Header Ads


GAYA BUSANA WANITA BUTON DI NEGERI KHALIFATUL KHAMIS



Oleh: Wahyudi al Maroky
_(Dir. PAMONG Institute)_

Dalam masalah pakaian, masyarakat Buton memiliki budaya yang khas. Budaya itu tumbuh dan berkembang sesuai zamannya. Sejak zaman kerajaan, zaman Kesultanan, hingga zaman 'now'. Gaya busana mereka pun terus berkembang hingga kini.

Meski mengikuti perkembangan zaman dalam berbusana, namun mereka tetap memegang teguh prinsip-prinsp syariah islam. Mereka sangat menjaga agar dalam berpakaian yang utama adalah menutup aurat. Selebihnya mereka bisa berkreasi mengikuti trend busana yang berkembang.

Bagi masyarakat Buton yang berjuluk Negeri Khalifatul Khamis, ISLAM memang sudah mendarah daging dalam kehidupan. Bahkan sudah menjadi nafas hidup mereka. Islam bukan hanya sekedar dalam masalah ibadah ritual dan moral, tapi berbagai aspek kehidupan mereka mengikuti ajaran islam. Termasuk dalam tata cara berpakaian, khususnya bagi wanita untuk menutup aurat.

Terkait dengan gaya berpakaian ini, setidaknya ada tiga hal penting yang menarik dibahas:

PERTAMA; Pakaian bagi laki-laki buton tidak dibahas lebih jauh. Ini dikarenakan umumnya pakaian mereka sudah sesuai syariah. Bagi laki-laki, aurat itu hanya sebatas pusar hingga lutut. Sedangkan para lelaki buton umumnya sudah memenuhi standar ini.

KEDUA; Pakaian bagi wanita Buton ada penyesuaian. Ini dikarenakan batasan aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Mereka berpegang teguh pada hadits Nabi Muhammad SAW, “Wanita itu aurat” (HR. at Thabrani). Dan gaya berpakaian seperti ini sudah menjadi tradisi masyarakat buton.

Menurut Budayawan Buton, Dr La Ode Abdul Munafi mengisahkan, dulu bila neneknya kalau keluar rumah, minimal mengenakan tiga lapis sarung. Masing-masing, BAWAHAN, ATASAN, terakhir SALIBUMBU (penutup kepala) semacam kerudung. Jadi kalau keluar rumah, hanya wajah yang nampak. Saat berjalan Salibumbunya dipegang.

Busana tersebut lazim digunakan wanita Buton jika keluar rumah. Bukan hanya jika ada perayaan tertentu. Intinya setiap wanita keluar rumah harus berpakaian lengkap dan menutup aurat.

KETIGA; Salibumbu adalah penutup kepala semacam kerudung. Ini yang membedakan mereka dengan yang lain. Salibumbu yang merupakan bagian penutup kepala bagi wanita buton ini terus mengalami perkembangan. Zaman now, wanita Buton sudah jarang mengenakan Salibumbu. Mereka punya kreasi sendiri, kini sudah dimodifikasi menjadi, bagian bawahan dengan sarung Buton, dan kerudung untuk bagian atasnya.

Seiring perkembangan zaman dan mode busana, para wanita Buton pun terus berkreasi dalam pakaian mereka. Walaupun dimodifikasi, esensinya tetap sama, yakni menutup aurat. Kendati mengalami pergeseran, tapi tetap memiliki akar budaya dalam tradisi Buton.

Sementara menurut Kadis Pariwisata Wakatobi, Drs Nadar mengungkapkan di Tomia hingga kini wanitanya masih ada yang memengang tradisi itu. Mereka mengenakan baju, menutup aurat yang lahir dari tradisi Buton. Bahan dasarnya terbuat dari sarung Buton.

Ada berbagai jenis pakaian khas masyarakat buton. Untuk acara adat (Kombo Wolio), acara umum (Hebhalu-bhalu Tungka), pakaian kerja di kebun dan meluat (Kampuru Turumba), dan momen santai (Heolu Gima).

Tradisi menutup aurat juga dilakukan para wanita di berbagai gugus pulau di wilayah Buton Bila di Tomia untuk menutup kepala disebut dengan Hebhalu-bhalu tungka, di Wangiwangi (Tutu Bhalu), di Kaledupa (Bhalubhalu), dan di Binongko (Kampuru ofuta).

Sedangkan pakaian sarung yang diikatkan di badan, Wangiwangi (Kumbaea), Kaledupa (Kombongkombo), Tomia (Olugima), dan Binongko (Gima). Penggunaan pakaian tersebut kerap menjadi salah satu konten agenda pariwisata di Kabupaten Wakatobi.

Gaya berpakaian masyarakat Buton, terus berkembang sesuai kemajuan zaman. Sejak dikenal dengan julukan Negeri Khalifatul Khamis, kehidupan masyarakat Buton sangat dipengaruhi oleh tradisi kehilafahan islam.

Tradisi pakaian wanita buton ini menjadi unik karena berbeda dengan gaya busana pada umumnya. Oleh karenanya tradisi ini semestinya dilestarikan dan dikembangkan. Tabiik.

(disarikan dari Buku NEGERI KHALIFATUL KHAMIS, Terbitan WADIpres tahun 2019, yang ditulis oleh Irwansyah Amunu & almaroky)

NB; Penulis pernah belajar pemerintahan di STPDN angkatan ke-04 dan IIP Jakarta angkatan ke-29 serta MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.