Gejolak Perang Iran vs AS-Israel, Sinyal Kebangkitan Islam?
Oleh: Ummu Ririn*)
IndonesiaNeo, OPINI - Situasi Kawasan Teluk masih bergejolak. Pasalnya, perang Iran vs AS-Israel kian memanas pasca serangan defensif Iran atas serangan Israel pada 28 Februari 2026 yang menewaskan pemimpin terringhi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Setelah serangan balasan itu, Iran terus mengintensifkan serangan. Rudal-rudal Iran menggempur area strategis Israel, termasuk Kota Tel Aviv hingga meluluhlantakkan Iron Dome, sistem pertahanan tercanggih kebanggaan zionis. Beberapa kapal induk dan pangkalan militer milik AS di Kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain, tak luput dari serangan.
Keunggulan Iran semakin meningkat, terlebih setelah berhasil menunjukkan dominasinya atas Selat Hormuz serta langkah ofensif beruntun ke Israel. Sikap tegas Iran memblokade Selat Hormuz tentu berdampak pada ekonomi dan politik global. Sebab, sekira 20 persen kebutuhan minyak dunia melewati jalur ini.
Tak ayal, AS dan zionis dibuat ketar-ketir oleh sikap keras Iran yang semakin berani. Publik pun mulai menyadari bahwa power negara adidaya dan zionis mulai lemah dan tengah menghadapi situasi sulit. AS sampai meminta bantuan kepada sekutu, bahkan kepada lawannya, untuk menghentikan perang demi mempertahankan pengaruhnya di kawasan dan posisinya di dunia sebagai adidaya.
Demi mengembalikan kepercayaan dunia, Trump dan zionis sibuk bermain retorika dan meneriakan seruan untuk bersatu memerangi Iran karena dianggap berbahaya dan mengancam keamanan global. Satu sisi, seruan itu justru semakin menguatkan posisi tawar Iran. Di sisi lain, Amerika sebagai negara terkuat di dunia dan tentara zionis dengan tabiat yang tidak mengenal belas kasih, membunuh dan menghancurkan apa saja sekehendak hati, gagal mencapai tujuan, yakni membuat Iran tunduk pada keinginan kedua penjajah tersebut. Pasangan koalisi ini di ambang depresi.
Jika Iran tidak gentar dan terus menjaga ritme serangan yang berpotensi semakin melemahkan posisi AS-Israrel, maka ketidakpuasan para sekutu dan agen Amerika juga akan meningkat. Pada akhirnya, posisinya di dunia internasional akan terguncang.
Sejatinya, serangan zionis ke Iran Februari lalu atas restu AS. Serangan beruntun dimaksudkan sebagai upaya memberikan tekanan pada pemimpin baru Iran. AS menginginkan Iran dipimpin oleh penguasa yang sejalan dengan kepentingannya dengan dalih menjaga perdamaian. Pengembangan nuklir juga menjadi isu andalan AS untuk menyudutkan posisi Iran. Parahnya, tanpa rasa malu Trump berambisi mengambil alih minyak Iran.
Sebelum konflik pecah menjadi perang, sebenarnya AS sudah berada dalam krisis besar, akibat kegagalannya dalam berbagai isu yang ditangani Trump. Strateginya di kawasan menjadi beku karena sikap keras Iran dalam menghadapi proyek Amerika dan entitas Yahudi yang disebut “Timur Tengah Baru” yang bertujuan menciptakan dominasi eksklusif Amerika di kawasan dan agenda normalisasi Arab-Israel.
Ambisi tak Terkendali Trump mencerminkan betapa ia berambisi menguasai sepenuhnya wilayah Timur Tengah. Hal itu karena Timur Tengah merupakan wilayah yang kaya sumber daya alam. Dari sisi geopilitik dan geostrategis, posisi Timur Tengah sangat diperhitungkan. Hal lain yang tak kalah penting, Timteng memiliki potensi ideologi yang akan mewujudkan kebangkitan, yakni ideologi Islam. Artinya, jika potensi tersebut dibiarkan tanpa kontrol, bisa mengancam eksistensi hegemoni Barat dan entitas zionis.
Dalam politik global AS, Iran menjadi titik simpul strategis karena berbatasan dengan Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Kaspia yang menjadikannya sebagai pusat perdagangan dan energi global. Iran juga mengendalikan Selat Hormuz dan Selat Bab al- Mandab yang krusial bagi lalu lintas minyak dunia, menjadikannya senjata geoekonomi untuk menghadapi lawan politiknya. Posisi Iran yang berbatasan dengan Irak, Turki, Afganistan dan Pakistan menjadikannya aktor kunci terkait keamanan kawasan.
Meskipun AS telah berhasil mengikat penguasa negeri-negeri Arab dengan Abraham Accord, namun terhadap Iran, AS selalu kalah strategi. Sebab, meskipun telah lama berada di orbit AS dan menjadi satelitnya, para pemimpin Irran setelah revolusi 1979 tidak mudah ditundukkan menjadi negara pelayan penuh bagi Amerika baik di kawasan Timteng maupun skala global.
Wajah Buruk Kapitalisme Sekuler
Fakta perang Iran telah menampakkan buruknya kepemimpinan kapitalisme global. Sebagai negara pertama dan statusnya sebagai negara imperium, AS terus berupaya mengukuhkan hegemoni dengan terus menyebarkan ideologinya dengan menjalalankan satu metode baku, yakni imperialisme atau penjajahan. Demi keberhasilan misi penjajahannya, AS mengembangkan berbagai strategi politik dan taktik yang disesuaikan dengan kepentingan nasional dan kondisi negara sasaran. Misalnya dengan dominasi dan tekanan politik, tekanan ekonomi, embargo, atau kekuatan militer untuk menundukkan negara yang ingin dikuasai termasuk membangun pangkalan militer demi menjaga pengaruh politiknya di wilayah jajahan.
Masa Depan Dunia Islam
Bagaimana masa depan umat dan dunia Islam bergantung pada bagaimana akhir dari perang ini. Jika Amerika dan sekutunya menang, maka kemungkinan besar proyek Timur Tengah Baru akan diterapkan, disertai perang besar terhadap kaum Muslimin, serta penerapan strategi penyesatan, kerusakan moral, dan pembodohan dengan dukungan Barat secara keseluruhan dan dilaksanakan oleh entitas Yahudi.
Ini juga akan menjadi peluang bagi Amerika untuk mengukuhkan kembali dominasinya atas pesaingnya seperti China dan Rusia.
Namun jika kondisi perang terus berjalan seperti sekarang, maka kemungkinan besar pengaruh Amerika akan semakin melemah secara bertahap, dan kawasan akan didominasi oleh Iran dan Turki, yang berpotensi naik menjadi kekuatan besar dunia. Nasib entitas Yahudi diperkirakan akan melemah, putus asa, dan akhirnya lenyap. Amerika akan meninggalkan kekosongan global yang akan diisi oleh kekuatan lain, terutama Rusia dan China. Sedangkan kekosongan di kawasan akan diisi oleh Iran dan Turki.
Berdasarkan hal tersebut, perang ini adalah perang yang menentukan dan eksistensial. Menentukan bagi Iran dan Amerika.
Eksistensial bagi entitas Yahudi. Dan juga menentukan bagi kawasan serta kaum Muslim.
Kepentingan Islam dan kaum Muslimin, tanpa diragukan, adalah dalam kekalahan Amerika dan Yahudi, serta hilangnya pengaruh Barat dari negeri-negeri Muslim. Sungguh, masa depsn setta kemuliaan Islam dan kaum muslim hanya mungkin terwujud dalam kepemimpinan Islam melalui tegaknya institusi Khilafah. Melihat potensi Iran sebagai negara independen, dan kekuatan militer yang mengungguli AS dan Israel, besar kemungkinan kemenangan di pihak Iran. Jika Iran memenangkan perang kali ini, bisa jadi merupakan titik awal kebangkitan Islam, kaum muslim, dan terwujudnya kembali perisai umat, yakni Khilafah.
Hanya saja, kondisi baru yang muncul tetap memiliki risiko, karena sistem seperti Iran dan Turki bukanlah sistem ideal bagi kaum Muslim. Di samping itu, Rusia serta China juga memusuhi Islam sebagaimana negara-negara Barat. Namun, ancaman mereka masih lebih ringan dibandingkan keberadaan entitas Yahudi di jantung dunia Islam dan dominasi Amerika serta Barat yang telah lama mengakar di negeri-negeri Muslim.
Khatimah
Sejatinya, apa yang terjadi di Iran bukan semata persoalan pemimpin dan rakyat Iran, melainkan perang antara negeri muslim melawan kafir harbi fi'lan. Kafir yang paling besar permusuhannya dan lebih dulu memerangi kaum muslim hingga menjerumuskan umat ini dalam jurang penderitaan dan kesengsaraan tak berujung.
Karenanya, apabila kita ingin membebaskan umat dan mengembalikan kejayaan Islam harus memperhatikan kemungkinan hasil dari perang ini, serta menyusun strategi untuk kemaslahatan umat, termasuk mendorong persatuan dan menyudahi konflik internal seperti antara Sunni dan Syiah atau antara Turki dan Iran.
Sungguh Allah Swt. berfirman, "Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana
mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”( QS. At-Taubah: 36).
Wallahua'lam.[]
*) Pegiat Literasi


Post a Comment