Header Ads


PASUKAN SEMESTA IT HTI yang Mengagumkan

Oleh : Husain Matla


Mengapa saya sebut "semesta" ?

Karena massal dan sepenuh hati. Hal yang membuat saya berani menceritakan hal ini. Saya tidak khawatir kekuatan persenjataan canggih HTI, yaitu IT, bisa dikembari. Kalau bisa mengoperasikan teknologinya, sulit untuk membangun suasana massal dan sepenuh hati. Dan itu mencakup seluruh wilayah Nusantara. Sehingga sangat pantas disebut pasukan semesta. Tak kalah dengan pasukan semesta Trikora Bung Karno yang mengusir Belanda dari Irian Kaya, atau pasukan semesta Viet Kong yang mengusir AS dari Vietnam. Kekuatan pasukan semesta dengan bedil cantik bernama Hape ini sudah lebih dari setengah juta anggota. Dan kalau ada pihak lain berusaha mengimbanginya dengan pasukan bayaran, betapa mahalnya.

Sungguh, sebagai mantan mahasiswa IT, saya merasa bersyukur luar biasa. Ini adalah karunia Allah yang luar biasa buat para pejuang khilafah. HTI dengan pasukan semesta IT nya, insyaallah tak akan bisa dihentikan. Pembredelan badan hukum tak berarti besar buat HTI. Apa anda mempertanyakan identitas saya saat kaos yang saya pakai dan bertulis nama saya, saya copot? Selain itu membredel HTI dengan "kesalahan" berupa memperjuangkan khilafah, yang merupakan bagian syariat Islam, sama saja mengakui HTI sebagai Musa, dan memberi predikat pada rezim sendiri sebagai Fir'aun.

Mengapa saya bersyukur?

Saya pernah merasa "sakit" luar biasa ketika IT mendapat perlakuan "sewenang-wenang" dari makhluk yang bernama manusia awal milenium III. Game-game anak-anak yang sangat canggih dijual murah, lebih murah dari truk-trukan dari kayu, mainan anak yg dijual saat perayaan-perayaan. Dan game-game itu sangat tidak mendidik, hanya memperbodoh anak-anak. Apalagi sekarang di zaman Android. Sudah tinggal copy, melalaikan anak dari ngaji.

Serendah dan semurah itukah IT ?

Saya kuliah IT tahun 92-97, ketika IT masih elit, saat bisa kuliah IT itu besar perjuangannya. Ilmunya belum dipecah menjadi banyak disiplin ilmu dan banyak otomasi. IT, seperti elektro dan teknik sipil, adalah ilmu yang mahal. Berada di laborat di gedung teknologi berwarna biru, di malam yang dingin, membuat saya merasa, para mahasiswa yang utak-utik di depan komputer-komputer itu adalah orang-orang pilihan yang dipersiapkan mempunyai kemampuan khusus demi kebangkitan bangsa. Tak jauh dari IPTN nya Habibie.

Berikutnya, 10 tahun kemudian para programmer hanya jadi kuli untuk mainan anak-anak, yang sangat murah dan sangat tidak mendidik. Seremeh itukah IT..?

Tapi sekarang, IT diemban sebuah pasukan khusus dengan visi yang sangat mulia, dan telah berhasil membangun formula dan formasi untuk perjuangan semesta.

Formula perang dengan bedil cantik itu sangat mudah dan sulit untuk dihadang. Nampak sudah disiapkan supaya sangat user friendly dan dengan sistem pengamanan yang berlapis tiga. Saya tak perlu bercerita panjang. Karena itu bisa membocorkan kekuatan formula ini. Cukuplah anda yang kemarin dan hari ini mengikuti pertempuran ini bisa merasakannya.

Sungguh, suatu karunia besar dari Allah SWT jika para pejuang-Nya tidak ketinggalan zaman. Dan seharusnya memang fitrahnya begitu, karena rangsangan penggeraknya adalah ideologi bervisi surga.

Ketika Romawi dan Persia saling mengalahkan, tetapi tak bisa menguasai gurun dengan sempurna, sebenarnya bisa dibayangkan jika ada kekuatan yang sanggup menguasau gurun Arabia, Sahara, dan Gobi, maka dua kekuatan besar itu bisa tersungkur tertakhlukkan. Namun siapa bisa mengiasai toga gurun besar itu, yang tentu butuh pasukan dengan daya tahan kuat dan kuda-kuda yang sangat tangguh serta disiplin dan kekompakan yang melebihi pasukan Hitler.

Sebenarnya orang-orang dengan kekuatan seperti itu dan ketrampilan menggunakan kuda bertebaran di tiga gurun. Namun jumlah mereka sedikit dan watak mereka liar. Bagaimana mungkin mereka menjadi satu kekuatan yg terintegrasi dan masif? Namun Rustum, panglima Persia pada awal abad VII, berkomentar dengan sepenuh keterkejutan, "Umar telah mengajarkan sopan santun kepada anjing"'. Yang ia maksudkan adalah Khalifah Umar bin Khaththab terhadap pasukan muslim. Tentu rak mungkin Sayidina Umar bisa melakukan hal itu, bagaimana bisa? Tetapi, "hanya agama yang bisa menyatukan orang Arab," kata Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah. Tiga gurun, tiga lautan, dan tiga negara besar (Romawi, Persia, Turki) takhluk di bawah khilafah Islam. Pasukan berkuda mereka sangat cepat menjangkau daerah yg sangat luas dan menyatukan kota-kota yang sudah teratur.

Berikutnya, abad VIII kawasan Turania (Asia Tengah) berlimpah pemuda yang cekatan, kuat, dan rupawan. Tak beda dengan Amerika Latin yang menghasilkan pemain sepak bola andal yg menjadi rebutan klub-klub Eropa. Maka pemuda-pemuda itu menjadi rebutan berbagai penguasa muslim. Khalifah Mu'tashim Billah, sebagai pemimpin tertinggi menghimpun mereka sebagai resimen budak dengan kesetiaan penuh. Maka resimen ini menjadi tren di dunia Islam. Menghasilkan para panglima yang bersikap selayaknya "Al Adhiyat" (kuda perang yang berlari kencang). Loyal pada tuannya, namun tangguh dan cekatan, sesuai penjelasan Surat Al Adhiyat. Dan itu bertahan selama 700 tahun dengan munculnya versi tercanggih dari resimen jenis ini, pasukan Inkisyariyah (Jenissari) milik Kekhalifahan Utsmaniyah. Beberapa panglima handal seperti Saifuddin Quthus, Rukhnuddin Baibars, dan Zaganos Pasha, adalah produk resimen jenis ini.

Tahun 1453, umat Islam menghasilkan senjata canggih dan menakutkan lawan. Yaitu meriam raksasa buatan Orban, atas perintah Sultan Utsmani, Muhammad al Fatih. Meriam itu membuat negara-negara Eropa ciut nyalinya, tak beda dengan negara-negara sekarang melihat nuklir. Dengan kemenangan Al Fatih pada 1453 itu, meriam menjadi primadona di dunia muslim. Bahkan dikisahkan dengan bantuan meriam Utsmani lah Demak bisa mengalahkan Majapahit. Apakah Sultan Fatah dan Panglima Fatahillah terinspirasi nama dari Al Fatih (mengingat nama asli mereka bukan itu), kita tidak tahu. Tapi paling tidak spirit Turki Utsmani dan senjata tercanggihnya nampak menyebar ke berbagai penjuri dunia Islam.

Jika pasukan semesta IT HTI semakin terorganisir rapi, dengan tulang punggungnya serapi Jenissari, dengan panglima sehandal Saifuddin Quthus, betapa itu semakin menggetarkan dan menggentarkan?

"Tidak ada manusia yang pernah menjadikan agamanya seserius seperti yang dilakukan orang Islam. Ini tidak meragukan lagi, sebab utama dan kekuatan mereka melawan musuh-musuh mereka yang terpecah belah dan kepercayaannya memang lemah dan dangkal". (George Sarton, sejarawan AS, 2002)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.