Header Ads


Tatap Muka

Oleh: Jamil Ade
(Praktisi Pendidikan Kepulauan Buton)


Kerinduan siswa-siswi terhadap tatap muka di sekolah semakin besar semenjak adanya pandemi Covid-19 setahun lalu.  Apalagi setelah Mendikbud Nadiem Makarim pada Selasa (30/3/2021) dalam konfrensi pers daring di Gedung Kemdikbud resmi memutuskan untuk mewajibkan pembelajaran tatap muka kepada sekolah usai para pendidik dan tenaga kependidikannya telah menjalani vaksinasi Covid-19.

Selain wajib bagi pendidik dan tenaga kependidikan divaksin, kata Nadiem, tatap muka akan dilaksanakan secara terbatas dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang ketat. Jumlah siswa yang boleh tatap muka hanya diperbolehkan 50 persen dari total jumlah siswa dalam kelas. Akan tetapi opsi pembelajaran jarak jauh (PJJ) masih tetap diperbolehkan, jika ada orang tua siswa belum menghendaki adanya tatap muka dengan alasan Covid-19 belum berakhir.

Namun, dengan terus naik atau tingginya statistik angka positif Covid-19 di negeri ini hingga mencapai 18.872 kasus baru pada Jumat (25/6/2021) menjelang dibukanya tahun ajaran baru 2021-2022 pada bulan Juli 2021 mendatang , akankah Mendikbud tetap bersikukuh dengan pernyataannya? Atau impian dan harapan siswa-siswi untuk tatap muka tahun pelajaran 2021-2022 harus pupus kembali?

Apalagi pada Kamis (24/6/2021), Kepala Bidang Advokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Imam Zanatul Haeri di Jakarta meminta kepada Kemdikbudristek Nadiem Makarim untuk menunda rencana pembelajaran tatap muka terbatas pada Juli 2021 mendatang. (Liputan6.com)

Lalu, apakah program vaksinasi Covid-19 bagi pendidik dan tenaga kependidikan tidak cukup ampuh untuk melawan Covid-19, sehingga tatap muka harus tetap dilaksanakan? Ternyata tidak ada jaminan seseorang yang sudah divaksin akan terbebas dari serangan Covid-19.

Dan mengapa pula siswa-siswi begitu merindukan pembelajaran tatap muka di sekolah ketimbang pembelajaran PJJ atau online? Jawabannya karena pembelajaran tatap muka masih lebih baik. Walaupun ada yang mengatakan pembelajaran online ditengah pandemi Covid-19 lebih baik, namun ternyata pembelajaran online tidak bisa menggantikan pembelajaran tatap muka langsung di sekolah.

Dalam pembelajaran tatap muka langsung, siswa-siswi bisa lebih interaktif dengan guru-gurunya. Bahkan secara psikologi kedekatan siswa dengan guru lebih terbangun jika pembelajaran dilakukan secara tatap muka.

Melalui pembelajaran online, target ketercapaian kurikulum tidak menjadi keharusan. Padahal dengan ketercapaian kurikulum, siswa-siswi akan lebih “pintar” dan lebih mampu memahami pembelajaran dan materi belajar.

Media pembelajaran online, banyak anak didik yang kurang terdidik dengan ahlak terpuji. Padahal akhlak terpuji itu penting bagi perkembangan mental peserta didik dalam jangka panjang.

Pembelajaran online, banyak peserta didik tidak mampu memahami pembelajaran dengan maksimal. Padahal memahami pembelajaran itu sangat penting demi ketercapaian pengetahuan dan keterampilan siswa.

Dengan pembelajaran online, banyak siswa yang tidak bisa ikut pembelajaran karena tidak punya handphone android dan apalagi paket data. Padahal jika mereka tidak ikut pembelajaran online, mereka akan ketertinggalan materi belajar.

Semoga Covid-19 segera berakhir, sehingga tahun pelajaran 2021-2022 pada Juli 2021 mendatang dapat terlaksana, dan kerinduan siswa-siswi untuk kembali belajar normal tatap muka di sekolah bisa kembali dilaksanakan.(*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.