Header Ads


Nasib Pendidikan di antara Penguasa dan Pengusaha

 

Oleh: Juwita Rasnur, S.T.

 Awal Februari kabar gembira telah tersebar di tengah-tengah masyarakat Sulawesi Tenggara terutama bagi masyarakat Konawe. Pasalnya akan dibangun politeknik di kawasan industri Morosi yang merupakan milik Yayasan Andrew dan Tony. Yayasan tersebut berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta perusahaan tambang nikel yang berada di kawasan Morosi.

 

Sepertinya kabar ini bukan isapan jempol belaka. Sebagaimana telah dikabarkan, bahwa proses pembangunan gedung politeknik tersebut telah berjalan dan dalam masa seleksi vendor. Diperkirakan sebelum tahun ajaran baru telah siap untuk beroperasi. Sebagaimana telah disampaikan oleh Juru Bicara PT VDNI dan OSS, Dyah Fadhilat dalam keterangannya pada 06/1/2021.

 

Dikatakan lebih lanjut, hal ini sebagai bagian dari kepedulian terhadap pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Pada tahap awal, Politeknik ini akan diprioritaskan untuk warga lokal, karena diharapkan dapat menyerap siswa-siswi SMA/SMK yang baru lulus dari sekolah terdekat dengan Kawasan Industri Morosi, terutama yang berdekatan dengan area pabrik smelter agar bisa praktek kerja. Meskipun demikian, ke depannya penerimaan siswa akan dibuka untuk umum, sehingga bisa menyerap siswa dari wilayah lainnya.(sultranews.co.id, 26/09/2021)

 

Disampaikan pula oleh Prof Yohanes Surya bahwa politeknik yang akan dibangun itu nantinya berskala internasional. Mereka yang menempuh pendidikan di Politeknik ini akan menjadi SDM yang siap pakai di perusahaan, khususnya VDNI dan OSS.

 

Pada kesempatan yang sama beliau mengatakan bahwa kehadiran perusahaan tersebut berimbas pada tingkat pertumbuhan ekonomi Konawe yang menyentuh angka 9,20 persen pada tahun 2019. (beritakotakendari.com, 25/09/2021)

 

Memang keunggulan sumberdaya manusia menjadi faktor penting dalam kemajuan suatu negara. Sumberdaya manusia yang unggul akan mampu menopang ketertinggalan suatu bangsa menjadi lebih baik.

 

Indeks sumberdaya manusia menjadi salah satu standar dalam mengelompokkan kelas suatu bangsa apakah termasuk negara maju atau negara berkembang.

Menurut data bank dunia  Indeks Sumberdaya Manusia Indonesia mengalami kenaikan menjadi 0.54 pada tahun 2020. Meski demikian Indonesia masih dikelompokkan dalam negara berkembang. Tentunya kondisi ini perlu perbaikan dari segala bidang agar mampu keluar dari ketertinggalannya termasuk dari segi pendidikan.

 

Oleh karena itu pendidikan sebagai bidang yang mencetak sumberdaya manusia perlu mendapatkan perhatian serius. Maka tak heran ketika pendidikan saat ini lebih berfokus pada pengembangan keterampilan agar siap pakai di dunia kerja.

 

Hal ini terlihat pada kebijakan pendidikan yang menggenjot pendidikan berbasis sekolah menengah kejuruan atau SMK, pendidikan Vokasi dan Politeknik pada tingkat perguruan tinggi dan universitas.

 

Diharapkan pada SMK, Pendidikan Vokasi dan politeknik akan mampu mencetak sumberdaya manusia yang terampil sehingga kelak akan unggul dalam dunia kerja.

 

Sepertinya kondisi ini terkesan tepat untuk menghadapi tantangan dunia kerja saat ini. Namun faktanya kondisi ini sebenarnya membawa dampak yang cukup mengerikan. Ketika pendidikan hanya diarahkan pada keterampilan semata, maka akan mencetak sumberdaya manusia yang apatis. Abai terhadap problem bangsa dan lingkungan sekitar, hanya sibuk mengumpulkan pundi-pundi materi untuk bertahan dan meningkatkan taraf hidup.

 

Makanya tak mengherankan jika saat ini problem bangsa yang menumpuk seolah tak berujung. Meskipun banyak ahli yang telah dicetak melalui pendidikan.

 

Padahal dalam UU no. 20/2003 dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

 

Di sisi lain ketika arah pendidikan saat ini fokus pada keterampilan saja, maka hanya akan mencetak sumberdaya manusia atau generasi buruh bukan generasi pencipta. Pendidikan yang seperti ini bisa menjadi sarana bagi para kapitalis untuk mendapatkan buruh yang murah dengan keterampilan yang baik.

 

Islam memandang bahwa tujuan pendidikan tidak berfokus pada keterampilan semata. Islam memandang bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk sumberdaya manusia yang memiliki kepribadian Islam. Pendidikan dianggap hak dasar yang menjadi kewajiban negara untuk dipenuhi.

 

Maka negara wajib untuk menunjang segala sarana dan prasarana serta dukungan antar sistem, termasuk sistem politik dan sistem ekonomi  demi terwujudnya tujuan pendidikan yang mulia ini.

Wallahu 'alam bishowab(*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.