Header Ads


Ada Penindasan Ilmiah Konservasi di Indonesia?

Ilustrasi tangan-tangan raksasa yang menguasai hutan


Konservasi di Indonesia berisiko, menurut tim peneliti yang mempelajari wilayah tersebut. Indonesia, yang merupakan rumah bagi hutan hujan tropis terbesar di Asia Tenggara dan lebih dari 17.500 pulau, adalah negara yang penuh dengan keanekaragaman hayati dan spesies terancam punah.

Namun, para ilmuwan yang mempelajari spesies dan ekosistem di wilayah tersebut dilarang masuk ke Indonesia, dan rencana konservasi diblokir. Dalam sebuah surat yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology pada tanggal 10 Juli, tim peneliti konservasi dengan pengalaman jangka panjang di Indonesia membahas penindasan ilmiah dan tantangan penelitian lain yang mereka saksikan saat bekerja di wilayah tersebut.

Mereka menawarkan saran tentang cara mempromosikan konservasi alam, melindungi transparansi data, dan berbagi penelitian dengan publik di wilayah ini dan wilayah lain di dunia. "Jika Anda melihat peta panas Bumi, dan di mana spesies terancam berada, Indonesia dan wilayah umum itu hanya meledak," kata ilmuwan lingkungan tropis William F. Laurance dari James Cook University, yang telah melakukan penelitian tentang dampak lingkungan dari pembangunan di Asia Tenggara selama lebih dari satu dekade.

Laurance dan rekan-rekannya mengatakan mereka merasa terdorong untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah yang dihadapi konservasi di Indonesia karena selama waktu mereka bekerja di wilayah tersebut, mereka menyaksikan banyak kasus ketika pemerintah dan perusahaan menghambat penelitian — termasuk milik mereka sendiri.

Misalnya, mereka menulis dalam surat tersebut, pada tahun 2022, lima peneliti konservasi terkemuka dilarang bekerja di Indonesia dengan dalih bahwa mereka memiliki "niat negatif" untuk "menjelek-jelekkan pemerintah". Para peneliti merujuk pada makalah tentang konservasi hutan dan pengelolaan satwa liar di Sumatra, untuk mana tim memiliki beberapa kolega dari Indonesia menolak menjadi penulis bersama "karena khawatir itu mungkin berdampak buruk pada pendanaan mereka, izin penelitian, atau peluang untuk kontrak komersial di Indonesia".

"Para peneliti berkata, 'Yah, tidak, Anda tidak bisa menceritakan cerita itu, meskipun itu benar, dan Anda tidak bisa mengidentifikasi saya atau menyertakan semua detail yang relevan.' Dan ini terus terjadi berulang-ulang. Ini adalah iklim ketakutan," kata Laurance sebagaimana dikutip oleh ScienceDaily. [IDN]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.