Jaʿfar At-Thayyar, Manusia Dua Sayap
IndonesiaNeo, TELADAN - Jaʿfar bin Abu Thalib adalah sepupu dan sahabat Nabi Muhammad SAW yang namanya amat dikenal dalam sejarah Islam. Ia termasuk satu dari lima keturunan Abdi Manaf yang wajahnya konon sangat mirip dengan Rasulullah SAW, serta terkenal sebagai sosok pemberani, lembut, dan dermawan. Karena kedermawanannya, Nabi pernah menyebut Jaʿfar sebagai “Bapak kaum miskin”.
Berkat keberanian dan keteguhannya pula, Jaʿfar dijuluki Sayyidul Asy‑Syuhada (pemimpin para syuhada) dan bahkan dijanjikan akan mendapat “dua sayap di surga” sebagai penghargaan ilahi.
Sejak kecil Jaʿfar hidup dalam lingkungan Quraisy Jahiliyah. Setelah Islam datang, ia termasuk di antara yang pertama beriman dan hijrah ke Habasyah (Etiopia) bersama 83 lelaki dan 19 wanita demi melindungi iman mereka dari tekanan kaum Quraisy. Di negeri Raja Najasyi Jaʿfar menjadi juru bicara kaum Muslimin.
Dengan kepiawaiannya berdakwah, ia membacakan kepada sang raja Surah Maryam dan menjelaskan ajaran Islam dengan tenang. Terharu oleh kebenaran yang didengarnya, Raja Najasyi bahkan menangis mendengar bacaan Jaʿfar tentang kisah Maryam dan Isa AS. Setelah beberapa tahun dalam perlindungan Najasyi, Jaʿfar kembali ke Madinah dan disambut hangat Rasulullah SAW.
Berkat pengalamannya ini, ia dikenal tak hanya sebagai pejuang, tapi juga sebagai seorang diplomat dan dai yang cerdas serta tabah.
Tahun ke-8 Hijriah, Nabi SAW mengirim pasukan ke Muʿtah (Syiria) untuk membalas kezaliman kaum Romawi. Zaid bin Haritsah diberi komando, dan Jaʿfar ditunjuk sebagai wakilnya jika Zaid gugur. Ketika pertempuran berkecamuk, Zaid terbunuh saat memegang panji Nabi. Jaʿfar kemudian mengambil alih bendera Islam dan maju menerjang musuh.
Panji kaum Muslimin pada masa Nabi Muhammad SAW terdiri dari dua jenis utama: ar-Rayah (panji hitam) atau panji perang, dikibarkan saat pertempuran dan al-Liwa’ (panji putih) atau panji komando, berada di sisi pemimpin pasukan, keduanya bertuliskan kalimat tauhid:
لا إله إلا الله محمد رسول الله
Dalam perjuangannya yang heroik, tangan kanannya terpotong oleh pedang musuh namun ia tetap mencengkeram panji dengan tangan kiri, kemudian tangan kirinya pun terputus. Bahkan setelah kedua tangannya putus, Jaʿfar memeluk panji itu erat-erat ke dadanya sampai akhirnya ia gugur syahid.
Riwayat mencatat bahwa jasad Jaʿfar ditemukan penuh luka tusukan (lebih dari 90 tusuk dan anak panah) di bagian depan, tanda bahwa ia tidak berbalik mundur dari musuh.
Atas keberaniannya ini Nabi SAW kemudian berkata bahwa Jaʿfar mendapat julukan At‑Thayyār (yang terbang) atau “Jaʿfar dengan dua sayap karena keberaniannya”.
Kabar gugurnya Jaʿfar disambut sedih oleh kaum Muslimin, tetapi Rasulullah SAW menghibur keluarga Jaʿfar dan umat Islam. Beliau menegaskan bahwa Allah SWT menggantikan kedua tangan Jaʿfar dengan sepasang sayap di surga. Suatu riwayat menceritakan bagaimana Nabi saw. saw menceritakan:
“Ya Rasulullah, siapa yang engkau ajak bicara tadi?” sahabat bertanya.
“Jaʿfar bin Abu Thalib datang mengunjungiku bersama jutaan malaikat. Allah mengganti kedua tangannya dengan dua sayap; dengan sayap itu ia terbang ke mana pun ia suka di Surga,” jawab Nabi.
Sebagai perwujudan dari kabar itu, anak-anak Jaʿfar dan umat Islam meyakini bahwa di akhirat kelak Jaʿfar benar-benar akan memiliki sepasang sayap untuk terbang di taman-taman surgawi. Kisah ini menjadi mahsyur: di surga Jaʿfar bebas melayang-layang dengan kedua sayapnya, sebagai balasan atas keberanian dan pengorbanannya mempertahankan panji Islam di dunia.
Selain keberanian berperang, Jaʿfar juga dikenal memiliki akhlak mulia. Rasulullah SAW pernah bersabda tentang kedekatan Jaʿfar dengan dirinya: “Engkau, wahai Jaʿfar, wajahmu mirip denganku dan akhlakmu seperti akhlakku”. Hal ini menunjukkan betapa Jaʿfar meneladani sikap lembut dan sabar Nabi. Ia amat dermawan—selalu membantu fakir miskin—sehingga Nabi juga memanggilnya “bapak orang-orang miskin”.
Di balik kesaktiannya di medan perang, Jaʿfar ternyata lemah lembut, penyayang, dan rendah hati. Kepemimpinannya pun ditunjukkan saat Muʿtah: tanpa ragu ia maju menghadapi musuh meski pasukannya jauh lebih sedikit, mengamalkan prinsip bahwa dalam Islam kita berjuang bukan dengan kekuatan jumlah, melainkan dengan kejujuran dan keteguhan iman.
Kisah Jaʿfar At-Thayyār memberikan teladan bagi generasi Muslim: bahwa keberanian membela kebenaran dan pengorbanan tanpa pamrih akan mendapat balasan istimewa dari Allah SWT. Ia rela mengorbankan jiwanya demi panji Islam, hingga diterima Allah sebagai syuhada dengan kemuliaan luar biasa.
Kita belajar bahwa berani dan pantang mundur dalam menghadapi tantangan jalan Allah, serta senantiasa berbuat baik kepada sesama (termasuk orang miskin), adalah sifat terpuji yang dekat dengan hati Nabi SAW. Semoga kisah Jaʿfar menginspirasi kita untuk meneladani keberanian, kepemimpinan, dan keteguhan imannya, serta keyakinan bahwa Allah tidak akan sia-siakan pengorbanan hamba-Nya.[]Adm
Sumber:
- https://kaltimtara.republika.co.id/posts/512775/ja-far-bin-abi-thalib-bapak-kaum-miskin-yang-terbang-di-surga
- https://www.islamicfinder.org/knowledge/islam-and-sunnah/battle-of-mutah-ghazwah-mutah/
- https://www.islampos.com/allah-memberikan-dua-sayap-untuk-jafar-128678/
- https://kalam.sindonews.com/read/417180/70/kisah-heroik-jafar-bin-abi-thalib-pemilik-2-sayap-di-surga-1620068715/10


Post a Comment