Header Ads


Lima Cara Rasulullah Menghadapi Wabah dan Penderita Penyakit Menular


Masyarakat dunia tengah diuji dengan kehadiran wabah korona. Pandemi yang bersumber dari virus Covid-19 menjadikan beberapa negara mendeklarasikan kebijakan lockdown atau larangan keluar dan masuk suatu kawasan demi mengurangi proses penularan wabah.


Saran lain yang dipercaya bisa memperlambat laju persebaran penyakit menular adalah dengan cara menerapkan anjuran social distancing. Yakni, inisiatif pribadi untuk menghindari keramaian dan kerumunan, atau membuat jarak dengan orang yang sedang sakit.


Rasulullah Muhammad Saw juga pernah meneladankan sikap kepada para sahabatnya jika menghadapi wabah dan pengidap penyakit menular.

 Menghindar



Diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda;


"Larilah dari orang yang sakit lepra, sebagaimana kamu lari dari singa."
Nabi menyarankan umatnya untuk membentengi diri dari penyakit menular dengan tidak menganggap enteng beberapa faktor dan penyebabnya. Di antaranya adalah dengan menghindari kontak secara langsung dengan penderita penyakit menular.
Dalam hadis, Nabi mencontohkan penyakit kulit berupa lepra yang bisa menular melalui sentuhan kulit.


Tenggang rasa


Anjuran menghindari pengidap penyakit menular bukan berarti menunjukkan bahwa Nabi sepakat untuk mengucilkan penderita tersebut. Akan tetapi, langkah yang diimbau ini justru lebih menitik-beratkan kepada semangat kepedulian dan tenggang rasa.


Hal ini, sesuai dengan hadis riwayat Bukhari bahwa Nabi Saw pernah bersabda;
"Janganlah kamu lama-lama memandang orang-orang yang sedang sakit lepra."
Hadis ini merupakan penanda bahwa berkontak berlebihan dengan penderita penyakit menular di masa itu bisa memberikan dampak penderitaan pengidap dari sisi psikologis.

Tawakal


Berpasrah penuh kepada Allah Swt adalah jalan yang paling dianjurkan Rasulullah Saw. Ihwal penyakit menular, Nabi bersabda;


"Tidak ada penularan, tidak ada ramalan jelek, dan tidak ada penyusupan kembali (reinkarnasi) ruh orang mati pada burung hantu. (HR. Muslim).

Dalam Tadrib, Imam Suyuthi mencatat bahwa Ibnu Shalah mengatakan, pada hakikatnya penyakit itu tidak dapat menular dengan sendirinya. Akan tetapi Allah-lah yang membuatnya menular.
Sementara, proses penularannya memang diperantarai oleh proses percampuran antara yang sakit dan yang sehat melalui berbagai macam sebab yang berbeda.
Masih dari sumber yang sama, Al-Ghazali berpendapat, kesimpulan "ketiadaan penularan" itu merupakan ketentuan tetap dan bersifat umum. Sedangkan perintah menjauhi orang sakit tetap disarankan karena dalam rangka Syadzudz Dzarai, yakni menutup kemungkinan munculnyabahaya dengan tetap percaya kepada takdir Allah Swt, bukan pada sebab penularan yang dianggapnya tidak ada.


Bersabar


Nabi Muhammad Saw juga menganjurkan umatnya untuk bersabar ketika menghadapi wabah penyakit. Pernah ketika menghadapi wabah penyakit Thaun, Rasulullah bersabda;


"Tha'un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Kemudian Dia jadikan rahmat kepada kaum Mukminin." (HR. Bukhari).

Sabar dan tidak cepat panik menjadi solusi yang disarankan Rasulullah dalam menghadapi pandemi. Masih dalam hadis yang sama, Nabi melanjutkan;


"Tidaklah seorang hamba yang di situ terdapat wabah penyakit, tetap berada di daerah tersebut dalam keadaan bersabar, meyakini bahwa tidak ada musibah kecuali atas takdir yang Allah tetapkan, kecuali ia mendapatkan pahala seperti orang yang mati syahid."

  

Optimistis


Pesan yang tak kalah penting dari Rasulullah Saw ketika tertimpa musibah wabah adalah tetap membangun prasangka baik, optimistis, berdoa, dan tetap berikhtiar sekuat tenaga.


Rasulullah Saw bersabda;

"Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit, kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya. (HR. Bukhari)
Wabah korona hanya ujian, teguran, sekaligus rahmat dari Allah Swt agar manusia tetap mengingat kekuasan-Nya yang tiada berbanding. Berprasangka baiklah bahwa dengan kasih sayang-Nya, Allah akan segera mencabut cobaan ini dalam waktu yang tidak lama.
Sumber: Disarikan dari hadis-hadis dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim (Bab At-Thib), serta keterangan dalam Tadrib Ar-Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi karya Abdurrahman bin Kamaluddin Abu Bakr bin Muhammad Jalaluddin As-Suyuthi.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.