Header Ads


Antara JKDN DAN DRAKOR

Oleh: Al Azizy Revolusi (Editor dan Kontributor Media)


Wapres RI, KH. Ma'ruf Amin menyebut drama Korea (Drakor) bisa menjadi inspirasi anak muda Indonesia. Hal itu disampaikan beliau saat memberi sambutansecara virtual pada peringatan 100 Tahun Kedatangan Warga Korea di Indonesia, Ahad (20/9) lalu.


Secara tidak langsung, pemerintah mendorong generasi muda untuk menonton Drakor. Padahal kita tahu, apa isi dari Drama Korea, selain hanya berupa khayalan alias fiksi, ceritanya tak jauh-jauh dengan aktivitas maksiat; pacaran, berkhalwat, buka aurat dan lain sebagainya.


Sikap berbeda ditunjukkan pemerintah terhadap film Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN). Gala premier-nya pada 20 Agustus lalu diblokir pemerintah hingga tiga kali. Film yang seharusnya mendapat apresiasi sebab dibuat oleh anak negeri sendiri.


Bila dibandingkan dengan Drakor, jelas JKDN lebih bisa memberikan inspirasi kepada generasi muda. Sebab film JKDN berbasis fakta dan sejarah yang otentik, bukan khayalan imajinasi seperti Drakor.


Secara konten, jelas JKDN lebih mendidik daripada Drakor yang menjerumuskan generasi muda khususnya Muslim dan Muslimah. Dengan menonton JKDN, kaum Muslim bisa mengetahui sejarahnya dan pengaruhnya terhadap Nusantara. Sementara Drakor tak jelas faedah apa yang didapatkan selain air mata dan tawa.


Pemblokiran film JKDN dan apresiasi Drakor semakin menunjukkan bahwa rezim ini adalah rezim sekuler dan anti Islam. Sebab bagaimana bisa produk dalam negeri dipersekusi sedangkan produk luar negeri dijadikan inspirasi?


Wallahualam bissawab.(*

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.