Header Ads


Meraih Ketakwaan Hakiki di Bulan Mulia

 


Oleh: Rima Septiani, S. Pd. (Freelance Writer)

 Setiap memasuki bulan Ramadan kaum muslim memiliki harapan untuk benar-benar mampu meraih ketakwaan hakiki pada diri masing-masing.  Sebagaimana yang Allah Swt. kehendaki. Seperti dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 183 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

 

Kata “takwa” berasal dari kata “waqa”. Artinya, melindungi. Maknanya, melindungi diri dari murka dan azab Allah Swt. Wujudnya dengan menjalankan semua perintah Allah Swt. dan menjauhi segala larangan-Nya. Yang halal dilakukan, yang haram ditinggalkan. Dalam seluruh aspek kehidupan. Tak ada rasa keberatan sedikit pun terhadap aturan Allah dan keputusan Rasulullah Saw.

 

Di dalam ayat ini, Allah Swt. menjelaskan bahwa puasa disyariatkan bagi hamba-Nya untuk meningkatkan dan menyempurnakan ketakwaan. Takwa mencakup seluruh kebaikan, melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dengan mengaharap keridaan-Nya.

 

Meskipun menjalani Ramadan kali ini dengan suasana yang berbeda, kaum muslim tetap menjalankan rutinitas ibadah dengan mengharap ampunan dari Allah Swt. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk keseriusan mendapatkan limpahan pahala di bulan yang mulia ini dan juga meraih derajat takwa.

 

Sungguh, keyakinan kita terhadap ujian wabah yang mendera bumi ini, merupakan konsep tauhid yang harusnya semakin membuat kita sadar bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Orang beriman harusnya bisa mengambil pelajaran dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah dan taat sepenuhnya bertakwa kepada Allah Swt.

 

Adapun ciri orang bertakwa adalah mengimani Al-Quran dan kitab-kitab yang Allah turunkan sebelum Al-Quran, mendirikan salat, meyakini yang gaib, meyakini akhirat, serta menginfakkan hartanya baik dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, mudah memaafkan kesalahan orang lain. Jika ia berbuat dosa, maka ia akan memohon ampun kepada Allah serta tidak meneruskan perbuatan dosanya dan masih banyak lagi ciri orang bertakwa lainnya.

 

Sikap ini akan menjadikan diri kita mampu mengerjakan semua apa yang ada di dalam kitab Al-Qur'an dan Sunah. Ketika sikap ini telah kita miliki maka ibadah puasa menahan lapar dan dahaga dari segala hal yang membatalkan mampu kita laksanakan, dan sikap takwa ini juga diharapkan mampu menjadikan kita sebagai insan yang taat secara kaffah baik dalam aspek individu, sosial dan negara.

 

Setiap mukmin pun hendaknya merealisasikan apa yang menjadi buah dari takwa ini, dengan berupaya menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya baik terkait dengan akidah, syariah, makan, minum dan akhlak. Muamalah yaitu ekonomi, politik, pendidikan, pemerintah, sosial, budaya maupun uqubat atau sanksi hukum seperti hudud, jinayat, ta’zir, maupun hukum lainnya.

 

Selain itu, ketakwaan ini harusnya tidak parsial seperti melakukan sebagian dan meninggalkan sebagian hukum lainnya, karena terwujudnya takwa yang sesungguhnya adalah dengan mewujudkan individu yang bertakwa, masyarakat yang beramar makruf nahi mungkar dan negara yang menerapkan syariat-Nya.          

 

Karenanya sudah selayaknya kita berupaya untuk mewujudkan dalam kehidupan dan memaksimalkan potensi dan kemampuan kita untuk mendapatkan limpahan kebaikan dan setiap keharaman yang bisa dicegah melalui ketakwaan individu, amar makruf nahi mungkar oleh umat dan penegakan syariah Islam secara kaffah.

 

Oleh karena itu, sebagai manusia yang insya Allah lulus dari medan Ramadan, tak layak mengabaikan dan mencampakkan Al-Qur’an. Terlebih syariat Islam hendaknya diamalkan secara sempurna tanpa pilih-pilih. Dengan itu, kaum muslim akan menjadi umat terbaik, khayru ummah dan terlepas dari segala bentuk kezaliman, keterpurukan, dan ketertindasan. Wallahu a’lam bi as-shawab.(***)

 

           

           

           

 

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.