Header Ads


Ramadhan, Membalut luka di Serambi Makkah.

Oleh: Yuli Mariyam*)


IndonesiaNeo, OPINI - Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa, bulan mulia turunnya Alquran itu menjadi bulan yang sangat ditunggu-tunggu bagi kaum muslimin, terkhusus warga Aceh, kota yang disebut sebagai serambi Makkah itu selalu antusias, menyambut bulan suci Ramadhan dengan tradisi Maugeng, dengan makan besar bersama keluarga, kerabat dan anak yatim. Yang membuat lebih Istimewa lagi adalah menu yang dihidangkan, dengan lauk rendang daging sapi atau daging kerbau yang ada hanya pada perayaan-perayaan tertentu. Namun kini sebagian warga Aceh harus bersabar karena kehilangan keluarga, masih tinggal di pengungsian, harta benda mereka terendam lumpur yang dibawa oleh banjir termasuk  didalamnya hewan ternak. Di  Aceh dan Kawasan Sumatera Utara serta Sumatra Barat yang mengalami bencana banjir pada bulan November tiga bulan lalu, kini masih berbenah. Di wilayah Aceh saja  sisa pengungsi korban banjir di Kabupaten Aceh Timur masih 675 kepala keluarga atau 2.368 jiwa. Jumlah itu tersebar di 14 titik dalam lima kecamatan, yaitu Kecamatan Simpang Ulim, Pante Bidari, Julok, Serbajadi, dan Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur (Kompas.com, 12 Februari 2026).

Kesan lambat yang dilakukan pemerintah dalam menangani kondisi ini tidak bisa dibuktikan dengan lambatnya pembangunan hunian sementara dan hunian tetap untuk masyarakat yang sampai saat ini masih tinggal di tenda-tenda pengungsian. Masyarakat belum bisa bekerja dan masih menggantungkan diri pada bantuan masyarakat lainnya, termasuk sanak saudara yang jauh, tetapi permasalahan lainnya muncul, Mentri Dalam Negri Tito Karnavian mengatakan bahwa Sebagian dana bantuan masih tertahan di Bea Cukai, dan itu bukan bantuan dari pemerintah melainkan bantuan dari saudara dan kerabat warga Aceh yang bekerja di Malaysia, jumlahnya tidak sedikit, yakni mencapai 500.000 jiwa ( Instagram rakyatacehnews. 23/2/2026) dari jumlah tersebut bisa dibayangkan berapa jumlah bantuan yang semestinya bisa digunakan untuk membantu kehidupan warga.


Saat Amanah di Tangan Penghianat

Ketika kapitalisme dijadikan sebagai sistem kehidupan, bentuk-bentuk penghianatan akan terus merajalela, bukan hanya menyangkut hubungan dalam keluarga, pertemanan, bertetangga ataupun bermasyarakat, penghianatan dalam negara seperti korupsi dan penyelewengan kekuasaan pun menjadi keniscayaan. Mengapa demikian? Semuanya terjadi karena sisitem ini menganut paham sekulerisme, yaitu menjauhkan aktifitas manusia dari penghambaan kepada sang pencipta, tidak ada lagi yang namanya halal haram, semua diukur dari asas manfaat, jika disana terdapat manfaat maka apa saja bisa diembat, meski hal tersebut adalah Amanah.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikulnya dan merasa takut akan amanah itu, lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat jahil.” (QS. Al-Ahzab: 72).

Amanah utama manusia adalah beribadah kepada Allah sebagai al Khaliq Al Mudabbir atau Sang Pencipta dan Pembuat aturan. Ketika manusia tidak memaknai perilakunya dengan ibadah, maka akan cenderung melakukan semua hal semaunya sendiri.  Maka itu Allah menciptakan manusia dengan seperangkat aturan berupa Alquran dan Assunna, jika keduanya dilakukan oleh individu maka akan menjadi individu yang baik, jika di kerjalakan oleh masyarakat maka akan menjadi masyarakat yang baik, begitu juga jika dilakukan pada suatu negara maka negara itu akan menjadi negara yang baik, tidak hanya baik tetapi juga memperbaiki. 

Bencana alam yang terjadi di Aceh adalah bentuk kerusakan yang dilakukakan oleh manusia, kayu-kayu gelondongan hasil pembalakan liar terbawa arus sungai karena curah hujan tinggi tak mendapati benteng pertahannya(Hutan). Keserakahan segelintir manusia menjadi penderitaan  bagi sebagian yang lain, bagaikan membunuh tanpa ada peperangan. Ditambah lagi  keputusan pemerintah yang menyatakan bahwa bencana di Aceh bukan bencana nasional juga bentuk penghianatan yang nyata, rakyat hanya diambil suaranya untuk pemilu dan penyedia kursi kekuasaan, sedang ketika rakyat menderita dalm bencana, rakyat harus bantu rakyat, pemerintah seakan angkat tangan. Tidak cukup sampai disitu, tidak tersalurkannya ba bantuan dari rakyat untuk rakyat karena terhambat bea cukai menampakkan kedzaliman penguasa terhadap rakyat yang harusnya diriayah dengan sungguh-sungguh.

Negara punya kewajiban menyediakan kebutuhan pokok masyarakat terkait sandang, pangan dan papan. Jika negara belum mampu memberikan secara gratis, paling tidak harga yang dipatok di pasaran terjangkau dan mudah didapatkan. Sebagai pengemban amanah umat para penguasa harusnya menyadari bahwa dirinya adalah pelayan, mereka digaji dari pajak yang dibayar oleh rakyat, bahkan dalam sistem Islam, para penguasa hanya mendapatkan santunan atau tunjangan kehidupan agar keluarganya tetap mendapat penghidupan yang layak, terkadang para khalifah atau pemimpin negara Islam tetap bekerja dengan membuat kerajinan untuk dijual, mereka mentauladani Rasulullah Saw yang tetap bekerja menganyam tikar disela-sela kesibukan beliau mengurus umat dan memperluas futuhat ke negri-negri sekitar agar seluruh alam mendapatkan cahaya Islam dan inilah bentuk ibadah tertinggi dihadapan Allah SWT.

Wallahua’lam bishowab.[]


*) Pendidik Generasi Tangguh

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.