Ibnu Muljam, Ahli Ibadah Pembunuh Ali bin Abi Thalib
IndonesiaNeo, TARIKH - Pada pertengahan abad pertama Hijriah, umat Islam memasuki fase paling berat dalam sejarahnya. Fitnah politik, perbedaan ijtihad, dan konflik bersenjata muncul setelah wafatnya Utsman bin Affan R.A. Dalam situasi inilah Ali bin Abi Thalib R.A diangkat sebagai khalifah keempat kaum Muslimin.
Ali dikenal sebagai sahabat terdekat Rasulullah SAW. Menantu beliau. Sepupu beliau. Dan pintu ilmu umat. Namun masa kepemimpinannya diwarnai perang Jamal, perang Shiffin, serta lahirnya kelompok Khawarij yang mengusung slogan agama dengan tafsir kaku.
Abdurrahman bin Muljam al-Muradi bukanlah orang awam. Ia dikenal sebagai ahli ibadah. Seorang zahid. Tekun membaca Al-Qur’an. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab R.A, ia bahkan dipercaya sebagai pengajar Al-Qur’an.
Ketika gubernur Mesir, Amr bin al-‘Ash R.A, meminta tenaga pengajar, Umar bin Khattab mengutus Ibnu Muljam dan berkata:
إني قد آثرتك بعبد الرحمن بن ملجم على نفسي
“Aku mengutamakanmu dengan mengirim Ibnu Muljam, padahal aku membutuhkannya.”
Ini menunjukkan bahwa secara lahiriah, Ibnu Muljam adalah orang berilmu dan dipercaya oleh para sahabat besar.
Setelah perang Shiffin dan peristiwa tahkim (arbitrase), sebagian pasukan Ali keluar dari barisan dan membentuk kelompok Khawarij. Mereka menolak keputusan manusia dalam konflik politik dan menganggapnya sebagai bentuk kekufuran.
Ibnu Muljam termasuk yang terpengaruh paham ini. Ia menilai Ali bin Abi Thalib telah menyimpang dari syariat karena menerima tahkim. Dari sinilah benih kebencian tumbuh. Kesalehan yang dahulu tampak berubah menjadi fanatisme yang keras.
Pada 19 Ramadhan tahun 40 Hijriah, ketika Ali bin Abi Thalib R.A keluar menuju Masjid Kufah untuk menunaikan salat Subuh, Ibnu Muljam melancarkan aksinya. Dengan pedang yang telah dilumuri racun, ia menghantam dahi Ali.
Saat melakukan serangan itu, Ibnu Muljam membaca firman Allah:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ
“Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya demi mencari keridaan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 207)
Ayat suci digunakan sebagai legitimasi pembunuhan. Dalam keyakinannya, ia sedang beribadah. Dalam hakikatnya, ia sedang melakukan dosa besar terhadap pemimpin kaum Muslimin.
Ali bin Abi Thalib wafat dua hari kemudian, pada 21 Ramadhan 40 H, akibat racun yang menyebar di tubuhnya.
Peristiwa ini sejatinya telah diperingatkan oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda kepada Ali:
أَشْقَى الْآخِرِينَ الَّذِي يَضْرِبُكَ عَلَى هَذِهِ…
“Orang paling celaka dari generasi akhir adalah yang memukulmu di ubun-ubun hingga darahnya membasahi janggutmu.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim)
Hadis ini menjadi bukti bahwa pembunuhan tersebut bukan sekadar peristiwa politik, tetapi tragedi iman dan akal.
Setelah Ali wafat, Ibnu Muljam dijatuhi hukuman qishas. Namun hingga saat akhir, ia tetap meyakini dirinya berada di atas kebenaran. Ia bahkan meminta agar hukumannya dilakukan perlahan agar ia dapat merasakan “kenikmatan” disiksa di jalan Allah.
Inilah gambaran kesesatan yang paling berbahaya: keyakinan salah yang dibungkus ibadah.
Hudzaifah bin al-Yaman R.A pernah berkata:
إِنَّمَا الْفِتْنَةُ أَنْ تَرَى الْحَلَالَ حَرَامًا وَالْحَرَامَ حَلَالًا
“Fitnah adalah ketika yang halal engkau anggap haram, dan yang haram engkau anggap halal.”
Tarikh Ibnu Muljam mengajarkan bahwa banyak ibadah tidak selalu berbanding lurus dengan kebenaran. Ilmu tanpa kerendahan hati melahirkan kehancuran. Agama tanpa hikmah berubah menjadi alat pembunuhan.
Semoga Allah menjaga umat ini dari fitnah kesalehan palsu. Menjaga hati kita agar tetap lurus. Dan meneguhkan kita di atas kebenaran yang diwariskan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.


Post a Comment