Header Ads


Stunting di Konsel Masih Menjadi Ancaman, Kemana Harus Mencari Solusi?

 

Oleh: Wa Ode Rahmawati (Pemerhati Sosial)

 

Stunting masih menjadi masalah berulang yang terjadi, mulai dari perkotaan hingga di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Konawe Selatan (Konsel). Sejak Januari hingga September 2021, tercatat sebanyak 774 anak 6,3 persen penderita stunting di Konsel. Angka ini menunjukkan adanya penurunan stunting pada tahun 2020, tercatat 9.514 atau 16,7 persen. Meski demikian pihak Kasi Gizi Masyarakat, Hasta Munanto, belum bias menyimpulkan jika terjadi tren penurunan. Sebab data tersebut masih sampai September 2021. (kendaripos.co.id, 11/9/2021)

 

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dalam menangani masalah stunting. Maka langkah untuk mendukung upaya penurunan prevalensi stunting, dilakukan upaya penguatan intervensi gizi spesifik dan sensitif.

 

Perlu dipahami, stunting sendiri merupakan kondisi ketika balita memiliki tinggi badan di bawah rata-rata. Hal ini diakibatkan asupan gizi yang diberikan dalam waktu yang panjang tidak sesuai dengan kebutuhannya. Berkurangnya asupan gizi anak pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang dimulai sejak janin hingga anak berumur dua tahun menyebabkan fenomena ini banyak terjadi pada balita. Selain itu, kurangnya informasi pada masyarakat tentang pentingnya kebersihan diri pada ibu hamil dan anak di bawah usia dua tahun dan lain sebagainya.

 

Stunting berpotensi memperlambat perkembangan otak, dengan dampak jangka panjang berupa keterbelakangan mental, rendahnya kemampuan belajar, dan risiko serangan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, hingga obesitas. Hal ini merupakan ancaman serius dan memerlukan penanganan yang tepat sebab berkaitan dengan generasi bangsa yang tangguh dan unggul di masa mendatang.

 

Di sisi lain, stunting yang terjadi pada balita erat kaitannya dengan kemiskinan. Kondisi ekonomi keluarga yang sedang kesulitan, utamanya di tengah pandemi Covid-19 sangat berpengaruh terhadap tidak terpenuhinya asupan gizi dan nutrisi anak bahkan kebutuhan primer rumah tangga. Lebih lanjut, rakyat menyoroti faktor pendistribusian kebutuhan pangan yang tidak merata di tiap daerah. Ketersediaan kebutuhan pokok juga tidak disertai dengan harga yang bias dijangkau oleh rakyat. Hal ini sungguh disayangkan sebab Indonesia sebagai negeri namun itu tidak lantas mampu memenuhi kebutuhan pangan rakyat.

           

Dari sini kita bisa melihat rakyat kurang mendapat perhatian dari negara. Negara tidak menjalankan perannya dalam meriayah kebutuhan rakyat, sehingga kesenjangan ekonomi semakin lebar di tengah masyarakat. Belum lagi munculnya banyak penimbun sembako yang membuat harga melambung. Parahnya kasus semacam tidak mendapat perhatian serius pemerintah. Dampaknya, banyak sebagian rakyat yang tidak mampu untuk membeli kebutuhan pangan harian.

 

Tak dapat dipungkiri, butuh upaya yang maksimal dari negara terhadap penanganan gizi buruk dan stunting yang stabil. Namun, apa daya sistem kapitalismeyang di terapkan di negeri ini rasanya mustahil untuk mengentaskan stunting. Bagaimana tidak, sistem ini meniscayakan beragam kepentingan sehingga kasus stunting minus perhatian. Pemerintah hanya mementingkan perekenomian negara, namun abai terhadap kebutuhan dasar rakyat. Maka, tidak mengherankan jika generasi negeri ini darurat stunting.

 

Melihat fakta di atas, maka sudah seharusnya rakyat mengambil solusi yang mampu menuntaskan masalah stunting yaitu kembali pada Islam. Dalam Islam, kebutuhan pangan adalah kebutuhan pokok yang wajib disediakan oleh Negara dan pemimpin bertanggung jawab atas urusan rakyatnya. Terkait sumber daya alam merupakan kepemilikan umum yang dikelola oleh negara sepenuhnya bukan oleh segelintir orang atau korporasi. Seperti sabda Rasulullah SAW” Kaum muslim berserikat dalam tiga hal, air, padang gembala, dan api”. (HR. Ibnu Majah)

 

Hasil dari kepemilikan yang dikelola tersebut semata-mata untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Baik pemenuhan kebutuhan pokok serta dasar seperti pangan, sandang dan papan, kebutuhan dasar pendidikan dan kesehatan berkualitas yang murah bahkan gratis. Mengharapkan terwujudnya hal ini sangatlah mustahil dalam sistem kapitalisme, sebab asas serba materi dan bebas tanpa batas dalam menguasai hajat hidup manusia. Kebaikan bagi seluruh rakyat hanya akan terwujud dalam Islam yang menerapkan aturan Allah SWT secara sempurna dalam kehidupan. Wallahu a’lam bishawwab.(*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.