Lidah Api Emas Sang Mualaf: Mengenal Teuku Markam, Patriot dari Rimbun Gayo
IndonesiaNeo, TARIKH - Di etalase sejarah Indonesia, namanya mungkin tak seharum Sjafruddin Prawiranegara atau secemerlang B.J. Habibie. Namun, sumbangannya pada negeri ini terpatri dalam simbol nasional yang paling sakral: Monumen Nasional (Monas). Dialah Teuku Markam, pria Aceh tangguh yang menyumbangkan 28 kilogram emas murni untuk melapisi lidah api di puncak Monas. Bukan sekadar filantropis, ia adalah kisah tentang tanah Gayo, perang kemerdekaan, bisnis, dan spiritualitas yang menggetarkan.
Dari Rimba Raya ke Medan Juang
Lahir tahun 1925 di Gunung Karang, Kampung Pasir, Aceh Tengah, darah aristokrat Aceh mengalir deras di nadinya. Sejak remaja, alam pegunungan Gayo telah menempa jiwa mandiri dan keras. Namun, zaman tak memberinya kesempatan untuk bersantai. Perang memanggil. Di usia belia, ia sudah terjun ke kancah Revolusi Kemerdekaan sebagai pejuang. Tak cuma bertempur di Aceh, Teuku Markam juga turut serta dalam operasi militer di Jawa, bukti bahwa nasionalismenya melampaui batas etnis dan pulau.
Pasca-kemerdekaan, jiwa petualangnya membawanya ke dunia bisnis. Ia merintis PT. Karkam, perusahaan yang bergerak di berbagai sektor: perdagangan, perkebunan, hingga kontraktor. Kejujuran dan ketegasannya menjadi legenda. Saat proyek pembangunan jalan di Aceh terhambat, dialah yang dengan caranya sendiri “mendorong” proyek itu hingga selesai. Bisnisnya menjulang, kekayaannya melimpah. Tapi, hati kecilnya bertanya: untuk apa semua ini?
Emas untuk Monas Indonesia
Titik baliknya adalah ketika Presiden Soekarno menggagas pembangunan Monas sebagai simbol “api tak kunjung padam” perjuangan bangsa. Saat pemerintah kesulitan mencari emas untuk melapisi lidah api, Teuku Markam mengulurkan tangan. 28 kilogram emas disumbangkannya dengan ikhlas. Bukan untuk populeritas, tapi untuk bukti cintanya pada Indonesia. Emas itu adalah wakaf nyata seorang anak bangsa yang pernah merasakan pahit-getirnya mempertahankan kemerdekaan.
Bagi kita, generasi milenial yang sering skeptis pada elite masa lalu, aksi Teuku Markam ini layak direnungkan. Di era dianggap “serba susah”, justru ada orang yang rela menyedekahkan hartanya untuk simbol negara, tanpa embel-embel “branding” atau “endorsement”. Ia melakukannya dengan sembunyi, dengan iman.
Jalan Panjang Menuju Cahaya
Di balik kesuksesan materi, ada pergulatan batin yang mendalam. Teuku Markam terlahir dalam keluarga non-Muslim. Namun, hidayah memiliki jalannya sendiri. Menurut sejumlah sumber lisan di Aceh, perjalanan spiritualnya melalui pencarian panjang. Hingga akhirnya, dengan keyakinan penuh, ia mengucapkan Syahadat, menyempurnakan identitasnya sebagai seorang Muslim.
Proses mualaf ini menambah dimensi spiritual pada narasi hidupnya. Ia bukan lagi sekadar saudagar kaya atau patriot, tapi juga pencari kebenaran yang menemukannya dalam Islam. Keputusannya untuk memeluk Islam di tengah lingkungan yang mungkin berbeda, mencerminkan karakter Aceh yang kuat dan independen, sekaligus hati yang lembut untuk menerima hidayah.
Warisan yang Terkikis Zaman
Ironisnya, di akhir hayatnya, Teuku Markam justru berhadapan dengan rezim Orde Baru. Dituduh terlibat “gangguan keamanan”, ia dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan yang jelas. Hartanya diambil alih, namanya dicemarkan. Ia wafat tahun 1985 dalam kondisi yang jauh dari gemerlap harta yang pernah ia miliki.
Namun, sejarah kini mulai berlaku adil. Peneliti muda, termasuk dari generasi kami, mulai membuka arsip-arsip tua, mengumpulkan kesaksian, dan merekonstruksi jasanya. Teuku Markam adalah korban sekaligus pahlawan dalam narasi bangsa yang kompleks.[]
Sumber: Telegram JKDN


Post a Comment