Header Ads


Wafatnya Panglima Terbaik Penakluk Konstantinopel

Kontributor : @farruq_1453
Gen Saladin | @gen.saladin | t.me/gensaladin

Pada 1479 M, Sultan Mehmed II bersama pasukannya telah sampai di perbatasan Italia di sebelah utara Venesia, saat itu pasukan Muslim dibawah komando Sultan Mehmed II berhasil menaklukkan Friuli dan Isonzo, kala itu pasukan Muslim terdengar meneriakkan dengan lantang "Roma ....! Roma....! Roma....!"

Merasa takut wilayahnya akan segera diserang, Venesia segera mengajukan perjanjian damai kepada Sultan Mehmed dan menjanjikan upeti dalam jumlah yang sangat besar. Namun Sultan Mehmed menolaknya, langkah Sultan Mehmed tidak berhenti sampai disana, jalan menuju Kota Roma kini ia alihkan lewat laut, dan pada 1480 M Kota Otranto berhasil ditaklukkan oleh pasukan Utsmani, setelah sebelumnya pasukan Utsmani gagal menaklukkan Pulau Rhodes. Kini jalan menuju Kota Roma tinggal setapak lagi.

Sejak Kota Otranto dikuasai pada 1480 M, Sultan Mehmed II sedang mempersiapkan pasukan yang jauh lebih besar dari pasukan yang menaklukkan Konstantinopel. Tidak ada yang mengetahui diarahkan kemana pasukan sebesar itu, tidak ada seorang-pun yang berani menanyakan hal itu kepada Sultan Mehmed. Sudah menjadi kebiasaan Sultan Mehmed untuk merahasiakan ekspedisi perang yang ia anggap perlu.

Kemanakah pasukan besar ini akan diarahkan oleh Sultan, tampaknya hanya rahasia antara Sultan dan Tuhannya yang tahu. Namun ada seseorang yang tahu, kemana pasukan besar itu akan diarahkan. Dia bukanlah penasehat Sultan ataupun tentara Utsmani, dia bahkan bukanlah seorang Muslim. Dia adalah seorang Kristen yang menjadi pemimpin Katolik Roma, dia adalah Paus Sixtus IV.

Setelah kejatuhan Otranto, Paus Sixtus IV telah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan dari Roma menuju Avignon di tenggara Prancis untuk menyelamatkan diri, karena dia mengetahui tujuan Sultan Mehmed tidak lain untuk menaklukkan Kota Roma, sebagaimana yang disampaikan Rasulullah ï·º dalam Haditsnya.

Sixtus IV meninggalkan ratusan ribu penduduk di Roma yang berdoa tanpa henti di Kapel dan Gereja mereka, seluruh penduduk Roma berlutut dan berdoa kepada tuhannya. Mereka tahu betul pasukan yang sangat besar telah disiapkan untuk menuju ke kediaman mereka di Kota Roma. Pasukan didikan Langit dan Bumi yang telah membebaskan Konstantinopel dan tentunya mereka yakin, pasukan itu akan segera membebaskan Kota Roma.

Namun ketika bersiap menaklukkan Roma, Sultan Mehmed tidak merasa seperti biasanya. Fisiknya yang selalu membaik manakala ia hendak berangkat untuk berjihad tidak menunjukkan tanda tanda demikian, malahan penyakit "Radang Sendi" yang ia derita sejak tahun 1470 M semakin bertambah parah. Namun semua itu tidak menghalangi Sultan Mehmed untuk menggenapi sabda suci Rasulullah SAW dalam membebaskan Roma, pasukan yang paling istimewa telah ia siapkan untuk membebaskan Kota Roma.

Tapi Allah berkehendak Lain, Allah berkehendak untuk membagi dua pahala pembebasan yang telah dijanjikan itu, Sultan Muhammad II Khan Bin Murad II (Mehmed II) menutup usianya dalam kondisi bersiap untuk membebaskan Roma, 3 Mei 1481 M panglima terbaik itu wafat dalam usia 49 tahun.

Ketika seorang pembawa pesan sampai ke Roma, ia segera memberikan suatu surat kepada Paus dan ketika dibuka, isi pesan tersebut berbunyi sederhana, berbunyi "La Grande Aquila è Morto" yang artinya - "Elang Perkasa itu Sudah Mati". Kematian Sultan Mehmed II dirayakan secara besar-besaran dengan berpesta pora oleh penduduk Eropa, meriam-meriam ditembakkan dan lonceng-lonceng gereja dibunyikan selama tiga hari berturut-turut.

Sementara bagi dunia Islam, wafatnya Sultan Mehmed Adalah kehilangan yang sangat besar. Kesultanan Utsmani kehilangan seorang penguasa yang jenius dalam hal Administrasi, dan dalam hal Peperangan.

Umat Islam kehilangan seorang ksatria yang telah mewakafkan hidupnya untuk berjihad tanpa lelah. Dia mampu menggetarkan orang Barat dan membuat mereka gentar dan tunduk dengan Islam. Dia adalah sosok orang yang bisa membuat perbedaan besar didunia.

John Freely seorang Fisikawan dan Ahli Sejarah menggambarkan ketakutan bangsa Barat kepada Sultan Mehmed dengan tulisannya, "sesaat sebelum wafatnya, dia (Sultan Mehmed) sedang mempersiapkan untuk mengomando pasukan yang sangat besar untuk menaklukkan Roma.

Perkara bahwa dia (Sultan Mehmed) akan berhasil melakukan penaklukkannya tidak pernah diragukan orang yang hidup pada zaman itu, bila saja dia (Sultan Mehmed) hidup 20 tahun lebih panjang, tentunya tidak akan ada lagi Eropa dengan Kristen-nya."

Refrensi :
1. Muhammad Al-Fatih 1453 (Felix Y, Siauw)
2. The Grand Turk (John Freely)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.