Untuk MBG: Belajarlah dari Külliye Utsmani!
IndonesiaNeo, OPINI - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) layak dipahami sebagai kebijakan yang jauh lebih luas daripada sekadar pembagian makanan. Program ini menyentuh kesehatan publik, pendidikan, ketahanan sosial, dan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, keberhasilannya tidak cukup diukur dari jumlah porsi yang tersalurkan, tetapi juga dari mutu bahan, kebersihan dapur, ketepatan distribusi, serta kejelasan akuntabilitas. Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional menempatkan MBG sebagai langkah strategis untuk meningkatkan status gizi dan kesehatan masyarakat, terutama peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita [1][2]. Dalam bahasa sederhana, MBG bukan hanya urusan perut; ia adalah urusan masa depan bangsa.
Di sinilah Kulliye Utsmani memberi pelajaran yang sangat relevan. Dalam tradisi Ottoman, külliye adalah kompleks yang dibangun di sekitar masjid, tetapi fungsinya tidak berhenti pada ruang ibadah. Di dalamnya kerap terdapat madrasah, rumah sakit, dapur umum, rumah singgah, apotek, gudang logistik, dan fasilitas sosial lain yang saling terhubung [5][6]. Salah satu contoh paling menonjol ialah Sultan Bayezid II Külliyesi di Edirne, yang dipahami sebagai pusat layanan terpadu bagi pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan publik [5]. Dengan kata lain, masyarakat dilayani bukan melalui satu tindakan sesaat, melainkan lewat sistem yang menyatu.
Pelajaran pertama bagi MBG adalah bahwa kebijakan pangan harus dibangun sebagai sistem, bukan sebagai seremoni. Külliye menunjukkan bahwa pangan, pendidikan, dan kesehatan dapat dirancang dalam satu ekosistem pelayanan [5][6]. Model semacam ini penting karena program pangan berskala nasional mudah rapuh jika hanya mengandalkan distribusi sporadis. Tanpa desain yang terpadu, makanan bergizi akan berubah menjadi proyek logistik biasa yang tampak sibuk di permukaan, tetapi lemah dalam pengawasan mutu dan kesinambungan [2][4]. Maka, MBG perlu dipahami sebagai jaringan layanan yang melibatkan dapur, bahan baku, standar gizi, distribusi, evaluasi, dan pengawasan publik.
Pelajaran kedua adalah pentingnya martabat penerima layanan. Studi tentang imaret Ottoman menunjukkan bahwa dapur umum tidak semata-mata dibuat untuk orang miskin, tetapi juga untuk pelajar, pegawai kompleks, musafir, dan kelompok lain yang menjadi bagian dari ekosistem sosial külliye [7]. Ini menandakan bahwa pemberian makanan ditempatkan dalam kerangka kehormatan, bukan sekadar belas kasihan. Pangan publik dipandang sebagai pelayanan yang tertib dan bermartabat. Bagi MBG, prinsip ini penting agar peserta program tidak diposisikan sebagai objek pasif, melainkan sebagai warga yang berhak menerima layanan gizi yang layak, aman, dan manusiawi [7][9].
Pelajaran ketiga adalah profesionalisme. Sistem imaret dikenal memiliki pembagian kerja yang rinci: ada petugas dapur, pembuat roti, pengangkut bahan, penjaga gudang, pencuci peralatan, hingga pengelola persediaan [7]. Pola ini memperlihatkan bahwa layanan makan massal tidak bisa dijalankan dengan cara serampangan. Program pangan publik memerlukan disiplin kerja, standar kebersihan, kontrol kualitas, dan mekanisme akuntabilitas yang kuat. Bila MBG ingin bertahan lama dan dipercaya publik, maka dapur penyelenggara harus diperlakukan sebagai institusi profesional, bukan sekadar tempat memasak dalam skala besar [2][4].
Pelajaran keempat ialah integrasi antara pangan dan pendidikan. MBG menyasar peserta didik, sehingga sekolah menjadi ruang strategis untuk membentuk kebiasaan makan sehat. Namun sekolah tidak boleh hanya berfungsi sebagai titik distribusi. Sekolah semestinya menjadi ruang pendidikan gizi, kebersihan, kedisiplinan, dan kesadaran hidup sehat. Külliye memberikan contoh bahwa pendidikan, kesehatan, dan pangan dapat disusun dalam satu kesatuan [5][6]. Karena itu, MBG akan lebih kuat bila disertai pembelajaran tentang gizi seimbang, sanitasi, dan pola hidup sehat di lingkungan sekolah maupun keluarga [9].
Pelajaran kelima adalah hubungan antara kebijakan pangan dan ekonomi lokal. Pemerintah sendiri menempatkan MBG sebagai program yang juga mendorong perputaran ekonomi daerah, dengan melibatkan petani, peternak, nelayan, dan pemasok lokal [3][4]. Dalam logika külliye, makanan tidak hanya disediakan untuk dikonsumsi, tetapi juga membangun jaringan produksi dan distribusi yang hidup. Ketika bahan pangan dibeli dari wilayah sekitar, manfaat program menjadi lebih luas: anak menerima gizi, pelaku usaha lokal memperoleh pasar, dan ekonomi daerah ikut bergerak [10][11][12]. Dengan demikian, MBG dapat dipahami sebagai kebijakan gizi sekaligus kebijakan penguatan ekonomi rakyat.
Yang lebih penting lagi, model seperti ini tidak lahir secara dadakan. Ia bertumpu pada kerangka hukum Islam yang mengatur wakaf dan pelayanan sosial, lalu berkembang bertahap dalam lintasan sejarah pemerintahan Islam [8][9][10]. Secara historis, tradisi wakaf sudah diperkenalkan sejak masa Nabi Saw dan para sahabat, kemudian semakin melembaga pada masa Khulafaur Rasyidin; pada periode Umayyah dan Abbasiyah, cakupannya meluas ke masjid, pendidikan, tempat singgah, perpustakaan, jalan, dan fasilitas umum [8][9]. Pada masa Utsmani, tradisi itu mencapai bentuk yang lebih kompleks melalui imaret dan külliye, yang bukan hanya memberi makan, tetapi juga menghubungkan pengadaan bahan, penyimpanan, distribusi, penataan pasar, stabilisasi harga pangan, dan koordinasi dengan kebijakan perdagangan serta pertanian [11][12][13]. Karena itu, külliye dapat dipahami sebagai sedimentasi panjang praktik kesejahteraan dalam peradaban Islam, bukan inovasi dadakan [10][11].
Dari seluruh rangkaian itu, MBG perlu diarahkan dari sekadar program pembagian makanan menjadi ekosistem gizi nasional. Külliye Utsmani menunjukkan bahwa pelayanan publik yang baik lahir dari integrasi berbagai unsur: dapur, pendidikan, kesehatan, logistik, dan tata kelola yang kuat [5][6][7]. Model ini sangat relevan bagi Indonesia, terutama ketika peningkatan kualitas manusia menjadi agenda utama pembangunan. Jika MBG mampu mengadopsi semangat külliye, maka program ini tidak berhenti sebagai bantuan, tetapi berkembang menjadi fondasi peradaban sehat bagi generasi masa depan [1][2][4].
*) Pemerhati Kebijakan Publik
Referensi
- [1] Badan Gizi Nasional. “BGN Akan Memulai Program MBG Secara Bertahap.” https://www.bgn.go.id/news/artikel/bgn-akan-memulai-program-mbg-secara-bertahap
- [2] Badan Gizi Nasional. “Pedoman Umum Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional Untuk Program Makan Bergizi Gratis.” https://cdn-web.bgn.go.id/juknis/01KA7N19KSJ5GPG927034K3RP0.pdf
- [3] Sekretariat Negara. “Makan Bergizi Gratis dan SDM Unggul.” https://www.setneg.go.id/baca/index/makan_bergizi_gratis_dan_sdm_unggul
- [4] Sekretariat Negara. “Enam Langkah Strategis Pemerintah Perkuat Tata Kelola MBG.” https://setneg.go.id/baca/index/enam_langkah_strategis_pemerintah_perkuat_tata_kelola_mbg
- [5] UNESCO World Heritage Centre. “Sultan Bayezid II Complex: A Center of Medical Treatment.” https://whc.unesco.org/en/tentativelists/6117/
- [6] Virginia Tech Libraries. “The Ottoman külliye between the 14th and 17th centuries: its urban setting and spatial composition.” https://vtechworks.lib.vt.edu/items/11030707-72e8-4eea-870c-2a7e6f8b1a8e
- [7] Hatice Büşra Kürk. “Imarets in the Ottoman Empire from the 14th Century to the End of the Fatih Era Based on Waqfiyyas.” Middle East Technical University, 2024. https://open.metu.edu.tr/bitstream/handle/11511/110034/10643042.pdf
- [8] Rangga Sa'adillah, dkk. “The Dynamics of Waqf in Islamic Civilisation: From the Prophet's Time to the Modern Era.” https://ejournal.ijshs.org/index.php/vris/article/view/1147
- [9] Hanun Asrohah. “Waqf and Its Contribution in Education in Historical Perspective.” https://repository.uinsa.ac.id/685/1/Hanun%20Asrohah_Waqf%20and%20its%20contribution%20in%20education.pdf
- [10] Timur Kuran. “The Provision of Public Goods under Islamic Law: Origins, Impact, and Limitations of the Waqf System.” https://sites.duke.edu/timurkuran/files/2016/10/waqf-2001-1.original.pdf
- [11] Nina Ergin, Christoph K. Neumann, dan Amy Singer. Feeding People, Feeding Power: Imarets in the Ottoman Empire. https://nes.princeton.edu/publications/feeding-people-feeding-power-imarets-ottoman-empire
- [12] Şevket Pamuk. A Monetary History of the Ottoman Empire. https://albukhari.com/wp-content/uploads/2024/12/cambridge-studies-in-islamic-civilization-sevket-pamuk-a-monetary-history-of-the-ottoman-empire-cambridge-university-press-2000.pdf
- [13] Seven Ağır. “Ideal and Actual in Provisioning Institutions: Ottoman and Castilian Cases in the 16th and 17th Centuries.” https://media.timtul.com/media/web_aehe/_wp-content_uploads_2008_09_ideal.pdf


Post a Comment