Header Ads


Empati Pejabat Sekuler dan Beratnya Suatu Jabatan

 


Oleh: Annisa Al Maghfirah (Relawan Media)


"Suara rakyat di butuh hanya saat di bilik suara"


Kalimat di atas semakin benar adanya. Di tengah carut marutnya negeri efek dari korona, empati pejabat teruji. Sayang, kebijakan dan narasi yang dihasilkan dan dilontarkan oleh rezim serta pejabat melemahkan psikis rakyat.  


Tak terhitung pernyataan blunder yang dikeluarkan pejabat di media-media. Bukan hanya blunder namun tak berpihak kepada rakyat. Bahkan tiada solusi untuk rakyat di ibu pertiwi yang menangis karena kurangnya materi atau kebutuhan mereka. Rakyat diharapkan di rumah saja tetapi tidak di jamin kebutuhannya. Sedang para pejabat digaji dari rakyat malah miskin empati.


Fakta Pejabat Sekuler saat PPKM

Seperti dirilis oleh suara.com (17/06/2021), komika Bintang Emon memberikan reaksi menohok atas pernyataan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD yang mengtweet menonton sinetron Ikatan Cinta saat masa PPKM. Bagi komika 25 tahun tersebut  apa yang disampaikan Mahfud adalah tanda sang menteri tak memiliki empati kepada rakyat Indonesia yang tengah kesulitan akibat pandemi Covid-19. Pernyataan yang tak perlu di sampaikan ke publik, karena kondisi negara  yang tengah krisis dan banyak orang susah akibat PPKM Darurat. 


Walau Bintang Emon sendiri tak menyebut nama dalam pernyataannya di sebuah video yang di unggahnya di Instagram. Namun tentu semua orang sepakat apa yang diucapkan Bintang untuk menyindir Mahfud MD. 


Ada lagi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno yang meminta para komedian dalam negeri berkolaborasi untuk menghibur masyarakat agar meningkatkan imunitas atau kekebalan tubuh di tengah meningkatnya angka kasus Covid-19. Permintaan itu disampaikan saat bertemu Persatuan Seniman Komedi Indonesia (Paski).


Pernyataan tersebut ditanggapi oleh nakes dengan akun twitternya @berlianidris yang menyebut bahwa kalian (maksudnya rezim dan pejabatnya) senua mundur, itu hiburan paling baik untuk masyarakat. 


Lalu ada pula Direktur Eksekutif Institute for Development on Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad yang menyoroti sejumlah menteri di Kabinet Presiden Joko Widodo alias Jokowi yang masih melakukan perjalanan ke luar negeri di tengah PPKM Darurat. Tauhid mengatakan perilaku para menteri ini belum menunjukkan adanya sense of crisis. Karena seharusnya perjalanan di luar negeri hanya mencakup bagaimana penanganan pandemi.


Mental Pejabat Sekuler bin Kapitalisme

Beragam fakta para pejabat tersebut menggambarkan miskinnya empati dan mentalitas pejabat atau rezim sekuler kapitalis. Mereka tidak berorientasi melayani pemenuhan kebutuhan rakyat. Asal bukan mereka, itulah yang tersurat dari lontaran kata,perbuatan dan kebijakan mereka. Bahkan menyerahkan gaji mereka sepenuhnya untuk tangani kebutuhan rakyat saja, mereka tidak lakukan. 


Maka kita patut mempertanyakan 'kedaulatan berada di tangan rakyat, prinsip dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, serta janji-janji manis dan pencitraan mereka. Bagi pejabat sekuler, jabatan adalah jalan untuk meraih materi dan kebahagiaan. Maka saat pemilihan begitu totalitas dalam meyakinkan rakyat, namun setelah itu menjadi orang yang mengumpulkan pundi-pundi uang demi membayar mahar ke parpol dan memperkaya diri serta keluarga. Seolah bagi mereka, cukup para lembaga kemanusiaan yang ada di tengah rakyat yang akan menangani semua kebutuhan rakyat di saat pandemi. Sesungguhnya begitulah tabiat rezim sekuler. Mereka lupa bahwa pertanggungjawaban berat menanti mereka kelak di akhirat. 


Kehadiran pemimpin ditengah rakyat sangat urgent. Bahkan pemimpin yang membawahi para bawahannya untuk bersama-sama melangkah dalam suatu urusan apatahlagi di kala pandemi. Pemimpin ditengah rakyat itu bagai seorang ayah dalam keluarga yang akan mengurus, mengayomi, dan menjaga rakyat. Sayang, pemimpin dalam sistem saat ini hanya melahirkan pemimpin yang zalim, pengkhianat, minus empati, ingkar janji dan hanya mementingkan kepentingan pribadi maupun kelompoknya.


Banyak pula yang berdalih, memimpin banyak rakyat itu tidak mudah. Yah, tidak mudah memang. Maka dari itu Rasulullah telah mengingatkan tentang jabatan, sebagaimana  sabdanya:

"Jabatan (kedudukan) pada permulaannya adalah penyesalan, pada pertengahannya kesengsaraan ( kekesalan hati) dan pada akhirnya azab pada hari kiamat" (HR. Thabrani). 


Jadi, pemimpin, pejabat atau orang yang diserahkan amanah dalam memimpin rakyatsangat akan berhati-hati dalam memimpin. Namun, dalam sistem sekuler saat ini seolah hal tersebut tidak ditakuti malah  banyak orang yang berebut jabatan. Bersumpah dengan Al Qur'an namun tak mengambil Al Qur'an sebagai petunjuk. Ujungnya, rakyat seolah mengurus dirinya sendiri. Sedang para kapitalis dan pejabat menikmati materi. Betapa mirisnya fakta jabatan di sistem sekuler bin kapitalisme ini. Sungguh berbeda jika dalam sistem Islam.


Memimpin itu Berat, Kamu Tidak akan Kuat!

Umat manusia pernah diurusi kepemimpinan yang luarbiasa kepeduliannya terhadap rakyat bahkan binatang dan lingkungan. Sistem tersebut berlangsung 1.400 tahun lamanya dan memimpin orang-orang yang berkulit merah, putih, dan hitam. Tidak ada beda dalam kepedulian baik yang muslim maupun non muslim selama sesuai syara. Itulah kepemimpinan dalam sistem pemerintahan Islam (khilafah). Dimana pemimpin dan para pejabatnya memimpin dengan berlandaskan kitabullah dan sunnah atau aturan pencipta manusia. 


Beratnya tanggungjawab suatu jabatan menjadikan pemimpin/pejabat dalam Islam terikat dirinya dengan Islam agar selamat dunia akhirat. Inilah mengapa Khalifah Umar bin Khattab sedih ketika terpilih menjadi khalifah mengganti Abu Bakar Ash Shiddik. Beliau takut jika salah dalam memimpin. Namun, ketika yang diikuti adalah aturan Allah semua hal yang dilakukan pun adalah yang terbaik.


Dalam kepemimpinan Umar bin Khattab radiyallahu anhu, pernah terjadi masa paceklik. Dan beliau bersumpah untuk tidak mengonsumsi daging dan minyak samin. Sehingga masa paceklik berakhir. Bahkan sangat takut jika keluarganya memperoleh makanan yang layak. Takut jika ada rakyatnya yang kelaparan. Itulah sebabnya beliau berjalan di hari untuk memastikan rakyatnya. Hingga pada suatu malam beliau dengan pundaknya memanggul gandum dari baitul mal untuk diberi kepada janda dan beberapa anaknya yang kelaparan akibat tidak ada makanan. 


Sungguh pemimpin seperti itu tidak akan didapati di sistem sekuler sekarang ini. Hanya kembali kepada sistem Islamlah sebaik-baik sistem. Yang mana pemimpin mengetahui fungsi kepemimpinannya yakni menerapkan seluruh hukum Allah dalam segala aspek kehidupan sehingga akan melayani, mengayomi, mengurusi serta menjaga rakyatnya. 


Menjadi pemimpin itu berat. Kita tidak akan kuat. Apalagi berhukum bukan dengan aturan Allah sungguh akan gawat. Sadar, mundurlah dan ambillah serta jadikanlah Islam untuk memimpin umat. Niscaya akan selamat dunia dan akhirat.


Wallahualam bissawab.(**)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.