Header Ads


Hijrah: Antara Ikhtiar Bumi dan Ketetapan Langit

 
Oleh: Sunarwan Asuhadi*)



Pengantar

Saat ini kita memasuki penghujung bulan Muharram 1443 H, sebuah bulan permulaan kelender Islam yang sarat dengan ibrah dan kandungan hikmah. Setelah 13 tahun Nabi Muhammad SAW membangun kekuatan dakwahnya yang bermetamorfosa dari bangunan keluarga, lalu kutlah (kelompok sosial), hingga mengitari puncak kekuasaan di Mekkah.

Berbagai ujian membersamai dakwah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Perjalanan dakwah beliau dibarengi dengan langkah-langkah yang terukur dan penuh keistikamahan, mulai dari upaya memperkenalkan Islam ke kerabat, masyarakat Mekkah, para kabilah-kabilah Arab yang menunaikan haji di Mekkah hingga permintaan perlindungan.

Setelah dakwah kekuasaan tidak berhasil di Mekkah dan justru mendatangkan tekanan yang bertubi-tubi pada Nabi dan sahabatnya, justru intensitas kontak Nabi Muhammad SAW tak surut sedikitpun. Ikhtiar tersebut membuahkan keberhasilan yang luar biasa setelah mampu meyakinkan kabilah suku ‘Aus dan Khazraj (yang di kemudian hari dikenal dengan Madinah).   


Konsep Perlindungan di Mekkah


Dalam sirah Ibnu Hisyam ditemukan sejumlah keterangan tentang perlindungan tokoh-tokoh berpengaruh di Mekkah terhadap sejumlah kaum muslimin di Mekkah.

Salah satunya adalah Abu Thalib terhadap Nabi Muhammad SAW. Berkali-kali pengaduan orang-orang Quraisy kepada Abu Thalib agar Nabi Muhammad SAW menghentikan dakwahnya, sampai mengajukan Imarah bin Al-Walid sebagai pengganti Muhammad SAW di sisi Abu Thalib. Namun Abu Thalib tetap bersikukuh melindungi Nabi Muhammad SAW, bahkan mengatakan kepada Muhammad SAW, “Keponakanku, pergilah dan katakan apa saja yang engkau kehendaki, karena sampai kapanpun aku tidak akan menyerahkanmu kepada siapapun”.

Konsep perlindungan seperti ini, dapat kita temukan maknanya pada peristiwa yang menimpa Abdullah bin Mas’ud. Ketika Rasulullah SAW bersabda, “Siapakah yang berani memperdengarkannya (bacaan al-Qur’an kepada mereka (Quraisy)?”. Ketika Abdullah bin Mas’ud menyanggupinya, para shahabat  berkata, “kami mengkhawatirkan keselamatanmu. Kami inginkan orang yang mempunyai keluarga yang dapat melindunginya dari kaum tersebut (Quraisy) jika mereka bertindak jahat”.

Begitupun juga, ketika sebagian shahabat kembali ke Mekkah dari negeri Habasyah, sebagian dari mereka masuk dalam perlindungan orang lain, yakni: Utsman bin Madz’un dalam perlindungan Al-Walid bin Al-Mughirah, Abu Salamah bin Hilal Al-Makhzumi dalam perlindungan Abu Thalib.  

Yang menarik adalah Rasulullah SAW selalu memaksimalkan perlindungan dari manusia (Abu Thalib) dalam dakwahnya, walaupun beliau senantiasa mendapatkan perlindungan dari Allah SWT.
Negosiasi Tokoh-Tokoh Quraisy

Tokoh-tokoh Quraisy dari setiap kabilah melakukan negosiasi dengan Nabi Muhammad SAW. Mereka mengatatakan’ “Jika dengan pembicaraan ini semua, engkau menginginkan kekayaan, kami akan mengumpulkan seluruh kekayaan kami hingga engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami". Jika dengan pembicaraan ini semua, engkau menginginkan kehormatan, maka kami menjadikan engkau sebagai pemimpin kami. Jika engkau menginginkan menjadi raja, kami mengangkatmu sebagai raja kami. Jika apa yang engkau alami adalah karena faktor jin yang tidak mampu engkau usir, kami akan mengeluarkan seluruh kekayaan kami sebagai biaya untuk mencari dokter hingga engkau sembuh darinya.”

Rasulullah SAW, mengatakan, “Apa yang kalian katakan tentang aku? Apa yang aku bawa kepada kalian tidak dengan maksud ingin mendapatkan kekayaan dari kalian, atau kehormatan di mata kalian, atau kekuasaan atas kalian. Namun Allah mengutusku kepada kalian sebagai Rasul, menurunkan Al-Kitab kepadaku, dan memerintahkanku menjadi pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan bagi kalian. Aku sampaikan pesan-pesan Tuhanku kepada kalian dan memberi nasihat kepada kalian. Jika kalian menerima apa yang aku bawa, itulah keberuntungan kalian di dunia dan akhirat. Jika kalian menolaknya, aku bersabar terhadap perintah Allah hingga Dia memutuskan persoalan di antara kita.”


Hijrah ke Habasyah

Ketika Rasulullah SAW melihat penderitaan yang dialami shahabat-shahabatnya, sedang beliau dalam keadaan segar bugar karena kedudukan beliau di sisi Allah SWT dan sisi pamannya, Abu Thalib; sementara beliau tidak mampu melindungi mereka terhadap penderitaan yang dialami, maka beliau menyarankan agar sejumlah shahabat melakukan hijrah ke Habasyah, karena ditakutkan akan mendapatkan penderitaan yang lebih berat lagi, dan lari kepada Allah dengan membawa agama mereka. Total laki-laki kaum muslimin yang melakukan hijrah ke Habasyah sebanyak 83 orang.

Pada saat hijrahnya kaum muslimin ke Habasyah, terungkap keislaman mereka, ketika dua orang utusan Quraisy mengadukan keislaman muhajirin kepada Raja Najasy, dengan maksud agar Raja Habasyah melepaskan perlindungan terhadap kaum muhajirin. Pada akhirnya, Raja Najasy berada di pihak kaum muslimin, walaupun sejumlah petinggi kerajaan Habasyah tidak mendukungnya.

Salah satu hasil dari hijrah ke Habasyah, pada suatu ketika, ada delegasi Kristen dari Habasyah yang menemui Nabi Muhammad SAW di Mekkah, yang kemudian sebagian dari mereka memeluk Islam walaupun mendapatkan gangguan dari orang-orang Quraisy.


Upaya Aktif Nabi Muhammad SAW dalam Thalabun Nushroh

Thalabun Nushroh oleh para ulama dimaknai sebagai fiqh siyasah (baca: metode politik) yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya. Metode inilah yang mengkonfirmasi jelas bahwa Islam mengharamkan proses pengambilalihan kekuasaan secara paksa. Tetapi kekuasaan itu ada di tangan ahlun nushroh (pemegang kekuasaan umat) melalui pertolongan dan perlindungan.

Ketika Abu Thalib telah meninggal dunia, orang-orang Quraisy dapat leluasa mengganggu Rasulullah SAW, tidak seperti gangguan yang mereka lakukan semasa hidup Abu Thalib. Kemudian Rasulullah SAW pergi ke Thaif guna mencari pertolongan dan perlindungan dari Tsaqif atas gangguan kaum Quraisy, dengan harapan mereka menerima apa yang beliau bawa dari Allah SWT.

Namun, di Thaif beliau mendapatkan penghinaan dari penduduk Thaif dan mengepung beliau, lalu beliau terpaksa berlindung di suatu kebun, sambil mengadu kepada Allah SWT, dengan aduan yang menyayat hati, “Ya Allah, kepada-Mu aku adukan lemahnya kekuatanku, minimnya usahaku, dan ketidakberdayaanku terhadap manusia, wahai Zat Yang Paling Penyayang. Engkau Tuhan orang-orang lemah dan Engkau Tuhanku… ”.

Di tengah gencarnya penentangan sejumlah tokoh-tokoh Quraisy menjauhkan manusia dari Islam, Nabi Muhammad SAW justru mengaktifkan penawaran beliau kepada sejumlah pemimpin suku di Jazirah Arab. Beliau menawarkan dirinya ke Bani Kindah dengan mendatangi pemukiman mereka, namun beliau tidak mendapatkan respon atas permintaan beliau.

Beliau pun menawarkan dirinya kepada Bani Abdullah, sebuah Kabilah dari Bani Kalb, namun mereka tidak menerima tawaran beliau.  Rasulullah SAW juga menawarkan dirinya kepada Bani Hanifah, juga Bani Amir bin Sha'sha'ah.

Beliau ajak kabilah-kabilah kepada agama Allah dan Islam, beliau menawarkan diri beliau kepada mereka petunjuk dan rahmat yang beliau bawa dari Allah. Jika Rasulullah SAW mendengar kedatangan orang-orang Arab yang tehormat ke Makkah, beliau segera menemui mereka, mengajak mereka kepada agama Allah dan menawarkan apa yang beliau miliki kepada mereka.


Kontak dengan Madinah

Suwaid bin Shamit, saudara Bani Amr bin Auf tiba di Makkah untuk melakukan ibadah haji atau umrah. Ketika Rasulullah SAW mendengar kedatangan Suwaid bin Shamit, beliau menemuinya dan mengajaknya kepada agama Allah dan kepada Islam.

Suwaid bin Shamit pergi dari Rasulullah SAW dan pulang ke Madinah untuk bertemu dengan kaumnya. Tidak lama setelah itu, Suwaid bin Shamit dibunuh orang-orang Al-Khazraj. Orang-orang dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami melihatnya dibunuh dalam keadaan Muslim’.

Ketika Abu Al-Haisar Anas bin Rafi' tiba di Makkah dengan anak-anak muda dari Bani Abdul Asyhal, termasuk di dalamnya Iyas bin Muadz guna mencari sekutu dari orang-orang Quraisy untuk menghadapi kaumnya dari AlKhazraj, maka Rasulullah SAW mendengar kedatangan mereka. Beliau mendatangi mereka dan duduk di tempat mereka. Beliau bersabda kepada mereka, 'Apakah kalian mau menerima kebaikan yang lebih baik daripada tujuan kedatangan kalian ke sini?' Mereka bertanya, 'Kebaikan apa itu?' Rasulullah SAW bersabda, 'Aku utusan Allah yang diutus Allah kepada hamba-hamba-Nya. Aku ajak mereka menyembah Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun dan Allah menurunkan Al-Kitab kepadaku.' Iyas bin Muadz, pemuda ingusan di antara mereka berkata, 'Hai kaumku, demi Allah, ini lebih baik dari tujuan kedatangan kalian.'

Tidak lama kemudian Iyas bin Muadz meninggal dunia. Orang dari kaumnya yang hadir pada saat kematiannya selalu mendengarnya mengucapkan tahlil, takbir, tahmid dan tasbih hingga ia meninggal dunia.

Sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya, setiap musim haji, Beliau selalu menawarkan dirinya kepada kabilah-kabilah Arab. Ketika beliau sedang berada di Al-Aqabah, beliau bertemu dengan beberapa orang dari Al-Khazraj, Rasulullah SAW bertanya, 'apakah kalian berasal dari teman-teman orang-orang Yahudi?' Mereka menjawab, 'Ya.' Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Bagaimana kalau kalian duduk sebentar agar aku bisa berbicara dengan kalian?' Mereka menjawab, 'Ya.' Mereka pun duduk bersama Rasulullah SAW. Beliau ajak mereka kepada agama Allah Azza wa Jalla, menjelaskan Islam kepada mereka dan membacakan Al-Qur'an kepada mereka.

Mereka menerima ajakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada mereka untuk membenarkan beliau dan menerima Islam yang beliau tawarkan kepada mereka.

Ketika kaum Anshar telah tiba di kaumnya, mereka bercerita tentang Rasulullah SAW kepada kaumnya dan mengajak mereka kepada Islam hingga Islam tersebar luas di tempat mereka dan tidak ada satu rumah pun dari rumah-rumah Anshar melainkan di dalamnya terdapat pembahasan tentang Rasulullah SAW. Pada tahun berikutnya, dua belas orang Anshar melaksanakan ibadah haji kemudian mereka bertemu Rasulullah SAW di Al-Aqabah yang dikenal dengan Baiat Al-Aqabah Pertama.

Ketika kaum Anshar hendak pulang ke negeri mereka, Rasulullah SAW mengirim Mush'ab bin Umair untuk mengajarkan Islam kepada mereka.

Mush'ab bin Umair berhasil mengislamkan sejumlah penduduk Madinah termasuk Usaid bin Hudhair dan Sa'ad bin Muadz. Kemudian ia pulang ke Mekkah, lalu pada musim haji, orang-orang Anshar yang telah masuk Islam pergi haji bersama kaumnya.

Pada musim haji itulah terjadi Baiat Aqabah kedua, yang merupakan Baiat Perang. Dan baiat perlindungan ini mengantar jalan hijrah kaum muslimin dari Mekkah ke Madinah termasuk Nabi Muhammad SAW.


Khatimah

Dari sirah di atas, nampak bahwa di balik keberhasilan dakwah Rasulullah SAW dalam peristiwa hijrah, ada ibrah perjuangan yang dilalui secara manusiawi. Hijrah bukanlah peristiwa 'Sim Salabim dan Abracadabra', tetapi merupakan wilayah ikhtiar serius manusia yang disempurnakan dengan ketetapan ‘langit’, ketetapan Allah SWT.

Puncaknya peristiwa hijrah menjadi pintu masuk peradaban bagi bumi yang sebenarnya, sebuah peradaban yang kebaikan dan keberkahannya tidak hanya mengaliri kehidupan kaum muslimin, tetapi menjadi rahmat bagi seru sekalian alam.

Hijrah menjadi suluh bagi gelapnya bumi, memancar dari Negara Madinah, Khulafaurrasyidin, Kekhilafahan Bani Umayah, Kekhilafahan Bani Abbasiyah hingga Kekhilafahan Bani Utsmaniyah. Sebuah kurun waktu sejarah peradaban yang panjang, sekira 1.300 tahun lamanya.

*) Ketua MASIKA ICMI ORDA Wakatobi

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.