Header Ads


Tragedi Srebrenica: Potret Umat yang Tak Berjunnah

Oleh: Aina Syahidah

Tragedi Genosida di Srebrenica kembali diperingati oleh warga muslim Bosnia-Herzegovina pada 11 Juli 2020 lalu. Pada peringatan ini pula, dikuburkan kembali 9 jasad yang baru teridentifikasi pasca 25 tahun perang berlalu (m.cnnindonesia.com, 12/07/2020). 

 Itulah mengapa, penduduk muslim Bosnia masih berselimut duka. Karena setiap tahun, mereka harus menguburkan kembali jasad saudara mereka yang menjadi korban keganasan militer Serbia dan sekutunya di masa lalu. 

Terjajah Pasca Tak Berjunnah!

Diketahui, Bosnia dahulunya merupakan wilayah kekuasaan Turki Utsmanih, berikut beberapa negara lain di Semenanjung Balkan. Penaklukan Bosnia oleh kaum muslimin terjadi tahun 1463, tepat 10 tahun pasca-Muhammad Alfatih membuka Konstantinopel 1453. Meski begitu, butuh waktu hampir seabad, Islam bisa menjadi mayoritas di sana (Republika.co. id, 04/07/2017). 

Penjajahan atas wilayah ini dimulai, pasca-lepasnya beberapa wilayah di Semenanjung Balkan dari genggaman Daulah Utsmanih di Turki. Bosnia dan beberapa Negara tetangganya mulai menjadi ‘bidikan barat untuk dikuasai.  Terlebih, potensi alam Bosnia menyimpan banyak sumber kakayaan.  

Tercatat, 80 persen medan di wilayah ini umumnya banyak dijumpai gunung-gunung serta sungai-sungai yang berjeram. Sehingga menguntungkan bagi penyediaan listrik tenaga air. Begitupula, dengan keberadaan barang tambang seperti, bauxite, magnesium, asbes, dalomit, batubara, minyak, lignit, garam dan lain sebagainya (Wikipedia). 

Bahkan poin paling strategisnya, sekitar 60 persen pabrik Yugoslavia berada di wilayah ini. Diantaranya,  pabrik artileri dan mortir, pabrik tank dan kendaraan lapis baja, pabrik aluminium dan pesawat terbang, pabrik bahan kimia, mesin, ranjau, dan baja. Pabrik senjata ringan, bahan peledak dan masih banyak lagi (Wikipedia).

Maka wajar, bila Serbia yang kala itu telah ancang-ancang hendak membentuk Negara Serbia Raya di bawah kendalinya meradang bukan kepayang. Kala mendengar Referendum rakyat Bosnia mengudara. Terlebih tatkala berhembus wacana, pasca-merdeka Bosnia-Herzegovina akan menerapkan hukum Islam di negara mereka.

 Jelas, bila ini terealisasi tentu akan merugikan Serbia berikut negara-negara raksasa yang punya kepentingan dibelakangnya. 
Itulah mengapa diakui oleh Mantan Presiden Dewan Kepresidenan di Bosnia dan Hergezovina, Dr. Harith Siladic ketika berbicara di saluran Al-Jazeera (27/12/2015), Serbia mendapat dukungan militer dan moral dari Rusia. Juga dukungan dari negara-negara besar seperti, Prancis dan Inggris. Bahkan mereka berada di bawah pengawasan PBB dan NATO. 

Hadirnya beberapa negara bahkan sekelas PBB ini mengindikasikan, betapa barat alergi akut dengan narasi Islam politis yang akan diterapkan dalam kancah bernegara. Hal ini didukung dengan ucapan pemimpin Serbia-Bosnia Milorad Dodik dihadapan Pengadilan Internasional bahwa penyebab meledaknya konflik di Bosnia karena kuatnya keinginan umat Islam di sana untuk mendirikan negara Islam (Muslimah Timur Jauh).  

Maka jalan paling efektif untuk membendung misi itu, ialah dengan pembersihan etnis muslim di sana. Dan ini puncaknya terjadi pada 11 Juli 1995. Daerah Srebrenica menjadi saksi bisu pembantaian massal terburuk pasca-PD II.

 Di hadapan tentara PBB, militer Serbia membabi buta penduduk muslim tanpa memandang usia, tua-muda, pria-wanita, semua menjadi korban di bawah pimpinan Ratno Mladic seorang anggota Liga komunis Yugoslavia beserta anak buahnya.  Jiwa anti Tuhan yang dibawa Mladic membuatnya tak tanggung-tanggung menumpahkan darah umat beragama. 
Tak hanya itu, Daniel F Cetenich dalam tesisnya untuk San Francisco State University menyebutkan, tidak kurang dari 1400 unit masjid dihancurkan oleh tentara Serbia selama perang Bosnia berlangsung (Republika.co.id, 25/02/2019). 

Benar-benar tak main-main barat membendung munculnya kekuatan Islam politik di Semenanjung Balkan. Bahkan Mantan Presiden AS, Bill Clinton mengatakan para sekutu utama keberatan bahwa Bosnia merdeka akan menjadi tidak wajar karena satu-satunya bangsa Muslim di jantung Balkan dan beberapa pemimpin Eropa tidak ingin jika ada negara Muslim di jantung Balkan (Muslimah Timur Jauh).

Lantas, pelajaran apa yang bisa  dipetik dari tragedi berdarah Srebrenica? 

Tragedi Srebrenica sejatinya mampu menjadi pengingat bagi umat Muhammad dewasa ini, bahwa hanya ilusi bila berharap dan meminta perlindungan kepada tatanan dunia hari ini.  Karena mereka akan ‘latah’ bila berhadapan dengan kepentingan umat Islam. 

Mereka bahkan berbalik menggalang persatuan demi memukul mundur kaum muslimin. Sebagaimana yang terjadi di Bosnia. Tentu dengan dalih yang mereka ‘racik’ sendiri, yakni perang melawan kaum ekstrimisme dan terorime. Yang pada nyatanya semua ini hanya akal-akalan barat dalam rangka melemahkan kaum muslimin. 

Umat juga harus sadar, bahwa hanya sistem Islamlah yang mampu memelihara harta, nyawa, agama dan diri setiap umat manusia tanpa melihat suku, ras, agama, warna kulit bahkan batas teritorial. Semua ini telah dibuktikan kala khilafah Islamiyah (kepemimpinan umat Islam) berkuasa selama 1300 tahun lamanya.

 Jangankan untuk menjatuhkan nyawa manusia, binatang yang terperosok saat berjalan saja, menjadi beban pikiran sang Khalifah. Bagaimana bila ribuan manusia dibantai? Jelas semua itu tak akan dibiarkan terjadi di dalam Islam. 

Hari ini, betapa perlakuan barat amat kontradiktif dengan kebijakan para pemimpin kaum muslim di masanya. Umat Islam malah menjadi pihak yang amat dirugikan atas pemberlakuan sistem buatan mereka.  Api genosida terus dikobarkan dari ujung barat hingga kawasan timur jauh. Kita tentu masih ingat dengan konflik di Gaza, Suriah, Irak, Afganistan, Kashmir, muslim Uighur di Xinjiang, muslim Rohingnya di Myanmar dan beberapa wilayah muslim lainnya. Betapa mereka telah bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang perang kemanusiaan. Tapi, toh buktinya, para petinggi dunia tak ada yang mampu menyelesaikan. 

Air mata dan tumpahan darah muslim Srebrenica sejatinya mempertegas keadaan, demikianlah potret pilu umat yang tak berjunnah (berpelindung). Darahnya menjadi halal diburu dan ditumpahkan oleh kaum penjajah durjana. 

Untuk itu, meski hari ini Barat kerap menganggap kepemimpinan Islam sebagai ancaman. Namun hakikatnya, itulah obat mujarab bagi kaum muslimin di manapun berada.  Hanya dengan bersatu, dalam satu ikatan ukhuwah islamiyah dengan fondasi akidah yang shahih, yakni Islam, umat ini bisa kembali tampil digdaya di hadapan dunia. Hingga barat akan ‘ciut’ nyalinya menumpahkan darah kaum muslimin. Bahkan Barat akan kembali mengulangi kegagalannya di masa lalu, saat berhadapan dengan pemimpin-pemimpin kaum muslimin yang  gagah perkasa membela umat. 

  Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjanjikan orang-orang sebelum mereka  berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah diridhai. Dan Dia benar-benar merubah keadaan mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. (TQS. An-Nur: 55 )

Sungguh kemenangan itu sedang dipergilirkanNya. Kelak akan tiba masanya umat ini akan dimenangkan. Dan Barat akan menyaksikan kegagalan terparahnya.

 Wallahualam bissawab.(*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.