Header Ads


Millenial Islami

Oleh: Ulfah Sari Sakti,S,Pi
 (Jurnalis Muslimah Kendari)

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menyatakan sebagian besar kasus pasien positif Virus Corona (Covid-19) yang baru ditemukan kebanyakan berstatus orang tanpa gejala (OTG).  Yurianto menyatakan pasien dengan status OTG sama sekali tidak merasakan keluhan dan tak merasakan sakit apa pun meski sudah dinyatakan positif Covid-19. 

Melihat hal itu, Yurianto berpandangan pasien Covid-19 dengan status OTG wajib melaksanakan karantina mandiri secara ketat.  Hal itu bertujuan agar tak menjadi sumber penularan baru bagi orang lain.  

Yurianto pun menyatakan beban rumah sakit tak berdampak sampai saat ini meski kasus baru positif Covid-19 mengalami peningkatan.  “Ini yang kemudian kita lihat kasus beban layanan rumah sakit tidak meningkat meskipun kasus baru kita temukan lebih banyak,” kata dia.  (CNNIndonesia.Com/12/7/2020)

Sebelumnya Stafs Khusus Milenial Presiden, Adamas Belva Syah Devara menyebut generasi muda alias milenial adalah generasi penular terbesar Virus Corona atau Covid-19.  “Generasi milenial adalah generasi penular terbesar,” ujar Belva. 

Maka dari itu, dia ingin dalam keadaan sekarang ini anak muda diharapkan dapat menjalankan social distancing.  Seperti tak meremehkan dan tak berwara wiri ke luar rumah terlebih dahulu.  Selain itu, dia menjelaskan alasan mengapa anak muda dapat menyebarkan Virus Corona  lebih cepat, dikarenakan mempunyai mobilitas yang tinggi.  “Mungkin sangat tidak bahaya bagi anda, tapi ini berbahaya bagi orang tua anda, kakek nenek anda, orang tua saya, untuk kakek nenek saya,” tutup Belva.  (okezone.com/23/3/2020) 

Senada itu Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, dr Budi Santoso mengatakan penderita dengan ciri seperti gejala ringan bahkan tidak memiliki gejala telah terinfeksi virus disebut sebagai OTG.  Salah satu kelompok yang rentan menjadi OTG, lanjut dia adalah kaum milenial.  Oleh sebab itu, pemerintah melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 meminta agar kaum millenial untuk menaati peraturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) guna menghindari hal yang tidak diinginkan.  (Liputan6.Com/6/5/2020)

Pemerintah Daerah Akui Pengendalian OTG Sangat Sulit

Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat (Jabar), Daud Achmad mengatakan penyebaran dari OTG memang sulit dideteksi.  Sebab, virus yang ditularkan oleh OTG tidak akan disadari oleh penderitanya.  Dengan kondisi tersebut ia meminta, masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan ketika bekerja atau melakukan kegiatan lainnya di luar rumah.

Selain itu, kekhawatiran penyebaran virus Corona dari OTG juga semakin tampak mengingat adanya pelonggaran yang terjadi di sejumlah kabupaten/kota di Jabar.  Ia meminta hal tersebut harus menjadi atensi pemerintah dareah di Jabar melakukan pengetatan protokol Covid-19.  

Dari semua pandangan, milenial bisa saja menjadi penyebar Covid-19 tanpa disadari.  Penting kiranya untuk tidak menganggap enteng protokol kesehatan dan tetap waspada dengan menjaga kesehatan tubuh.  (IDNTimes/12/7/2020).

Milenial Islami Taat Syariat

Kepribadian islam (syakhsiyah islamiyah) merupakan salah satu pondasi bagi umat muslim, tidak kecuali generasi milenial, karena dalam Syakhsiyah islamiyah terkandung pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah), bagaimana seharusnya seorang muslim berinterkasi dalam kehidupan sehari-hari. 

Andaikan saat ini sistem pemerintahan Islam masih tegak, tentunya umat akan patuh dan taat menjalankan syariat Islam, tidak terkecuali mendengarkan kebijaka-kebijakan yang dibuat oleh pemimpin umat (khalifah), mengingat segala kebijakan yang diberlakukan oleh Khalifah bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah, bukan bersumber dari aturan yang dibuat oleh manusia seperti kondisi sekarang.

Terkhusus generasi milenial Islami, kita dapat mengambil contoh dari Sultan Muhammad Al Fatih, yang mana meskipun beliau adalah anak seorang raja tetapi masa kecil, remaja, dewasa dan tuanya dihabiskan untuk mempelajari hukum-hukum Allah guna diterapkan dalam pemerintahannya.  Sejak kecil beliau telah menghafalkan Al Qur’an 30 juz, mempelajari hadts-hadits, ilmu fiqih, matematika, ilmu falaq dan strategi perang.  Beliau pun merupakan seorang yang ahli tahajjud.  Tidak heran Allah swt memilihnya sebagai penakluk Konstantinopel.

Terdapat pula Imam Muslim, aset Islam yang tak tergantikan.  Beliau belajar hadits ketika berusia 12 tahun.  Beliau melanglang ke beberapa negara untuk menimba ilmu hadits, mulai dari Irak, Hijaz, Syam, Mesir dan negara lainnya.

Bandingkan dengan generasi yang lahir dari rahim sistem Kapitalis-Sekuler saat ini, mereka kebanyakan bersikap santai alias enteng terhadap sesuatu hal, misalnya saja Covid-19.  Mereka terkadang sadar sesaat akan bahaya penularan Covid-19, tetapi ketika godaan untuk berkumpul bersama rekan-rekan mereka kembali muncul, protokol Covid-19 terabaiikan.  Dengan alasan mengusir kejenuhan (suntuk) telah lama berdiam diri di rumah (stay at home), acara kumpul-kumpul mulai kembali marak dilakukan.  Padahal pemerintah melalui lembaga terkait tidak henti-hentinya menghimbau mereka, agar menghindari kerumuman dan melasanakan protokol Covid-19.

Apalagi saat ini sekolah maupun perguruan tinggi masih melakukan belajar dalam jaringan (Daring), sehingga sebaiknya mereka tetap menahan diri untuk lebih lama berada di luar rumah.  Tetapi karena aqliyah dan nafsiyah mereka bukan Islamiyah, maka hiburan dan kebebasan yang menjadi tameng mereka untuk tetap memelihara kebiasaan kumpul-kumpul mereka.

Semoga saja sistem Islam kembali tegak, sehingga akan kembali lahir generasi-geneasi emas pemimpin umat, yang tentunya memerintah atas dasar hukum-hukum syara. Dengan begitu pula, kebahagiaan dunia dan akhirat menjadi milik umat.  

Wallahualam bissawab. [*]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.