Header Ads


RAMAI-RAMAI TINGGALKAN PEKERJAAN RIBA, KOK BISA?


Bisnis Tanpa Riba ASSALIM.ID | Edisi 3-9 Juli 2020

Oleh : Haris Abu Muthiah

Assalim.id - Suatu waktu ada kawan yang bekerja disalah satu lembaga keuangan di Makassar bertanya kepada saya. “Pak Haris, saya ini pegawai bank dan saya tahu bahwa  transaksi di bank itu kan riba. Saya rencana keluar dari pekerjaan itu. Menurut pak Haris apakah keluar sekarang atau tunggu dapat pekerjaan baru dulu. Kalau keluar sekarang bagaimana nasib istri dan anak-anak saya?, bukankah juga ini darurat?”

Setelah mendengarkan curhatan dari kawan saya ini.  Saya berusaha mencari jawaban yang kira-kira membuat dia berpikir  dan mengambil keputusan sendiri tanpa intervensi  dari siapapun. Saya sampaikan kepada beliau bahwa berpikir seperti Anda itu banyak. Tapi  mereka  dengan posisi puncak di bank tidak sedikit juga keluar dari pekerjaan tersebut.

Fenomena ini membuat lembaga keuangan melakukan safeguard agar karyawan mereka tidak keluar dari pekerjaannya. Salah satunya BRI.  Lembaga keuangan   'plat merah' ini menghimbau seluruh unit kepala unitnya agar mengadakan kajian rohani rutin untuk memberi pengetahuan agama dari sudut pandang yang lain terkait riba

Kendati demikian, upaya tersebut tidak memberi efek maksimal. Melihat fakta tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa  ini tentu ini bukan perkara managemen atau masalah keuangan semata tapi ada perkara lain diluar itu semua.  Nyatanya mereka sudah menikmati gaji besar dengan segala fasilitasnya, seperti mobil, rumah, kesehatan. Pokoknya A sampai Z sudah dinikmati. Toh semua itu tidak menghalangi mereka keluar dari pekerjaannya.

Belum lagi, bisikan dari teman-teman kantornya sesama karyawan. "Pak, kasian kalau keluar, posisi bapak sudah lumayan, apa lagi yang bapak cari, gaji sudah besar, fasilitas apa lagi?

"Pak, kalau keluar, belum tentu langsung dapat pekerjaan, bapak harus mulai lagi dari bawah, gajinya tidak sebesar ini. Istri dan anak-anak mau makan apa pak, kasian mereka pak?.

Tapi semua bisikan itu tidak menjadi penghalang mereka mengambil keputusan. Ini memang unik, disaat ribuan orang diluar sana sibuk mencari pekerjaan justru ini sudah ada pekerjaan dengan gaji tinggi pula, tetapi ia rela meninggalkan semua kemewahannya. Kira-kira dari sisi harta kurang apa lagi coba.

Lalu apa motivasi mereka keluar?. Jawabnya. Ini adalah persoalan perasaan yang telah menyatuh dengan pikirannya. Perasaan ini menjadi  menjadi keyakinan dan pemahamannya sehingga tergerak untuk berubah. Yakni perasaan takut kepada Allah yang membuncah sehingga mengalahkan semuanya.

Lalu apa yang membuatnya yakin bahwa sikap keluar dari pekerjaannya adalah tindakan yang benar. Jawabmya, karena ia telah menemukan tujuan hidupnya yang sebenarnya setelah mengfungsikan akalnya untuk berpikir. Berpikir tentang apa?, ya berpikir tentang dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup didunia, dan ke mana setelah hidup di dunia.

Ia sangat yakin bahwa Allah SWT menciptakan manusia untuk beribadah. Ibadah yang dimaksud ta’atuhu wahudhuun maa syar’ahu minaddin, yakni, taat, patuh, dan tunduk terhadap apa saja yang syariatkan oleh Allah. Syariat Allah tidak hanya sekedar melaksanakan shalat, puasa, zakat, haji saja, tapi termasuk dalam urusan muamalah dan negara.

Dalam urusan muamalah  misalnya,  Islam telah menjelaskan halalnya jual beli dan mengharamkan riba. Riba pun telah dirinci sedemikian rupa, bahwa yang dikatakan riba adalah setiap pegambilan manfaat dalam akad utang piutang. 

Begitu pula kategori pemakan riba telah jelas. Rasulullah Saw bersabda, “Allah melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan riba, dua orang saksinya, dan penulisnya (sekretarisnya)”. (HR penulis sunan, At Tirmidzi menshahihkan hadits ini). 

Nah, orang yang bekerja dilembaga keuangan bank maupun non bank, mulai dari posisi kasir sampai pimpinannya masuk dalam kategori empat golongan diatas. Karena itu Rasulullah Saw dengan tegas mengatakan, “  Satu dirham riba yang dimakan seseorang dengan sepengetahuannya itu lebih berat dosanya daripada tiga puluh enam berbuat zina” (HR. Ahmad dengan sanad shahih).

Dalam kondisi seperti ini sikap orang yang beriman ketika Allah mengharamkan riba tidak ada pilihan lagi kecuali tinggalkan seratus persen tidak perlu dipikir macam-macam lagi. Bukankah ketika Allah mengharamkan babi kita meninggalkannya. Lalu mengapa dalam hal riba kita enggan melakukannya?

Allah SWT secara tegas menyebutkan dalam alquran, “ Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang.k lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antaramu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (al-Baqarah: 85). Wallahu A’lam.

https://assalim.id/bengkel-pengusaha/bisnis-tanpa-riba-mtr/ramai-ramai-tinggalkan-pekerjaan-riba-kok-bisa/

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.