Header Ads


Islamophobia Kian Marak Terjadi, Umat Butuh Khilafah

Oleh: Nur Afni Mayangsari, S.Pd. 


Aksi penistaan terhadap Islam dan umat Islam memang takkan pernah berhenti. Seperti insiden yang terjadi di Swedia pada Jumat (28/8/2020) malam. Terjadi kerusuhan dalam unjuk rasa di Swedia, Al-Qur'an dibakar, dirobek dan diludahi oleh salah seorang demonstran. Hal ini dipicu, usai politikus asal Denmark, Rasmus Paludan dilarang menghadiri aksi pembakaran Al-Qur'an.  


Dilansir News.detik.com, Sabtu (29/8/2020), Rasmus Paludan dikenal sebagai pemimpin partai garis keras anti-imigran Denmark. Ketika ia melakukan perjalanan ke Malmo untuk berbicara dalam aksi anti-Islam itu, pihak berwenang mencegah kedatangan Paludan dengan mengumumkan bahwa dia telah dilarang memasuki Swedia selama dua tahun. Dia kemudian ditangkap di dekat Malmo.


Selain itu, Kerusuhan menjalar ke negeri tetangganya Norwegia pada hari Sabtu (29/8/2020). Stop Islamisasi Norwegia (SIAN) melakukan unjuk rasa yang juga melecehkan Al-Qur'an dengan dirobek dan diludahi. Hal ini memicu kemarahan kelompok lain, yang berada di lokasi kejadian, sehingga bentrokan terjadi.


Penistaan Agama Tumbuh Subur


Merebaknya aksi penistaan terhadap Islam telah sering terjadi dari masa ke masa. Hal ini menunjukkan ketiadaan tindakan tegas terhadap pelaku penistaan sehingga hal tersebut membuat para pembenci Islam dengan seenaknya melakukan aksinya. Berbagai kejadian serupa pernah terjadi. Selain di Eropa, khususnya di Denmark, Swedia dimana Ramus Paludan sang pelaku pernah menjadi pengacara pelaku aksi serupa bernama John Salvesen di tahun 2017. 


Di Prancis pun pernah terjadi pada 2015 dimana majalah Charlie Hebdo membuat karikatur Nabi Muhammad SAW dan salah satu kartunnya menggambarkan seorang Muslim membawa Al-Qur’an di depan dada yang tertembus peluru dengan tulisan ca n'arrete pas les balles atau itu tidak dapat menghentikan peluru. Dan yang lebih parahnya adalah ketika seorang Geert Wilders, politikus sayap kanan Belanda, ingin menghidupkan kembali lomba menggambar kartun Nabi Muhammad SAW tahun 2019 lalu.


Dari kejadian tersebut, semuanya terbungkus Islamophobia. Islamophobia adalah istilah  yang merujuk pada prasangka dan diskriminasi pada Islam dan Muslim. Istilah itu sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001. Islamophobia telah merebak ke penjuru dunia termasuk Eropa dan menjadi senjata utama musuh musuh Islam dalam memperlambat kebangkitan Islam. 


Adapun demokrasi yang diyakini memberika kebebasan terutama kebebasan beragama ternyata hanyalah omong kosong belaka. Karena di dunia Eropa yang notabene menganut paham demokrasi sekuler sama sekali tak dapat menerapkan idenya sendiri. Itulah ilusi demokrasi. 


Umat Islam Butuh Institusi


Sungguh, apa yang terjadi saat ini telah telah jauh-jauh hari dikabarkan oleh Baginda Rasulullaah shallallaahu 'alayhi wasallam. Beliau bersabda:  “Telah berkumpul umat-umat selain kalian untuk menghadapi kalian, sebagaimana orang-orang yang makan berkumpul menghadapi piringnya. Mereka berkata : ‘Apakah pada saat itu kami sedikit wahai Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam? ’Beliau menjawab: ‘Tidak, pada saat itu kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan, Allah akan menghilangkan rasa takut dari dada-dada musuh kalian kepada kalian, dan Allah akan menimpakan pada hati kalian penyakit Al-Wahn’. Mereka berkata: ‘Apakah penyakit Al-Wahn itu wahai Rosululloh?’ Beliau menjawab: ’Cinta dunia dan takut akan mati’.” [HR Abu Dawud 4297]


Tidak adanya perisai umat yakni khilafah selama hampir satu abad membuat umat Islam terus mendapat penindasan di berbagai negeri. Sebutlah Muslim di Palestina yang tidak pernah sepi dari peperangan antara kaum muslim dengan musuh musuhnya, Uygur, India, Suriah, Kyrgistan, bahkan dinegeri sendiri pun menjadi saksi atas kezaliman dari sistem kufur yang diterapkan. Jika khilafah tegak, tentu kedzaliman terhadap umat Islam tidak akan dibiarkan terjadi. Dikarenakan, hukum yang diterapkan adalah yang berasal dari Al-Qur'an dan As Sunnah dimana para pelaku akan memperoleh hukuman yang tegas dan membuat jera. 


Disamping itu, apakah pantas seorang muslim berdiam diri dan membiarkan penindasan ini terus berlanjut? Tentu tidaklah demikian karena diam dihadapan kedzaliman adalah perbuatan dzalim. Jadi, berjuang bersama demi tegaknya kembali Khilafah Islamiyah yang akan melanjutkan kembali kehidupan Islam, itu adalah pilihan terbaik. Terlebih lagi, Allah swt menjanjikan kemenangan bagi orang-orang yang beriman dari kalian dan mengerjakan amal-amal shalih.


"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (TQS. An-Nuur: 55)


Wallahualam bissawab.[*]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.