Header Ads


Islam Maintains Brotherhood (Menjejal Rasial yang Krusial)



Oleh: Jusmin Juan 
(KASTRA GEMA Pembebasan Kolaka)


Sejak azali, manusia itu disempurnakan oleh al-Khaliq dengan potensi-potensi. Kemampuan berpikir, keinginan naluri dan kebutuhan jasmani. Menitik-beratkan pada keinginan naluri, manusia memiliki naluri mempertahankan diri (Gharizah al-Baqo) untuk mempertahankan kehidupannya juga keinginan untuk memiliki sesuatu.

Sikap angkuh sebenarnya telah dicontohkan oleh Iblis saat Nabi Adam a.s diciptakan, Allah memerintahkan Iblis untuk sujud kepada Adam sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan penghormatan kepada Adam. Hanya saja Iblis sentak menolak dengan angkuh, mendiskriminasi bahwa Adam diciptakan dari tanah yang rendah sedangkan dirinya diciptakan dari api yang senantiasa diatas dari tanah yang bawahan.

Maka bila manusia memiliki sifat sombong,  merasa memiliki segalanya dan merasa berkuasa, menyimpangkan orang lain, berlaku tak adil, sesungguhnya sifat ini adalah wasilah atau warisan dari Iblis. Karena hanya Iblis lah yang mengajarkan demikian.

Begitu pula pada kasus Rasisme, seorang berkulit hitam bernama George Floyd (46) pada 25 Mei 2020 di Minneapolis, Minnesota meninggal dunia, setelah diperlakukan tak adil oleh seorang oknum polisi berkulit putih. Bahkan George Floyd mengeluh dan memohon bahwa dirinya tidak bisa bernafas, tetapi tetap saja polisi menekan leher si kulit hitam George Floyd.

Event itu mengingatkan memori kasus Eric Garner dia juga meninggal ditangan oknum polisi di New York pada juli 2014. Bedanya George Floyd mati dilutut polisi sedangkan Eric Garner ditangan polisi. Keduanya mendapat perlakuan Rasial. Banyak yang menentang kebrutalan polisi sehingga menjadi kekuatan pendorong jargon  "Black Lives Matter" (Nyawa orang kulit hitam itu berarti).

Amerika yang katanya kampiun demokrasi itu, men-syiarkan kebebasan, dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, gagal mempersatukan jiwa. Justru Trump mengancam akan mengerahkan militer Amerika untuk melawan warganya sendiri yang terus berunjuk rasa. Dia mengatakan "Ketika penjarahan dimulai, penembakan dimulai". Alih-alih menentramkan jiwa persaudaraan, malah tanah tumpah darahku yang sirna, ketidakadilan, dan demonstrasi berkuku tajam.

Ternyata negeri kaya, adidaya, atau negara kampiun bukanlah salah satu aspek bagi kesejahteraan manusia, walaupun dipimpin oleh hikmat, atau kebijaksanaan yang adil dan beradab, serta mengambil nilai-nilai untuk kemaslahatan, sungguh ini merupakan janji kulit, sebut saja kulit kacang. Yah...berarti dikacangin.

Segala fasilitas itu bukanlah aspek yang menetramkan jiwa, menjaga persaudaraan. Infrastruktur bukanlah pendorong kesejahteraan manusia, lalu pertanyaannya untuk apa semua itu?

Perlu bukti?

Sono, mari kita liat gemah ripah lojinawi Amerika yang sampai saat ini belum mampu membebaskan rakyatnya dari sifat angkuh dan rasis. Jadi, jangan mau ikut-ikutan milih pemimpin yang tukang janji infrastruktur, bilang saja "Kami sudah pengalaman janji busukmu"...

Lebih dalam lagi, kasus rasisme sebenarnya bukan cerita baru. Dia adalah  sejarah kuno manusia. Rasisme menurut para sosiolog, diartikan ideologi yang dilandaskan pada kepercayaan bahwa ciri-ciri tertentu yang melekat sejak lahir menandakan yang memiliki ciri tersebut lebih rendah sehingga otomatis didiskriminasi. Ideologi rasis ini berjalan seiring dengan penjajahan. Dimana bangsa penjajah adalah ras unggul sedangkan bangsa terjajah adalah ras rendah.

Donald Trump adalah wajah asli Amerika. Sikap rasis yang ia tunjukkan dalam cuitannya di Twitter Juli 2019 lalu. Bahkan ia pernah meminta empat wanita anggota kongres AS yang berasal dari etnis minoritas dan kulit berwarna untuk kembali ketempat asal mereka--yang bukan di Amerika Serikat. Dia menggunakan ejekan yang memiliki akar yang panjang dan dalam di sejarah Amerika:  Mengapa anda tidak kembali saja ketempat asal anda?

Tidak aneh jika AS tidak mampu membuang rasisme sekalipun terhadap warga negaranya sendiri. Karena kulit hitam dianggap kelas berbeda dan bukan asli Amerika. (Media Ummat, Sulistiawati Ummu Aisyah).

Gunnar Myrdal dalam bukunya yang berjudul An Amerika Dilemma, menyinggung bahwa diskriminasi rasial dan kesenjangan ekonomi telah menjadi cacat bawaan demokrasi Amerika. Diskriminasi rasial tidak bisa dilepaskan dari mulai masuknya orang-orang Eropa ke benua Amerika dan berdirinya negara Amerika. Mereka berkulit putih, mereka mengklaim sebagai ras superior. Mereka lalu melakukan berbagai aksi kekejaman terhadap penduduk asli Amerika.

Memang perbudakan berakhir dengan Amandemen ketigabelas Konstitusi AS pada tahun 1865. Namun rasisme tidak hilang dari masyarakat Amerika. Lalu dibuatlah undang-undang Hak Sipil tahun 1964. Itu pun karena desakan gerakan perjuangan warga berkulit hitam Amerika yang menuntut hak-hak sipil mereka.

Namun, secara praktis diskriminasi terhadap warga berkulit hitam ditengah masyarakat Amerika terus berlangsung. Bahkan, tokoh gerakan kulit hitam yaitu Malcolm X dan Dr. Martin Luther King, menjadi korban pembunuhan.

Demokrasi Amerika yang menghasilkan kebebasan dalam memiliki akhirnya melahirkan sistem kapitalisme. Kapitalisme telah melahirkan ketimpangan ekonomi dan sosial yang menimpa banyak warga kulit hitam. Akhirnya sampai kapanpun konflik rasial di Amerika tidak akan pernah hilang. Saat ini pemicunya adalah kematian George Floyd. Pada masa depan, kasus-kasus serupa lainnya dapat kembali memicu ledakan konflik rasial yang bisa lebih parah. Inilah kuat bahwa demokrasi sering menumbuhsuburkan diskriminasi, termasuk diskriminasi rasial (rasisme). (Arief B. Iskandar).

"Islam menghapus rasisme", begitulah yang dikatakan Arief B. Iskandar dalam tulisannya di Buletin Dakwah Kaffah. Islam menghapus diskriminasi rasial dan konflik sosial. Islam adalah agama yang mulia. Islam memposisikan keanekaan bahasa dan warna kulit sebagai fitrah alami manusia, keberagaman sekaligus membuktikan kekuasan Allah Swt. (QS. ar-Rum [30]: 22.

Rasulullah Saw dengan sangat tegas. Muslim itu layaknya satu tubuh, apabila satu bagian tubuh sakit, maka bagian tubuh lainnya juga akan merasakan sakit. Islam menjaga persaudaraan. Allah Swt berfirman:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ( ١۰ )

"Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dapat rahmat" (QS. al-Hujurat [49] : 10).

Menurut Imam as-Suyuti, segala ciptaan-Nya ini sebagai petunjuk bagi orang yang mempunyai akal dan ilmu. Islam juga memandang keberagaman suku-bangsa sebagai sarana untuk saling mengenal:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ( ١٣ )

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti (QS. al-Hujurat [49]: 13)

Ini adalah sebuah bukti, bahwa Islam sejak awal telah menyelasaikan problem rasisme. Bangsa, suku, ras, maupun warna kulit merupakan fitrah yang alami dan tidak dimintai pertanggungjawabannya, sehingga hanya takwa sajalah yang membedakan manusia memiliki kemuliaan disisi Allah Swt.

Bahkan Rasulullah Saw pernah sangat marah kepada Sahabat Abu Dzar al-Ghifari r.a yang berselisih dengan sahabat Bilal r.a., pasalnya Abu Dzar r.a memanggil Bilal r.a dengan sebutan, "Ya Ibna as-Sawda' (Hai anak seorang perempuan hitam)"

Rasulullah Saw. tegas mengatakan kepada Abu Dzar r.a " Abu Dzar, kamu telah menghina dia dan merendahkan ibunya. Di dalam dirimu terdapat sifat jahiliyah!" (al-Baihaqi, Syu'ab al-Iman, 7/130)

Teguran keras Rasulullah Saw ini merupakan pukulan berat bagi Abu Dzar r.a. Abu Dzar r.a  sampai meminta Bilal r.a untuk menginjak kepalanya sebagai penebus kesalahannya dan sifaf jahiliyahnya.

Dalam riwayat lain Rasulullah Saw pernah bersabda kepada Abu Dzar r.a:


ﺍﻧْﻈُﺮْ ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﺨَﻴْﺮٍ ﻣِﻦْ ﺃَﺣْﻤَﺮَ ﻭَﻻَ ﺃَﺳْﻮَﺩَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻥْ ﺗَﻔْﻀُﻠَﻪُ ﺑِﺘَﻘْﻮَﻯ []

"Lihatlah, engkau tidak akan lebih baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam sampai engkau mengungguli mereka dengan takwa" *
(HR. Ahmad).

Islam juga menghapus perbudakan, dengan memerdekakan. Sahabat Bilal r.a dahulu seorang budak Bani Quraisy sampai datang sahabat Abu Bakar r.a memerdekakan Sahabat Bilal r.a.

Dalam perjalanan sejarah, Islam, saat diterapkan dalam sistem Khilafah, terbukti berhasil menyatukan manusia dari berbagai ras, warna kulit dan suku-bangsa hampir 2/3 dunia selama lebih dari sepuluh abad.  Hal ini tak mampu dilakukan oleh ideologi lain.

Wilayah-wilayah yang dibebaskan oleh Khilafah Islam diperlakukan secara adil. Mereka tidak dieksploitasi seperti yang dilakukan oleh negara-negara imperialis pengemban peradaban demokrasi-kapitalisme.

Dalam dakwah Khilafah, kaum non-muslim tidak dipaksa untuk memeluk Islam. Islam hadir ditengah manusia untuk memberikan rahmat untuk alam semesta, bukan hanya manusia. Islam mampu menyatukan ummat manusia dari berbagai ras, warna kulit, suku bangsa maupun latar belakang agama menjadi suatu masyarakat yang khas. Semua itu terwujud dalam suatu naungan sistem Kekhilafah-an Islam.

Inilah Agama Dakwah yang menentram jiwa, memuaskan akal dan sesuai dengan fitrah manusia.

Wallahualam bissawab...
Menjelang Syuruk...diwaktu Dhuha...(*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.