Header Ads


Husnul Khatimah Dengan Syahid

 

Oleh : Syahril Abu Khalid

(Mubalig dan Pemerhati Kebijakan Publik)


Kasus Covid-19, tengah berada pada puncak peningkatan yang terus mengalami lonjakan, seolah wabah ini tak terbendung lagi. Tingkat penularannya terus meningkat tajam, bahkan kita melihat dan mendengar setiap harinya seseorang meninggal dunia.


Menurut data dari worldometers.info, saat ini tercatat sudah ada 187.615.494 kasus Covid-19 di seluruh dunia. Total 171.577.199 antaranya telah sembuh sedangkan 4.048.856 lainnya meninggal dunia. Kasus aktif di seluruh dunia tercatat 11.989.439.


Sedangkan Indonesia sendiri, Senin pertanggal (12/7/2021). Total kasus telah menembus 2.527.203 orang. Sedangkan jumlah yang sembuh 2.084.724 orang. Sementara yang masih dalam perawatan 376.015 orang. Namun yang Meninggal dunia telah mencapai 66.464 orang, dan ini terus merangkak naik.


Tentu semua ini adalah tidak lepas dari Qadha (Takdir) yang menjadi ketetapan dan ketentuan dari Allah SWT. Semua itu menunjukkan tentang eksistensi dari Kemaha Kuasaan-Nya, Dialah yang menetapkan segala sesuatu berdasarkan kehendak-Nya.


Makhluk kecil berupa virus, yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia secara normal, kecuali melalui alat pembesar (Mikroskop), mampu menginfeksi manusia hingga menyerang sistem pernapasan (ginjal, paru-paru, hati) dan kekebalan tubuh, yang pada akhirnya manusia mengalami kematian.


Kematian adalah perkara yang paling ditakuti oleh manusia, karena itulah manusia senantiasa menghindari perkara yang satu ini. Ia akan melakukan apapun demi menghindari yang namanya kematian. 


Begitulah tabiat manusia, seolah ia bisa lari dari kematian, padahal perkara itu adalah sesuatu yang pasti datang pada setiap yang bernyawa, karena itu Allah SWT berfirman :


كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ


“Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Terj. QS. Ali Imraan: 185)


Bahkan, Allah SWT memberikan ta'kid (penegasan) di dalam banyak ayat-ayat-Nya di dalam Al-qur'an, bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti, yang tidak ada keraguan di dalamnya. Secara akli (akal) semua itu terindra oleh manusia.


Allah SWT berfirman :


وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ


"Tiap-tiap umat memiliki batas waktu. Maka ketika waktu itu telah tiba, mereka tidak dapat memundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya". (Q.S Al-A’raf: 34).


قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ..


"Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu hindari itu, maka sesungguhnya kematian itu pasti akan menemui kamu". (QS. Al-Jumu'ah : 8).

 

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ..


"Di mana saja kamu berada, kematian pasti akan mendapatkanmu, meskipun kamu berlindung di dalam benteng yang tinggi nan kokoh". (QS. An-Nisa : 78).


Perkara kematian pun, adalah perkara gaib yang tidak dapat diketahui oleh manusia kapan datangnya. Sekalipun manusia mengalami sakit yang parah, yang dalam pandangan manusia seolah ia akan mati, namun jika ajal (batas waktu) nya belum tiba maka ia tidak akan mati.


Dalam hal ini, Allah SWT pun berfirman :


وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا..


"Setiap yang bernyawa tidak akan mati melainkan atas izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya". (QS. Ali Imran : 145).


Semua atas kehendak dari Allah SWT, karenanya, tidak ada satupun manusia dan semua makhluk yang ada di dunia ini dapat mengetahui kapan ajalnya datang. 


Oleh karena itu, berbicara masalah wabah atau taun yang menular dan menyerang banyak orang, sehingga menyebabkan kematian yang banyak, sesungguhnya telah disebutkan oleh para Ulama salaf (terdahulu).


Para ulama berbeda pendapat tentang pengeritan at-taun dan al-waba’. Ada yang menganggap keduanya itu sama dan ada yang membedakan keduanya.


Menurut pakar bahasa arab dan pakar kesehatan, al-waba’ (wabah) adalah penyakit yang menular pada suatu wilayah, bisa penyebarannya cepat dan meluas. Sedangkan at-taun adalah wabah yang menyebar lebih luas dan menimbulkan kematian. Inilah pengertian at-taun menurut pakar bahasa dan ulama fikih.


Wabah adalah suatu kondisi dimana manusia banyak yang mengalami kematian atau meninggal dunia, akan tetapi wabah itu juga merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Telah ada riwayat yang menyebutkan bahwa kematian dalam kondisi wabah adalah syahid.


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ


“Orang yang mati syahid ada lima, yakni orang yang mati karena ath-tha’un (wabah), orang yang mati karena menderita sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang mati syahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari, no. 2829 dan Muslim, no. 1914).


Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


الْقَتِيلُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ شَهِيدٌ وَالْمَطْعُونُ شَهِيدٌ وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ


“Orang yang terbunuh di jalan Allah (fii sabilillah) adalah syahid; orang yang mati karena ath-tha’un (wabah) adalah syahid; orang yang mati karena penyakit perut adalah syahid; dan wanita yang mati karena melahirkan adalah syahid.” (HR. Ahmad, 2: 522. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan ‘Adil Mursyid menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim).


Di antara maksud syahid sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Ambari,


لأن الله تعالى وملائِكته عليهم السّلام يشهدون له بالجنة. فمعنى شهيد مشهود له


“Karena Allah Ta’ala dan malaikatnya ‘alaihimus salam menyaksikan orang tersebut dengan surga. Makna syahid di sini adalah disaksikan untuknya.” (Syarh Shahih Muslim, 2:142, juga disebutkan dalam Fath Al-Bari, 6:42).


Ibnu Hajar menyebutkan pendapat lain, 


والمراد بالاستشهاد أن تشهد الملائكة موتهم بحسن الخطيمة


"yang dimaksud dengan syahid adalah malaikat menyaksikan bahwa mereka mati dalam keadaan husnul khatimah (akhir hidup yang baik)". (Lihat Fath Al-Bari, 6:43)


Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa syahid itu ada tiga macam:


Pertama, syahid yang mati ketika berperang melawan kafir harbi (yang berhak untuk diperangi). Orang ini dihukumi syahid di dunia dan mendapat pahala di akhirat. Syahid seperti ini tidak dimandikan dan tidak dishalatkan.


Kedua, syahid dalam hal pahala namun tidak disikapi dengan hukum syahid di dunia. Contoh syahid jenis ini ialah mati karena melahirkan, mati karena wabah penyakit, mati karena reruntuhan, dan mati karena membela hartanya dari rampasan, begitu pula penyebutan syahid lainnya yang disebutkan dalam hadits shahih. Mereka tetap dimandikan, dishalatkan, namun di akhirat mendapatkan pahala syahid. Namun pahalanya tidak harus seperti syahid jenis pertama.


Ketiga, orang yang khianat dalam harta ghanimah (harta rampasan perang), dalam dalil pun menafikan syahid pada dirinya ketika berperang melawan orang kafir. Namun hukumnya di dunia tetap dihukumi sebagai syahid, yaitu tidak dimandikan dan tidak dishalatkan. Sedangkan di akhirat, ia tidak mendapatkan pahala syahid yang sempurna. (Syarh Shahih Muslim, 2: 142-143).


Dari pembagian Imam Nawawi rahimahullah di atas, jika ada yang mati karena virus corona, maka ia masuk dalam golongan syahid yang kedua.


Namun, perlu dicatat bahwa kematian dalam kondisi yang kedua sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah mensyaratkan dua hal, pertama dia adalah seorang yang beriman kepada Allah SWT, dan yang kedua dia harus berprasangka baik kepada Allah.


Allah menegaskan didalam firman-Nya,


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ


"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim". (QS. Ali Imran : 102).


Salah satu wujud keimanan itu adalah menjadi seorang Muslim (Berserah diri) yaitu dengan berbaik sangka kepada Allah. Berbaik sangka kepada Allah SWT adalah kenikmatan yang agung dan menjadi jaminan kebahagiaan hidup seseorang di dunia dan akhirat. 


Dalam Hadits Qudsi disebutkan tentang sangkaan kepada Allah dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW.


يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي.. 


”Sesungguhnya Allah berfirman, “Aku menurut prasangka hamba-Ku...” (HR Bukhari dan Muslim, No. 2675).


Dari Jabir r.a. dia berkata, aku mendengar Rasulullah tiga hari sebelum wafatnya beliau bersabda,


لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ  ( رواه مسلم)


“Janganlah seseorang di antara kalian meninggal dunia, kecuali dalam keadaan berbaik sangka terhadap Allah.” (HR Muslim, No. 2877). 


Semoga, dengan adanya Pandemi ini senantiasa menyadarkan kita, bahwa kita adalah hamba-Nya yang lemah dan terbatas, yang senantiasa mengharapkan Ampunan dan rahmat-Nya. 


Telah banyak saudara, karib kerabat yang telah meninggal dunia disebabkan virus Corona ini, dan diantara mereka adalah para Ulama, orang-orang yang kita cintai dan kita muliakan. Semoga mereka diwafatkan dalam kondisi Husnul Khatimah dengan syahid, diampuni segala dosa dan khilafnya serta ditempatkan ditempat yang terbaik disisi Allah SWT.


Hakekat kematian adalah perkara takdir dan perkara gaib, yang dibutuhkan dari kita adalah beriman terhadap takdir-Nya dan bersabar atas takdir yang menimpa diri kita. Dan ini juga menjadi pengingat bagi kita, untuk kembali kepada Allah SWT, dengan menerapkan seluruh hukum-hukum-Nya agar Allah rida kepada kita.


Kita tahu waktu-waktu ini, adalah waktu-waktu yang dimuliakan oleh Allah, karena kita tengah berada pada bulan haram (dimuliakan). Semoga dengan ini semua menambah keyakinan kita akan kasih sayang Allah SWT kepada orang beriman.


Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ


“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)




Wallahualam bissawab []

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.