Header Ads


Idul Adha Berakhir, Agustus Merdeka?

Oleh: Anairasyifa (Relawan Media)

Tahun ini umat Islam dua kali berhari raya masih dalam situasi pandemi. Namun syariat hari raya tetap terlaksana dengan memperhatikan protokol kesehatan. Kurang lebih telah seminggu Idul Adha 1441 Hijriyah telah berakhir.  

Meskipun adanya pandemi tidak akan mengurangi esensi dari Idul Adha atau yang sering juga disebut Idul Qurban ini. Terlihat dengan adanya antusiasme masyarakat yang membeli hewan kurban meskipun tahun ini mengalami penurunan. Minimnya angka penjualan ini tak bisa dilepaskan dari pandemi yang menghantam telak berbagai sektor.

Berharap Pandemi Berakhir

Pandemi menghasilkan banyak krisis ikutan di berbagai sektor mulai dari sektor kesehatan yang mana berdasarkan data Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) per 1 Juni 2020, setidaknya ada 358 aduan terkait perawat yang bermasalah dengan gaji dan THR semasa pandemi. Fasilitas dan alat-alat kesehatanpun belum memadai, akibatnya terjadi kegaduhan antara masyarakat, nakes serta rumah sakit yang disinyalir adanya manipulasi korban positif covid demi tunjangan gaji.

Dalam sektor ekonomi, Indonesia diprediksi akan masuk ke jurang resesi ekonomi pada tahun 2020. Hal ini akan menjadi resesi pertama Indonesia sejak 1998 silam.

Prediksi ini seiya sekata dengan Bank Dunia yang turut memprediksi bahwa ekonomi Indonesia akan stagnan tahun ini karena pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 hanya nol persen. 

Dalam sektor social banyak terjadi kerusakan seperti generasi yang rela menjual diri demi memenuhi kebutuhan hidup dan membiayai pendidikan (membeli paket internet) serta rusaknya ketahanan keluarga dengan banyaknya KDRT. Sangat banyak masalah yang semakin menumpuk di negeri kita yang konon merdeka tanggal 17 Agustus ini.

Indonesia Tidak Berdaya

Antisipasi penanganan dan strategi mengurangi dampak buruk melalui agenda New Normal tidak mampu menjadi solusi. Indonesia dibuat babak belur tak berdaya dengan si corona. Pemerintah kalang kabut. Indonesia terjebak dengan aturan buatannya sendiri. Hal ini disampaikan dan disadari oleh Joko Widodo selaku pucuk pimpinan saat pidatonya pada pelantikan praja IPDN (Sindonews.com)

Tidak heran jika kita lihat memanglah pemerintah Indonesia telah terjebak dengan aturan buatannya sendiri. Hal ini bisa terlihat pada sikap pemerintah yang abai dengan korona pada awal virus ini belum ada di Indonesia. Bahkan saat korona merebak di Indonesia, pemerintah tidak mengindahkan saran dan mengundang para ahli kesehatan, nakes dalam mengambil keputusan. Bahkan infodemi (info pandemi) banyak berseliweran membingungkan masyarakat hingga kepercayaan kepada pemerintah semakin minim.

Realitanya, Indonesia bukan hanya terjebak dengan aturan yang dikeluarkan pada masa pandemi. Namun, pada kondisi normal pun aturan yang ada malah tidak mengutamakan rakyat. Sebut saja UU HIP, UU Ketenagakerjaan, UU Minerba dan undang-undang buatan yang cenderung berorientasi kepada kepentingan para kapitalis (pemilik modal). 

Inilah yang mesti disadari, jika manusia dijadikan pembuat aturan dan hukum terlebih di negara demokrasi-kapitalisme yang berasaskan selulerisme juga liberalisme. Aturan dan hukum bisa dibeli dengan uang dan suara terbanyak. Maka di momen Idul Adha kemarin, haruslah dipetik hikmah utamanya bukan sekedar menjadikannya hari makan daging kurban saja. 

Dan di momen menjelang hari "kemerdekaan" 17 Agustus, mari membuka nalar benarkah Indonesia telah merdeka? Jika merdeka dari perang dan penjajahan fisik memanglah iya. Sedangkan dalam bidang sosial, politik dan ekonomi masih terjajah oleh kapitalis (kolonialisme). Ini dibuktikan dengan Indonesia yang tercengkram utang dalam topeng investasi, serta tergerusnya SDA Indonesia.

Hukum Ilahi Solusinya

Idul Adha yang berlalu mengajarkan kita keikhlasan, pengorbanan dan kesabaran yang bertumpu pada ketaatan sebagai konsekuensi keimanan. Kita mungkin sudah khatam tentang kisah nabi Ibrahim AS yang hendak menyembelih anak yang telah dinantinya yakni nabi Ismail AS atas perintah-Nya, yang kemudian diganti dengan hewan oleh Allah Subhana Wa Ta'ala setelah melihat betapa taatnya keluarga Ibrahim AS. Saat inilah kita kenal dengan qurban. 

Di dalam Al Quran, ungkapan ketaatan nabi Ismail AS difirmankan:

“Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. [As-Shâffat/37:102]

Jadi, sabar bukan pasrah tanpa usaha. Sabar adalah teguh atau konsisten dalam ketaatan. Sebagaimana nabi Ismail konsisten dalam ketaatan kepada Allah. Dari Idul Adha kita mendapat pelajaran adanya ketaatan sempurna dan kesiapan berkorban meninggalkan seluruh orientasi individual dan materialistik menuju keinginan meraih ridla Ilahi. Serta tentunya hanya Allah saja selaku pencipta paling sempurna pembuat aturan bagi manusia bukan manusia itu sendiri.

Maka menjadi kebutuhan bagi umat untuk kembali pada sistem Ilahi dengan tegaknya seluruh syariat sebagai solusi. Sebagaimana saat ini sebuah kebutuhan untuk mendapatkan solusi atas krisis akibat pandemi. Ini semestinya menguatkan kesadaran seluruh komponen umat untuk taat sempurna pada seluruh aturan Sang Pengatur yakni Allah  Subhana Wa Ta'ala dan menguatkan tekad mengorbankan seluruh daya upaya untuk menegakkan aturan Allah dalam kehidupan.

Allah Subhana Wa Ta'ala berfirman:

"... Menetapkan (hukum itu) hanyalah hak Allah. Dia menerangkan kebenaran dan Dia pemberi keputusan yang terbaik.""

(QS. Al-An'am: Ayat 57)

"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?"

(QS. Al-Ma'idah: Ayat 50)

Semoga kita menjadi hamba yang selalu mengambil pelajaran dari tiap episode kehidupan. Semoga pandemi ini segeralah berakhir. Aamiin.

Idul Adha telah berlalu namun ketaatan harus tetap teguh. "Kemerdekaan" menanti, apakah kita telah merdeka, merdeka dari penghambaan kepada mahluk berganti menghamba pada pemilik semesta? Renungkanlah. 

Mari  jadikanlah aturan-Nya sebagai pengatur kehidupan kita secara menyeluruh. Tentunya hanyalah dalam naungan sistem Islam (khilafah) sebagai konsekuensi keimanan yang akan menjadikan kita merdeka.

‌Wallahualam bissawab.(*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.