Header Ads


Ingat Tahun Baru Masehi, Ingat Jatuhnya Granada 1492

Ilustrasi jatuhnya kekuasaan kaum muslimin di Granada Spanyol


IndonesiaNeo, TARIKH - Pada setiap tahun baru Masehi, kaum muslimin akan diingatkan dengan peristiwa Granada. Tepatnya 2 Januari 1492, Sultan Abu ‘Abdillah Muhammad XII (dikenal sebagai Boabdil) menyerahkan kunci Istana Alhambra di Granada kepada Raja Ferdinand II dan Ratu Isabella I. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Islam di Semenanjung Iberia setelah sekitar 7,5 abad sejak penaklukan awal Andalusia tahun 711 M. 

Sebelumnya, Andalusia pernah mencapai masa keemasan di bawah Dinasti Umayyah. Misalnya, di zaman Khalifah Abd al-Rahman III (abad ke-10), Kota Cordoba berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan dunia. Ilmuwan Muslim seperti al-Zahrawi (di bidang kedokteran) dan Ibnu Rusyd (filsuf) membuat sumbangan besar pada kemajuan ilmu pengetahuan global. Di tengah masyarakat Andalusia juga sempat tercipta “convivencia”, toleransi antaragama, yang menjadi simbol harmoni budaya Islam, Kristen, dan Yahudi.

Namun keagungan ini mulai memudar karena masalah internal. Kerajaan Andalusia terpecah-pecah menjadi beberapa taifas kecil dan perang saudara antar-penguasa Nasrid melemahkan posisi politik umat Islam. Persaingan dinasti dan perebutan kekuasaan membuat sumber daya Andalusia terpecah. Akibatnya, dibandingkan dengan kemajuan ilmu pada masa lalu, Andalusia menyaksikan kemunduran intelektual dan budaya ketika konflik internal tak kunjung usai.


Proses Runtuhnya Granada

Setelah hampir satu dekade Reconquista, pasukan Katolik Castile-Aragon mengepung Granada dari 1482 hingga 1492. Akhirnya, setelah pertempuran panjang dan isolasi diplomatik, Sultan Boabdil menandatangani penyerahan kota. Pada 2 Januari 1492 Boabdil menyerahkan kunci Istana Alhambra kepada Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Menjelang penyerahan, Ferdinand sebenarnya menjanjikan perlindungan hak-hak Muslim di Granada. Namun, janji itu hanyalah tipu daya agar kota tersebut menyerah tanpa perlawanan besar.

Usai penyerahan, hak-hak kaum Muslim langsung disusutkan. Di tahun yang sama (1492) Ferdinand dan Isabella menerbitkan Dekret Alhambra yang mengusir kaum Yahudi dari Spanyol, dan segera menyusul tekanan kepada umat Islam. Pada 1502, semua Muslim yang tersisa di Granada diwajibkan memeluk Katolik atau meninggalkan wilayah itu. 

Ribuan keluarga Muslim terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka; sebagiannya menyamar menjadi Katolik secara resmi (dikenal sebagai Moriscos) namun tetap memelihara tradisi Islam secara rahasia. Akhirnya, dari tragedi Granada inilah mengalir diaspora besar-besaran umat Islam—baik mereka yang pergi ke kekhalifahan Ottoman dan Afrika Utara, maupun generasi Moriscos yang terusir beberapa dekade kemudian hingga pengusiran massal Moriscos pada 1609–1614.


Dampak Jatuhnya Granada terhadap Umat Islam

Jatuhnya Granada bukan hanya masalah lokal: ia mengakhiri kehadiran politik Islam di Eropa Barat. Spanyol bersatu sebagai negara Katolik yang militan, dan Inkuisisi melekat dalam pemerintahan baru itu. Identitas Kristen Spanyol dikonstruksi secara tegas berlawanan dengan Islam. Bahkan pada tahun yang sama Columbus berlayar ke barat dan membuka era kolonialisme Dunia Baru. Secara historis, hal ini mencerminkan pergeseran perhatian kekuatan Eropa dari perang agama ke ekspansi global. Energi militer Kristen Katolik beralih membangun kekaisaran koloni di Asia dan Amerika, menandai titik awal kolonialisme modern.

Bagi dunia Islam, kejatuhan Granada menjadi peringatan pahit. Andalusia (Al-Andalus) dulu menjadi pusat peradaban Islam; warisan ilmiah, arsitektur, dan seninya menjadi bukti jaya sejarah Islam. Setelah 1492, Andalusia hanya tinggal puing dan kenangan. Jejak Muslim Spanyol tersisa di beberapa bangunan (seperti Masjid Cordoba yang kini menjadi katedral) namun nyaris hilang dalam kehidupan sehari-hari. Tragedi inilah yang menginspirasi para cendekiawan modern untuk mengingat bahwa “pencapaian peradaban tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga persatuan dan stabilitas internal”.


Faktor Penyebab Keruntuhan

  • Perpecahan Internal: Selama abad ke-15, pemerintahan Nasrid kerap dilanda perebutan kekuasaan. Konflik internal dan pemberontakan kecil (muluk al-taḥdid) melemahkan Andalusia. Sementara itu, para raja Kristen di utara semakin bersatu dan gencar menyerang. Dalam catatan sejarah, Gibraltar, Toledo, hingga Cordoba dan Seville telah jatuh satu per satu jauh sebelum Granada. Kekuasaan Granada pun tinggal sisa, menjadikannya “benteng terakhir” Islam di Spanyol.
  • Kemunduran Ilmu dan Budaya: Andalusia dulunya gemilang dalam ilmu pengetahuan, tetapi pergolakan politik menghentikan banyak sekolah dan perpustakaan. Tanpa dukungan politik yang kuat, tradisi riset perlahan hilang. Akibatnya, Andalusia kalah dalam perlombaan inovasi militer dan ekonomi. Bandingkan dengan bangsa Kristen Eropa yang pada saat itu mengembangkan teknologi senjata (misalnya penggunaan meriam) secara efektif.
  • Kekuatan Militer Kristen: Ferdinand-Isabella berhasil menyatukan dua kerajaan besar (Castile dan Aragon) lewat pernikahan mereka pada 1469, sehingga sumber daya militer mereka terkonsentrasi. Pasukan Kristen menggunakan taktik modern dan persenjataan berat (seperti artileri) untuk menyerbu benteng Granada. Akibatnya, pasukan Nasrid yang terpecah-pecah tak mampu bertahan: Granada akhirnya dikepung dan ditaklukkan.


Pelajaran Penting bagi Umat Islam

Sejarah Granada mengandung banyak hikmah bagi umat Islam masa kini, terutama dalam hal persatuan, kekuatan intelektual, dan identitas budaya:

  • Persatuan Umat: Jatuhnya Granada menunjukkan bahwa bentrokan internal dapat lebih melemahkan daripada serangan musuh. Ketidakmampuan menjaga persatuan geopolitik di Andalusia membantu pasukan eksternal menjatuhkan benteng terakhir Islam. Seperti dikatakan para penulis modern, “kegagalan menjaga persatuan geopolitik” menjadi akar kekalahan Andalusia. Umat Islam di masa kini diingatkan untuk menghindari furqah (perpecahan) dan terus memperkuat ukhuwah.
  • Kekuatan Intelektual: Kejayaan Andalusia dahulu banyak berakar pada tradisi ilmu dan pendidikan. Untuk membendung kemunduran, generasi sekarang diharapkan mencontoh semangat itu: menghidupkan kembali riset, inovasi, dan kecintaan terhadap ilmu. Andalusia mengajarkan bahwa keunggulan ilmiah adalah sumber kekuatan peradaban.
  • Kesadaran Sejarah dan Identitas Budaya: Andalusia menyadarkan umat Islam bahwa pentingnya menjaga identitas budaya. Warisan Islam di Spanyol yang hilang mengingatkan kita untuk menghargai akar sejarah. Kekuatan umat terletak pada “kesadaran sejarah, kematangan politik, dan solidaritas lintas wilayah”. Generasi muda Muslim perlu mengenang peradaban Andalusia sebagai inspirasi, bukan penderitaan semata.

Dengan memahami kisah Granada dari perspektif sejarah modern, umat Islam diharapkan dapat mengambil pelajaran agar kejayaan kembali dapat diraih: melalui persatuan yang kokoh, pengembangan ilmu pengetahuan, dan kebanggaan terhadap warisan Islam.[]Adm


Sumber:

  • https://jatimkini.com/news-2811-sejarah-kelam-umat-islam-di-granada
  • https://analisis.republika.co.id/berita/t87lzp393/granada-1492-dan-jalan-panjang-kolonialisme-di-nusantara
  • https://media.neliti.com/media/publications/23711-ID-islam-di-spanyol-kemunduran-dan-kehancuran.pdf
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Granada




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.