Header Ads


Islam Solusi Alternatif, Tatanan Dunia dalam kondisi Pandemi (Part 1)



Oleh: Syahril Siddik, ST
(Pemerhati Kebijakan Publik)

Aktivitas sirkulasi dunia saat ini bisa dikatakan mengalami kelumpuhan, hampir seluruh dunia mengalami hal yang sama akibat transmisi Covid-19. Dunia pun berduka dengan banyaknya korban akibat wabah Covid-19 ini.

Kasus Virus Corona hingga Sabtu (9/5/2020), masih menunjukkan peningkatan kasus meskipun disejumlah negara terjadi tren penurunan angka kasus Covid-19.

Berdasarkan data Worldometers hingga Minggu (10/5/2020) pukul 10.22 GMT, terdapat total 4.118.326 kasus positif Corona diseluruh dunia. Kasus aktif yang tercatat adalah 2.390.239 orang, dengan 2.342.607 orang atau 98 persen dalam kondisi ringan, sedangkan 47.632 orang atau 2 persen dalam kondisi serius/kritis.

Terdapat 1.447.369 kasus sembuh atau 84 persen dari kasus Covid-19 yang sudah tertutup, sedangkan jumlah kematian mencapai 280.718 orang diseluruh dunia.

Melihat data kasus diberbagai negara, Amerika Serikat masih menjadi negara dengan angka kasus tertinggi, lebih dari 1,3 juta kasus.

Sementara itu, diberbagai negara, ada yang mulai melonggarkan lockdown atau penguncian. Merespons hal ini, WHO memberikan sejumlah peringatan untuk lebih berhati-hati. 

Pandemi ini akan sangat menghancurkan bagi masyarakat miskin dan rentan dibanyak negara, dapat memicu risiko meningkatnya kesenjangan. Di AS, lebih dari 60 persen populasi orang dewasa menderita penyakit kronis. 

Sekitar satu dari delapan orang Amerika hidup di bawah garis kemiskinan - lebih dari tiga perempat dari mereka hidup dari gaji fan lebih dari 44 juta orang di AS tidak memiliki cakupan kesehatan sama sekali.

Tantangannya bahkan lebih dramatis di Amerika Latin, Afrika dan Asia Selatan, dimana sistem kesehatan jauh lebih lemah dan pemerintah kurang mampu merespons. Risiko laten ini diperparah oleh kegagalan para pemimpin seperti Jair Bolsonaro di Brasil atau Narendra Modi di India untuk menangani masalah ini dengan cukup serius.

Dampak ekonomi dari Covid-19 akan sangat dramatis dimana-mana. Tingkat keparahan dampak tergantung pada berapa lama pandemi berlangsung dan bagaimana pemerintah nasional dan internasional merespons. 

Tetapi bahkan dalam kasus terbaik, itu akan jauh melebihi krisis ekonomi 2008 dalam skala dan dampak globalnya, yang mengarah pada kerugian yang bisa melebihi USD 9 triliun atau lebih dari 10 persen dari PDB global.

Dalam perkiraan ekonomi terbaru, IMF pangkas pertumbuhan ekonomi dan katakan bahwa dunia mungkin hadapi krisis terburuk sejak zaman malaise atau Depresi Besar di tahun 1930-an.

Dana Moneter Internasional, IMF, merilis Outlook Ekonomi Dunia musim semi pada Selasa (14/04) di tengah menyusutnya sebagian besar aktivitas ekonomi dunia akibat Wabah Corona.

Pemerintah berbagai negara telah menutup sebagian besar ekonomi nasional mereka dalam upaya mengekang perluasan pandemi.

(bersambung)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.