Header Ads


Jejak Islam Pertama di Nusantara, Perdagangan atau Misi Peradaban?



IndonesiaNeo, TARIKH - Kalau kita buka buku-buku sekolah, Islam diceritakan datang “secara damai melalui pedagang”. Kedengarannya manis, tapi sejarahnya jauh lebih dalam dan lebih besar dari sekadar transaksi jual–beli. Islam masuk ke Nusantara melalui jalur maritim Samudera Hindia, jaringan raksasa yang menghubungkan Makkah–Yaman–Gujarat–Pasai–Aceh–Jawa–Maluku. Dan siapa yang menguasai jalur ini pada abad ke-12 hingga 16? Bukan pedagang biasa, tapi komunitas global umat Islam yang terhubung ke pusat peradaban, termasuk Khilafah Abbasiyah dan kemudian Utsmani.


1. Islam Datang Lewat Jaringan Ulama, Bukan Sekadar Pedagang

Banyak manuskrip Nusantara—seperti Hikayat Raja-raja Pasai—menyebut kedatangan ulama Yaman, Persia, Arab Hijaz, dan Gujarat yang sekaligus membawa fiqh, akidah, dan tradisi ilmu. Mereka bukan “salesman agama”, tapi representatif peradaban Islam yang sudah mapan di Timur Tengah.

Maka, Islam tak hanya menetap sebagai akidah pribadi, tapi langsung membentuk struktur sosial: hukum pernikahan, muamalah, wakaf, qadhi, sampai tata kota pelabuhan.


2. Kota-kota Pelabuhan Menjadi “Mini Madinah”

Begitu Islam masuk, kota-kota pelabuhan di Sumatra Utara dan Aceh berkembang jadi pusat pemerintahan bergaya Islam. Kesultanan Samudera Pasai adalah contoh paling awal. Pasai mencetak koin emas bertuliskan kalimat tauhid—sebuah tanda bahwa Islam datang membawa sistem, bukan sekadar spiritualitas.

Pelabuhan-pelabuhan itu berfungsi seperti “rest area intelektual” bagi para ulama dan pelaut muslim yang bergerak dari Laut Arab menuju Pasifik.


3. Mengapa Islam Diterima Sangat Cepat?

Karena Islam hadir dalam format peradaban: ada aturan dagang yang adil, ada hukum waris, ada perlindungan bagi masyarakat kecil, dan ada ikatan solidaritas global bernama ukhuwah islamiyyah.

Masyarakat Nusantara yang sudah lama hidup dalam sistem feodal Hindu-Buddha merasakan perbedaan itu secara nyata. Dalam konteks ini, Islam datang sebagai “upgrade sosial-politik”, bukan hanya agama baru.


4. Bukti Koneksi Global: Nisan Malik al-Salih & Ulama Berbahasa Arab

Nisan Sultan Malik al-Salih (1297 M) di Aceh bertuliskan bahasa Arab dengan gaya kaligrafi yang sama seperti batu nisan di Gujarat dan Yaman. Ini bukti keras bahwa Nusantara terhubung langsung dengan pusat Islam, bukan menerima Islam dari pedagang anonim tanpa jejaring global.


5. Islam Datang Bersama Visi Peradaban

Inilah poin penting: kedatangan Islam di Nusantara sinkron dengan ekspansi intelektual Islam di dunia. Islam memberi identitas baru: menyatukan pelabuhan, memodernisasi tata kota, dan membangun struktur politik berbasis syariah. Kedatangan ini bukan iseng atau sekadar efek samping perdagangan, tapi bagian dari arus besar penyebaran Islam lintas samudera yang terhubung ke khilafah.[]


Sumber: Telegram JKDN

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.