Header Ads


Cara Khilafah Mengatasi Krisis Ekonomi (Bagian 1)


INDONESIANEO-Pernahkah Daulah Islam mengalami krisis ekonomi? Yang membuat kehidupan masyarakat menjadi hancur-lebur bahkan membuat kelaparan di mana-mana? Tentu pernah.
Daulah Islam pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah mengalami krisis ekonomi yang hebat. Rakyat Daulah Islam kelaparan massal. Yang sakit pun ribuan. Roda ekonomi berjalan terseok-seok. Bahkan sudah sampai level membahayakan. Di antara masyarakat ada yang berani menghalalkan segala macam cara untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarganya. Bahkan binatang buas pun sampai berani masuk ke perkotaan.
Walhasil, krisis ekonomi ini, sungguh adalah sunnatullah. Bisa dialami oleh sebuah negara. Termasuk Daulah Islam. Yang menjadi pembeda adalah bagaimana Khalifah peduli dan memikirkan jalan keluar yang tepat dan cepat dalam mengatasi krisis ekonomi ini. Solusi yang tuntas dan menyeluruh. Bukan solusi tambal-sulam. Apalagi hanya sekadar basi-basi penuh pencitraan.
Syariah Islam ternyata telah menuntun Khalifah Umar dengan jelas hingga Ia mampu mengatasi krisis ekonomi yang hebat tersebut dengan baik dan cepat. Dalam buku The Great Leader of Umar bin Khathab, Kisah Kehidupan dan Kepemimpinan Khalifah Kedua, diceritakan bahwa pada tahun 18 H, orang-orang di Jazirah Arab tertimpa kelaparan hebat dan kemarau. Kelaparan kian menghebat hingga binatang-binatang buas mendatangi orang. Binatang-binatang ternak mati kelaparan. Tahun itu disebut sebagai tahun kelabu. Angin saat itu menghembuskan debu seperti abu. Kemarau menghebat. Jarang ada makanan. Orang-orang pedalaman pergi ke perkotaan. Mereka mengadu dan meminta solusi dari Amirul Mukminin.
Al-Faruq adalah sosok kepala negara yang paling peka perasaannya terhadap musibah itu. Ia amat merasakan beban derita rakyatnya. Ia segera mengambil langkah-langkah penyelesaian yang komprehensif lagi cepat.
Hal pertama adalah menjadi teladan terbaik bagi rakyatnya dalam menghadapi krisis ekonomi ini. Ia mengambil langkah untuk tidak bergaya hidup mewah. Makanan ia seadanya. Bahkan kadarnya sama dengan rakyat yang paling miskin atau bahkan lebih rendah lagi.
Pada masa-masa krisis ekonomi tersebut, Khalifah Umar diberi hadiah roti dengan campuran mentega. Ia kemudian mengajak seorang badui untuk makan bersama. Orang Badui pun melahap roti berlemak. Khalifah Umar berkata kepada dia, “Sepertinya kau membutuhkan roti berlemak itu.”
Si Badui menjawab, “Benar. Saya tidak makan mentega dan minyak. Saya juga tidak pernah melihat orang memakannya sejak lama hingga hari ini.”
Seketika Khalifah Umar bersumpah untuk tidak merasakan daging dan mentega hingga orang-orang sejahtera.
Para perawi sepakat, Umar benar-benar tegas dan sungguh-sungguh dalam memenuhi sumpah itu. Di antaranya, saat seloyang mentega dan satu kantong berisi susu dijual di pasar, pembantu Umar membelinya seharga 40 dirham. Kemudian datang dan berkata kepada Umar, “Amirul Mukminin, engkau telah menunaikan sumpahmu dan semoga Allah mengagungkan pahalamu. Ada sekantong susu dan seloyang mentega dijual di pasar dan aku membelinya seharga 40 dirham.”
Umar berkata, “Kau membelinya dengan harga yang mahal, bersedekahlah dengan keduanya karena saya tidak suka makan dengan berlebih-lebihan.”
Selanjutnya Umar berkata, “Bagaimana saya bisa memperhatikan kondisi rakyat bila saya tidak tertimpa apa yang menimpa mereka.”1
Ini adalah sebuah sikap kepedulian yang luar biasa dari seorang kepala negara terhadap penderitaan rakyatnya. Khalifah Umar tahu bahwa tanggung jawab seorang kepala negara sangatlah besar kelak di Hari Kiamat. Ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya dalam melayani urusan rakyatnya.
Pada masa krisis ekonomi itu, Khalifah Umar ikut menderita hingga diceritakan warna kulitnya berubah. Diriwayatkan dari Iyadh bin Khalifah, ia berkata, “Saya melihat Umar pada tahun kelabu berkulit kelam. Ia tadinya adalah orang Arab yang selalu makan mentega dan susu. Saat rakyatnya tertimpa paceklik, Khalifah Umar mengharamkan keduanya. Ia pun makan dengan minyak hingga warna kulitnya berubah, lapar dan haus.”2
Dalam riwayat lain, Aslam berkata, “Kami pernah mengatakan, ‘Andai Allah tidak melenyapkan musibah pada tahun krisis itu, kami yakin Khalifah Umar akan mati karena sedih memikirkan masalah kaum Muslim.’”3
Umar pun selalu berpuasa. Pada tahun kelabu, setiap sore ia diberi roti dilumuri minyak. Pada suatu hari ia menyembelih unta dan daging-daging terbaiknya diberikan pada orang-orang. Masya Allah. Inilah pribadi seorang kepala negara yang agung lagi mulia. Sosok kepala negara yang hanya bisa terwujud jika dia menjalankan dan terikat dengan syariat Islam semata.
Dalam riwayat lain diceritakan, pada suatu hari seseorang datang menghadiahkan setungku daging punuk dan hati. Umar bertanya, “Dari mana ini?”
Orang-orang menjawab, “Amirul Mukminin, dari unta yang kita sembelih hari ini.” Umar berkata, “Bagus, seburuk-buruk pemimpin adalah saya. Bila aku memakan daging terbaik, sementara saya memberikan tulang-tulangnya pada orang. Bawalah piring ini dan berikan kami makanan selain makanan ini.”
Roti dan minyak pun diberikan padanya. Khalifah Umar kemudian menyobek roti itu dengan tangannya dan melumurinya dengan minyak lalu berkata, “Celakalah kau Yarfa’.4 Bawalah mangkok besar ini. Bawalah ke penduduk Yasmagh5 karena saya tidak menjenguk mereka sejak 3 hari. Saya kira mereka memerlukan. Bagikan daging itu kepada mereka.”6
Inilah Al-Faruq. Inilah teladan kepemimpinannya dalam pemerintahan Islam yang sangat peduli dengan penderitaan rakyatnya. Rakyat memakan makanan yang lebih baik dari makanannya. Ia memikul beban pemerintahan dan beban kehidupan yang juga lebih berat darin yang dipikul rakyatnya. Ia lebih menderita dari derita yang menimpa rakyatnya.
Khalifah Umar tidak hanya memberlakukan aturan dan teladan tersebut bagi dirinya sendiri. Ia juga memberlakukan hal itu kepada keluarganya. Mereka juga harus lebih menderita dari derita yang dirasakan oleh rakyat.
Diriwayatkan, suatu ketika Khalifah Umar melihat buah semangka di tangan salah satu anaknya pada tahun krisis ekonomi. Ia langsung berkata padanya, “Bagus, bagus. Hai anaknya Amirul Mukminin, kau memakan buah, sementara umat Muhammad kurus kering.”
Anak itu pun keluar sambil lari dan menangis. Khalifah Umar tidak diam hingga ia menanyakan hal itu dan mengetahui bahwa anaknya membeli buah itu dengan setapak tangan biji-bijian.7
Rasa tanggung jawabnya atas pemerintahan di hadapan Allah yang membuatnya mampu mengatasi kesulitan-kesulitan diri. Ia tidak membiarkan satu pun media agama dan dunia untuk menanggulangi kemarau dan terhentinya hujan melainkan pasti dipakai. Ia selalu mendirikan shalat, selalu beristighfar, selalu gigih memenuhi kebutuhan makan kaum Muslim, memikirkan rakyat yang berjalan ke Madinah dan yang bertahan di perkampungan. Ia menaruh semua beban rakyat dalam pundaknya hingga menyebabkan karakter kerasnya menjadi begitu indah.
Begitulah sikap pertama yang dilakukan dan ditunjukkan Khalifah Umar dalam mengatasi krisis ekonomi. Ia menjadi orang yang pertama merasakan penderitaan rakyatnya secara langsung dengan berperilaku dan mengkonsumsi makanan dan minuman seperti yang dialami oleh rakyatnya. Ia juga memerintahkan kepada keluarganya agar bersikap yang sama. Ia sungguh-sungguh menjalankannya, bukan semata basa-basi politik. Dengan sikap seperti itu, Umar tahu betul bagaimana sengsaranya beban yang diderita oleh rakyatnya. Dengan itu ia bersungguh-sungguh memeras otak dan banting tulang mencari solusi yang tepat lagi cepat dalam mengatasi krisis ekonomi yang ada.
Adakah rezim-rezim yang ada di dunia, khususnya Indonesia, bersikap seperti ini ketika ada krisis? Wajar jika tidak ada. Karena mereka tidak menjalankan perintah syariat Islam, sebagaimana Khalifah Islam menjalani itu semua karena hanya melandaskan diri pada tuntunan syariah Islam.
WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. [Abu Umam]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.