Header Ads


Kisah Epik ad-Dakhil di Balik Berdirinya Kekhilafahan Umayyah II di Spanyol

Ilustrasi pelarian Abdul Rahman ad Dakhil di Sungai Eufrat


IndonesiaNeo, TARIKH - Pada akhir tahun 750 Masehi dunia Islam Timur dikejutkan oleh runtuhnya kekuasaan Dinasti Umayyah. Pasukan Abbasiyah merebut Damaskus, menumpas keluarga khalifah satu per satu. Hanya satu putra mahkota Umayyah yang lolos, yakni Abd al-Rahman bin Mu’awiyah bin Hisham (Abdurrahman ad-Dakhil), cucu Khalifah Hisham bin Abd al-Malik. 

Usianya baru sekitar 19–20 tahun saat itu, namun Abd al-Rahman nyaris selamat dari pembantaian mengerikan itu dengan nyaris tak percaya. Terdesak, ia dan rombongannya – termasuk saudara laki-laki yang lebih muda dan budaknya Badr – berlari ketakutan menuju pedalaman Suriah.

Dalam pelariannya Abd al-Rahman terusir dari istana; semua laki-laki dewasa Umayyah diperintahkan dibunuh, sedangkan wanita dan anak-anak ditawan atau diusir. Menurut catatan sejarah, sang pangeran yang ketakutan tersebut “dengan cepat menuju sungai Eufrat bersama seorang adik dan seorang sahayanya”. 

Euphrates (Sungai Eufrat) menjadi satu-satunya harapan: di sana ia berharap melewati wilayah taklukannya kemudian melintasi gurun. Namun, nasib tidak memberinya angin surga. Sementara itu pasukan berkuda Abbasiyah sudah membayang-bayangi di belakangnya. Sisa keluarga Umayyah lainnya pun sudah banyak yang ditangkap atau dibantai.

Ketika pasukan musuh akhirnya menyusul hingga ke tepi Sungai Eufrat, Abd al-Rahman tak punya pilihan. Ia dan kelompok kecilnya melompat ke dalam sungai yang luas itu dan mulai berenang. Arus Eufrat saat musim dingin sangat deras; menurut laporan kontemporer, pasukan penyerang bahkan menjerit sambil berjanji, 

“Kembalilah, tidak akan kami siksa!” 

Hampir saja Abd al-Rahman menyerah. Namun hati pangeran itu sudah bulat. Ia terus berenang tanpa melihat ke belakang. 

Dalam narasi yang diturunkan oleh kronik Akhbar Majmu‘a, Abd al-Rahman mengingat dengan pilu bagaimana ia dan saudaranya sama-sama mengayuh air,

“Aku berenang dan saudaraku berenang; aku berada sedikit di depan dia. Di tengah perjalanan, mendengar janji mereka, dia berpaling dan berusaha menuju tepi, ketakutan akan tenggelam. Aku berteriak memanggilnya agar tetap maju, namun dia tidak mendengarkanku. Aku terus berenang ke seberang…”.

Saat itu saudara Abd al-Rahman kehabisan tenaga. Meski sang pangeran berusaha membujuk, adiknya justru memilih kembali ke tepi Eufrat. Begitu ia menyentuh darat, para prajurit Abbasiyah yang mengepung langsung menangkap dan memenggalnya di depan mata Abd al-Rahman. 

Kedua saudara kandung ini berjarak setengah lebar sungai ketika tragedi itu terjadi. Pangeran Abd al-Rahman menyaksikan puing tubuh saudaranya terkapar di tepi, jasadnya dibiarkan tergeletak di sana – sebuah pemandangan mengerikan yang membekas selama hidupnya.

Di tengah keputusasaan itu Abd al-Rahman tetap mengerahkan seluruh kemampuannya. Sungai Eufrat memang sangat ganas. Secara geografis arus Eufrat sangat deras dan cukup dalam hingga “tidak cocok untuk aktivitas seperti berenang” menurut laporan terkini. Dalam kondisi sedemikian, berani terjun ke sungai dan mengayuh sampai seberang merupakan aksi nekat yang jarang bisa disamakan. 

Lebar sungai itu bisa mencapai ratusan meter, dengan arus merayap yang terus menerjang tubuhnya. Abd al-Rahman berenang berlawanan arus, berusaha mencapai tepi seberang sejauh mungkin. Semua anggota tubuhnya berdenyut lelah; air sungai menekan dan dingin menusuk tulang. Saat ia akhirnya menapakkan kaki ke tanah tepi seberang, tubuhnya hampir tak sanggup lagi menopang berat.

Namun kelelahan itu tak menyurutkan keberaniannya. Alih-alih menyerah, Abd al-Rahman langsung berlari menjauh dari tepi dan menepi dalam kehabisan tenaga, menangis histeris karena khawatir Abbasiyah akan menjemputnya lagi. 

Kakinya nyaris tak kuat mengangkat badan; ia lari sampai tak mampu lagi, persis seperti yang diceritakan para sejarawan Muslim di kemudian hari. Melihat pemandangan mengerikan itu, Abd al-Rahman berhasil melepaskan diri dari jeratan maut pertama pelariannya.

Setelah lolos dari derasnya Eufrat, perjuangan Abd al-Rahman masih jauh dari usai. Ia dan budaknya Badr bertahan hidup dengan berkelana menyusuri gurun dan lembah Afrika Utara. Menurut catatan sejarah, selama empat tahun ia “mengembara secara sembunyi-sembunyi di Afrika Utara di bawah perlindungan suku Berber (Nafza) dari garis keturunan ibunya”. 

Di sana tekad dan kecerdikannya diuji terus; beberapa kali ia nyaris tertangkap, namun selalu berhasil lolos berkat tipu muslihat dan bantuan sekutu. Pada akhirnya Abd al-Rahman menyeberang ke Andalusia (Spanyol) yang dikuasai Umayyad, lalu memanfaatkan dukungan puaknya di sana untuk mendirikan kekhalifahan baru.

Peristiwa dramatis saat menyeberangi Eufrat inilah yang membuat Abd al-Rahman dikenang sebagai “Rajawali Quraisy”. Bahkan para musuhnya mengagumi kisah keberanian ini. Khalifah Abbasiyah Abu Ja’far al-Mansur dilaporkan pernah bertanya siapakah yang pantas disebut Rajawali Quraisy – hingga akhirnya “jawabannya tidak lain adalah Abd al-Rahman bin Mu’awiyah” karena keberaniannya menyelematkan diri dari kepungan musuh. 

Dalam tulisan sejarah, Abd al-Rahman I digambarkan sebagai pribadi yang “berani nekat” dan pantang menyerah, bahkan berlari hingga kelelahan begitu berhasil mencapai seberang. Keberanian dan tekadnya itulah yang kelak mengokohkan namanya dalam sejarah sebagai pendiri Dinasti Umayyah di Spanyol.[]Adm


Sumber: 

  • https://www.arabamerica.com/abd-al-rahman-architect-moorish-spain/
  • https://english.enabbaladi.net/archives/2020/05/no-effective-solutions-for-random-swimming-in-euphrates/


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.