Header Ads


Kericuhan Prancis, Kegagalan Pluralitas di Negara Demokrasi

Ilustrasi Menara Eiffel di Perancis menangis


IndonesiaNeo.com -- Prancis belakangan ini tengah dilanda kericuhan penuh kekerasan yang menunjukkan sebuah kegagalan dalam menjalankan peran sebagai tempat peleburan masyarakat yang plural. 

Direktur Siyasah Institute, Iwan Januar sebagaimana dikutip oleh Media Umat (17/07/2023), mengungkapkan bahwa Prancis belum mampu menjadi melting point bagi warga yang berbeda suku bangsa, termasuk sayap kanan dengan berbagai ideologinya.

Ketegangan ini mencerminkan ketidakmampuan Prancis dalam mencapai makna dari jargon liberte, egalite, fraternite, yang seharusnya menegaskan nilai-nilai kebebasan, persamaan, dan persaudaraan bagi semua ras di negara tersebut. 

Namun, realitanya, banyak masyarakat Eropa, khususnya di Prancis, masih memegang keyakinan bahwa ras kulit putih mereka lebih unggul dari yang lain.

Insiden Nahel Merzouk, seorang remaja yang tewas dalam tangan polisi saat dihentikan karena melanggar lalu lintas, menjadi salah satu pemicu kerusuhan. Peristiwa ini menyoroti masalah rasialisme di Prancis. 

Hasil riset dari laporan situs Lemonade menunjukkan bahwa 9 dari 10 warga kulit hitam di Prancis pernah menjadi korban rasialisme. Tingginya angka ini mencerminkan pentingnya mengatasi isu rasialisme dalam upaya menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan adil.

Selain rasialisme, xenofobia juga menjadi prinsip yang dianut oleh banyak orang di Prancis. Prinsip ini mencerminkan perasaan takut dan benci terhadap orang asing, terutama kaum imigran. 

Meskipun masyarakat Prancis membutuhkan kehadiran para imigran untuk mendukung perekonomiannya, sentimen xenofobia masih hadir dalam masyarakat.

Sementara itu, islamofobia juga tetap menjadi isu yang relevan di Eropa, termasuk Prancis. Sebagai negara yang menganut prinsip sekular, sekat-sekat agama seharusnya telah terhapus.

Namun, kenyataannya, banyak kelompok sayap kanan di Eropa yang masih mengedepankan rasialisme dan islamofobia. 

Ini menimbulkan tantangan bagi dunia Islam untuk meyakinkan umat bahwa agama ini bukanlah ancaman seperti yang sering dipercayai. Islam dipandang memiliki peran lebih dari sekadar agama ritual, karena juga memiliki prinsip untuk membangun tata peradaban dunia baru.

Mengatasi isu-isu ini menjadi tugas bersama bagi masyarakat Prancis dan Eropa pada umumnya. Perlu upaya kolaboratif untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan menghormati keberagaman, di mana rasialisme, xenofobia, dan islamofobia dapat diminimalisir. 

Prancis harus mencermati dan mengevaluasi kembali peran sebagai melting point, sehingga mampu menciptakan harmoni dan kedamaian dalam pluralitas masyarakatnya.

Selain itu, dunia Islam juga harus berperan aktif dalam memberikan pemahaman yang benar tentang agamanya untuk mengatasi stereotip dan prasangka negatif yang beredar di masyarakat Eropa. 

Hanya dengan kerjasama dan saling pengertian, Prancis dan Eropa dapat mengatasi tantangan ini dan melangkah menuju masa depan yang lebih harmonis dan inklusif. [IDN]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.