai Madrasah Khatuniyyah di Damaskus.

Nama lain yang terkenal, Sayyidah Ishmatuddin Khatun yang merupakan istri dari Nuruddin Zanki. Beliau dikenal sebagai ahli fiqih Mazhab Hanafi dan selalu menghidupkan malamnya dengan shalat dan berdzikir. Sepeninggal Nuruddin, Sayyidah Ishmatuddin menikah dengan Shalahuddin al Ayyubi dan turut aktif dalam perjuangan pembebasan Palestina.

Dirinya turut aktif dalam jihad pendidikan seperti mewakafkan Madrasah Khatuniyah agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Selama masa pemerintahan Nuruddin dan Shalahuddin, banyak ulama perempuan yang berkiprah dan berasal dari kalangan elit pemerintahan seperti istri pejabat.

Salah satu diantaranya adalah Syaikhah Fathimah binti Saad al Khair al Anshari, dirinya berjuang dalam jihad politik dan pendidikan bersama Zainuddin Ali bin Naja yang merupakan suaminya dan penasehat politik Sholahuddin. Syaikhah Fathimah banyak menerima murid bahkan menganugerahkan ijazah kepada beberapa ulama seperti Syekh Al Mundzir dan Syekh Ahmad bin al Khair Salamah.

Ada sebuah kitab yang berjudul 'At Takmilah li Wafayat an Naqalah' karya Syekh Al Mundziri, beliau bahkan menyebut banyak sekali daftar nama ulama perempuan yang berkontribusi dalam perjuangan umat Islam. Tercatat, dalam kitab yang dituliskan beliau ada sekitar 15 ulama perempuan dalam volume pertama, dan 12 ulama perempuan lainnya dalam volume kedua. Sebenarnya masih ada banyak lagi dalam kitab At Takmilah, namun tdk disebutkan secara mendetail.

Melompat jauh dari negeri-negeri Islam di Afrika dan Timur Tengah, kita menuju ke kepulauan Nusantara. Negeri ini tidak pernah sekalipun kekurangan stok para ulama, termasuk ulama-ulama perempuan yang turut berkontribusi dalam upaya dakwah Islam dan perjuangan kemerdekaan negerinya dari cengkeraman penjajah dan aksi penjajahan.

Tercatat, ada beberapa nama ulama perempuan asli Nusantara yang turut berdakwah di negeri ini, diantaranya adalah Cut Nyak Dhien.

Loh, bukankah beliau adalah panglima perang? Iya memang benar, tetapi identitas beliau sebagai ulama perempuan tidak banyak diketahui oleh publik demi menghindari mata-mata Belanda. Cut Nyak Dhien setelah ditangkap dan diasingkan ke Jawa Barat, beliau bahkan turut aktif mengajar urusan agama untuk masyarakat sekitar dan dikenal sebagai seorang ulama perempuan yang menanamkan ruh Islam dibumi Priangan.

Berikutnya adalah Nyai Ageng Tegalrejo yang merupakan nenek dari Pangeran Diponegoro. Dari beliaulah, Pangeran Diponegoro dibentuk karakternya sehingga menjadi seorang pemimpin yang Islami. Diabad ke-19 dan 20, ada ulama perempuan Nusantara yang bernama Syaikhah Fathimah binti Abdusshomad al Falimbani.

Beliau adalah satu dari 3 orang ulama hadis perempuan yang dikenal, selain Syaikhah Ummatullah binti Abdul Ghani al Dahlawi dari India, dan Syaikhah Fathimah binti Ya’qub al Makki dari Mekkah. Syaikhah Fathimah binti Abdusshomad al Falimbani yang merupakan ulama hadis perempuan termasyhur merupakan guru ulama besar Nusantara yang bernama Syekh Nawawi al Bantani tatkala menimba ilmu di kota Mekkah.

Di Sumatera Barat, ada sosok seorang ulama perempuan yang bernama Syaikhah Rahmah el Yunusiyah yang menjadi pelopor berdirinya Madrasah Diniyah Putri di Sumatera Barat pada tanggal 1 November 1923. Oleh Universitas al Azhar Mesir, beliau dianugerahi gelar kehormatan Syaikhah.

Dari pemaparan tersebut, semakin membuktikan bahwa Islam hadir di muka bumi untuk membawa kebaikan bagi seluruh alam semesta, terkhusus sebagai umat manusia dan kaum perempuan. Islam mengangkat derajat kaum perempuan setelah mengalami penindasan yang dialami ketika masa sebelum Islam, terutama dalam bidang pendidikan.

Di saat kaum perempuan di Eropa masih terbelenggu oleh budaya mereka sendiri yang membatasi aktivitas perempuan lalu memperjuangkan kesetaraan gender, kaum muslimah terdahulu telah membuktikan kemampuan mereka dalam bidang keilmuan dan berbagai bidang lainnya tanpa harus menuntut kesetaraan.

Mengapa? Karena ruh Islam telah merasuk kuat dalam jiwa mereka dan mereka pun menjalankan hak dan kewajiban sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah sejak lama.

Referensi:
1. Model Kebangkitan Umat Islam – Majid Irsan al Kilani
2. Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan – Hamka 
3. Peran Perempuan dalam Melestarikan Kitab Shahih Bukhari Muslim Sejak Abad ke-4 hingga 14H – Shafiyah Idris Fallata
4. www.nu.or.id/post/read/83393/syekhah-fathimah
5. www.jaringansantri.com/siapa-sebenarnya-ulama-perempuan-nusantara

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.