Header Ads


Berhenti Berkhianat untuk Menjadi Pribadi yang Dipercaya

Oleh: Uswatun Khasanah*)


IndonesiaNeo, REMAJA - Kalau menurut kalian, bagaimana sih menjadi pribadi yang dipercaya, atau lebih tepatnya amanah? Zaman sekarang, sifat amanah pasti sudah tidak asing di telinga orang-orang, apalagi Gen Z sekarang, pasti sudah tidak asing banget, kan? Kalau kita pelajari lebih dalam, sifat amanah bisa dijelaskan sebagai sebuah sifat yang mampu menjaga atau menjalankan sesuatu yang dititipkan kepada kita, baik berupa harta, tugas, jabatan, rahasia, maupun tanggung jawab. Contohnya mengembalikan barang yang dipinjam, menjalankan tugas ketika mendapat perintah, dan masih banyak lagi.

Tapi jika dilihat lagi, sekarang banyak dari mereka yang malah menganggap sifat amanah itu tidak perlu ada di dalam diri mereka. Pandangan mereka tentang amanah pun tidak begitu menarik bagi mereka. Lah, kok bisa? Padahal sudah jelas apa itu sifat amanah, tapi kok masih ada yang menganggap sifat amanah itu tidak cocok bagi mereka? Jika kita lihat lebih dalam lagi, sekarang ini zamannya sistem kapitalis yang mengubah dunia menjadi banyak masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan bijak. Maunya pasti uang, uang, dan uang.

Dan itulah yang membuat para pemuda sekarang sangat sedikit untuk berbuat amanah. Hal ini juga karena mereka menganggap amanah itu, pertama, sebuah kata yang kuno atau tidak terlalu ideal untuk dunia yang begitu kompetitif ini. Tidak jarang pula orang yang begitu amanah, jujur, dan selalu menepati janji malah dianggap orang-orang sekarang tidak pintar dalam mengambil kesempatan. Astagfirullah, zaman sekarang mereka lebih mementingkan sebuah kesempatan untuk diri sendiri tanpa mempedulikan akibat yang akan terjadi selanjutnya.

Kedua, karena budaya instan dan viral. Di era media sosial sekarang, popularitas lebih diprioritaskan daripada tanggung jawab. Apa pun supaya bisa viral, mereka rela menyebarkan informasi demi cepat terkenal atau membocorkan rahasia demi konten semata. Bahkan ada di antara mereka yang rela merusak diri sendiri agar bisa menjadi apa yang mereka inginkan, agar bisa cepat viral, padahal masih banyak cara untuk viral tanpa harus merusak diri sendiri.

Ketiga, krisis kepercayaan publik. Salah satunya adalah penyalahgunaan jabatan atau korupsi yang membuat masyarakat skeptis kepada pemimpin sekarang atau institusi. Akibatnya, muncul anggapan bahwa amanah itu langka atau hanya slogan.

Keempat, individualisme yang tinggi. Sekarang orang lebih fokus pada kepentingan pribadi daripada tanggung jawab, padahal amanah itu menuntut kita mendahulukan kewajiban daripada keuntungan pribadi.

Yang terakhir, kelima, orang yang melanggar amanah yang diberikan itu sudah menjadi hal biasa baginya. Contoh yang sering dianggap remeh, misalnya:

  • Selalu ingkar janji
  • Melakukan kesalahan tanpa rasa bersalah
  • Berbohong

Dan masih banyak lagi. Hal-hal kecil seperti inilah yang memengaruhi budaya instan, tekanan sosial, dan krisis integritas. Maka dari itu, penting bagi kita untuk menunjukkan sifat itu di tengah kondisi sekarang.

Ketika kita mengetahui hal itu, dari situ juga kita harus bergerak. Seperti yang dijelaskan di Surah Ali ‘Imran ayat 104:

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali ‘Imran: 104).

Di ayat itu sudah jelas, teman-teman, bahwa kita harus meluruskan umat mulai dari sekarang. Mereka yang memandang bahwa sifat amanah itu kuno dan tidak sesuai dengan kita justru berbeda dengan Islam. Amanah dalam pandangan Islam itu memiliki posisi yang sangat penting, sebagaimana telah ditegaskan di dalam QS. An-Nisa ayat 58:

“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu.”

Nah, di situ, teman-teman, kita sebagai pemuda muslim yang amanah harus menyampaikan sebuah amanah kepada seseorang yang memang berhak menerima amanah itu, dan kita harus langsung melaksanakan amanah tersebut tanpa harus diperintah lagi. Ada juga di Surah Al-Mu’minun ayat 8 yang berbunyi:

“Dan sungguh beruntung orang yang memelihara amanah-amanahnya dan janjinya.”

Masyaallah! Berbahagialah kalian yang bisa menjaga amanah dan janji dari siapa pun itu. Allah sudah berfirman di ayat itu bahwa kita yang bisa melaksanakan, menjaga, dan menaati sebuah amanah begitu beruntung di hadapan Allah. Mereka juga akan dimuliakan oleh Allah. Siapa yang mau? Pasti mau semua, iya kan?

Jadi kita harus bisa semaksimal mungkin untuk menjaga amanah itu, karena jujur saja, sangat susah sekali dalam menjaga amanah, apalagi rahasia teman kita. Ketika tahu teman kita berbuat sesuatu, pasti ada keinginan untuk memberitahukan kepada yang lain. Hayo, siapa yang begitu? Jangan ya, teman-teman. Ketika sudah ada amanah yang menyuruh kita untuk merahasiakannya, kita harus bisa menjaganya dengan baik. Kecuali jika ada hal yang rahasianya itu dilarang oleh Islam, maka tidak apa-apa kita beritahukan kepada yang lebih bisa menyelesaikan masalah itu.

Ada juga sebuah hadis yang menjelaskan:

“Iman seseorang itu tidak akan sempurna sampai dia dapat dipercaya (amanah) dalam urusan yang dipercayakan kepadanya.” (HR. Tirmidzi).

Di dalam hadis itu dijelaskan bahwa iman kita tidak akan sempurna tanpa kita bisa menjalankan sifat amanah itu. Makanya, Islam sudah menekankan bahwa setiap muslim wajib bersikap amanah dalam semua aspek kehidupan, baik itu berupa agama, pekerjaan, maupun hubungan sosial. Kalau yang tidak amanah, ada konsekuensinya sendiri, seperti hukum di dalam Islam. Kita bisa mendapat dosa besar karena hal itu bisa menghilangkan kepercayaan orang lain. Astagfirullah, semoga Allah senantiasa melindungi kita dari dosa-dosa besar tersebut. Amin.

Jadi, teman-teman, kita harus menjaga fondasi moral dan spiritual dalam Islam, yang membedakan orang beriman dengan orang yang lalai. Di sini kita belajar bahwa amanah bukan hanya salah satu sifat mulia yang wajib umat muslim miliki. Amanah juga bukan sekadar menjaga hal-hal yang diamanahkan kepada kita, tetapi juga untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab, selalu siap, dan jujur dalam setiap hal.

Jadi, teman-teman, jangan pernah merasa lelah ketika kita terus diberikan amanah oleh seseorang. Ketika kalian diberi amanah, jangan sesekali mengeluh, dan percayalah bahwa seseorang yang memberikan amanah itu kepada kita sudah yakin bahwa hanya kitalah yang bisa menjaganya. Jadi kita harus bangga karena kita berhasil membuat seseorang percaya bahwa kita bisa menjaganya.

Dan juga, teman-teman, yakinlah bahwa setiap amanah yang kita jaga dan taati itu semua ada nilai ibadahnya di sisi Allah.

Maka dari itu, banggalah kalian yang mempunyai sifat ini. Semoga Allah senantiasa menanamkan sifat amanah pada diri kita, menjadikan kita pribadi yang dapat dipercaya, dan juga agar bisa menolong diri kita untuk selamat di dunia dan akhirat. Amin.[]


*) Pelajar (Sampit)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.