Header Ads


Layakkah Mereka Disebut Ahlu Sunah?



Oleh: Syahril Abu Khalid
(Pemerhati Kebijakan Publik)


Sungguh aneh, ada suatu kaum yang menyatakan diri mereka berjuang untuk tauhidullah, padahal pada saat yang bersamaan mereka menolak perjuangan penegakkan syariat Allah dalam bingkai Negara Khilafah.

Sementara disisi lain mereka menganggap sah pemerintahan yang tegak dalam bentuk sistem kufur demokrasi.

Apapun kemaksiatan penguasa itu, mereka diam, dan mereka hanya berkoar-koar di mimbar-mimbar majelis ilmu yang kering dari upaya membangkitkan umat, dimana konten kajian-kajian mereka selalu mempertajam wilayah ikhtilaf (perbedaan) di ranah yang lapang. 

Namun yang lebih aneh lagi, mereka mengkritik dengan serampangan tanpa penelaahan fakta secara jernih, mengenai upaya saudara-saudara mereka yang telah berikhtiar dan berusaha melakukan amar makruf nahi munkar dengan menasehati penguasa agar tidak melalaikan hak-hak umat.

Parahnya lagi, mereka memakai dalil-dalil dalam perspektif sistem pemerintahan Islam untuk menghukumi sistem pemerintahan kufur hari ini, bahwa pemimpin harus dihormati walaupun dia zalim kepada rakyatnya.

Dimana umat digiring agar memahami bahwa sistem ini sah, dan telah sesuai dengan Islam. Lagi-lagi mereka menghukumi fakta dengan dalil-dalil yang tidak sesuai dan tidak pada konteksnya. 

Namun dengan percaya dirinya mereka mengatakan bahwa merekalah manusia-manusia yang bermanhaj salaf.

Pertanyaannya: 
Tauhid apa yang mereka perjuangkan? 
Seperti apa makna Tauhid yang mereka gembar-gemborkan? Bagaimana gambaran real masyarakat Islam yang bertauhid? Seperti apa pokok dan rincian bagian-bagiannya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang tidak dapat dijawab. Pasti tidak akan mampu dijawab secara benar, kalaupun mereka menjawab, maka mereka pasti akan menjawab tauhid itu dalam sudut pandang "fardiyah" (individual). Karena mereka tidak melihat secara komprehensif bangunan Islam secara mendasar dan menyeluruh.

Sementara kita melihat, negeri yang dimana cara berpikir mereka lahir belumlah mencerminkan sistem pemerintahan Islam yang sesuai dengan sunah yaitu Khilafah, namun dengan bangganya mereka mengatakan ini adalah daulah tauhid. 

Tauhid yang mana? 

Sistem perekonomian yang diklaim sebagai negara tauhid itu justru mengadopsi sistem kapitalisme yang berbasis pada riba, jadi tauhid yang mana?

Mungkin mereka akan mengatakan kepada saudaranya yang menulis ini tidak paham tauhid. 

Biarlah, silahkan mereka mengklaim seenak perutnya. Menjadi pertanyaan kritisnya adalah apa semua umat ini sesat sehingga menyimpulkan tauhid persoalan utama umat?

Saya runut satu-satu yah!

Masalah penjajahan Palestina oleh zionis Israel, apakah itu persoalan tauhid? Pembantaian saudara kita di Rohingya, Suriah, Irak, Afganistan, India, Uighur dan sejumlah negeri-negeri Islam yang lain apakah itu murni masalah tauhid?

Jika jawabannya ya, maka solusinya bacakanlah kitab tauhid yang dibangga-banggakan itu, yaitu kitab "ushulus tsalasah" (tiga pokok tauhid) yang anda pahami, apakah dengan demikian masalah kaum muslim selesai?

Sekali lagi persoalan umat Islam di akhir zaman ini begitu kompleks, tidak hanya masalah nyawa dan darah, akan tetapi juga masalah ekonomi kapitalisme yang ribawi, sistem politik yang oportunistik, sistem pergaulan masyarakat yang rusak dan hedonis, hukum buatan manusia yang tidak adil, yang menggeser kedudukan Allah sebagai pembuat hukum, serta berbagi macam problem umat Islam yang lain. 

Dengan realitas itu, sungguh telah menjadikan fakta bahwa masalah tauhid adalah masalah furu (cabang) dari masalah ushul (pokok), yaitu tidak tegaknya Sistem Islam yang menerapkan seluruh hukum yang diturunkan oleh Allah SWT.

Pertanyaannya kemudian, layakkah anda menyandang gelar Ahlu sunah? Sementara anda tidak memahami masalah umat dengan benar dan menyeluruh.

Siapkah mereka?

Ya, mereka adalah orang-orang yang mengaku diri paling sunah, mereka memproklamirkan diri sebagai Salafi. Namun klaim salafi ini penuh dengan kedustaan, dan sangat apik dalam hal mengelabui umat Islam.

Pertanyaannya dari manakah istilah salafi ini mereka catut? 

Istilah ini lahir sebagai bentuk penyamaran dari fakta sejarah kelam yang penuh dengan darah umat Islam. 

Berdirinya negara Saudi sesungguhnya tidak lepas dari gerakan bersenjata yang disebut dengan gerakan Wahabi. Gerakan ini merupakan gerakan tanzim bersenjata yang di pimpin oleh Muhammad bin Saud.

Gerakan Wahabi muncul sebagai bagian dari langkah politis yang dimanfaatkan oleh Inggris untuk melakukan pemberontakan terhadap negara Khilafah Utsmaniyah.

Syaikh Muhammad Abdul Qodim Zallum rahimahullahu ta'ala menyatakan:

في عام ١٨٠٤ هاجمت حركة محمد بن عبد الوهاب مكة واحتلت فيها في نفس الوقت. في ربيع عام ١٨٠٤ ، سقطت المدينة في أيديهم. لقد دمروا القبة الكبيرة المستخدمة لإيواء قبر النبي صلى الله عليه وسلم وجردوا جميع الأحجار الكريمة والحلي. بعد الانتهاء من الاستيلاء على منطقة الحجاز بأكملها ، تحركوا نحو الشام بالقرب من مدينة حمش.

"Pada tahun 1803 gerakan Muhammad bin Abdul Wahhab (Wahabi) menyerang Makkah sekaligus mendudukinya. Pada musim semi tahun 1804, Madinah jatuh ke tangan mereka. Mereka menghancurkan kubah besar yang digunakan untuk menaungi makam Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan mempreteli seluruh batu perhiasan dan ornamen-ornamen yang sangat berharga. Setelah menyelesaikan perampasan seluruh wilayah Hijaz, mereka bergerak menuju Syam mendekati kota himsh". (Syaikh Muhammad Abdul Qodim Zallum rahimahullahu, Kaifa hudimatil Khilafah/hal. 8).

Dari penjelasan diatas, jelas gerakan Muhammad bin Abdul Wahhab (tokoh Wahabi) dan Muhammad bin Saud seorang pemimpin kabilah Bani Anzah adalah gerakan pemberontak, mereka melakukan pemberontakan terhadap negara yang sah yaitu negara Khilafah Utsmaniyah dengan mendapatkan dukungan dari Inggris.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang ulama bermazhab Hanbaliy, ia berijtihad dalam beberapa masalah. Ia memandang bahwa kaum muslim yang mengikuti mahzab lain berbeda dengannya dalam sejumlah perkara.

Lalu ia menyerukan pendapatnya, mengamalkannya sekaligus menyerang dengan sengit pendapat-pendapat lain. Akibatnya ia menghadapi perlawanan dan penentangan yang bertubi-tubi dari sejumlah ulama, pemimpin dan tokoh masyarakat.

Dengan posisi seperti itu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab kemudian bertemu dengan Muhammad bin Saud yang merupakan antek Inggris. 

Maka Muhammad bin Saud memanfaatkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk mendukung dakwahnya dan melakukan pemberontakan bersamanya untuk menghancurkan mazhab-mazhab lain yang berseberangan dengannya.

Namun disisi lain Muhammad bin Saud punya ambisi yang kotor untuk melawan negara Khilafah Utsmaniyah, dalam rangka merebut wilayah-wilayah Islam dengan bantuan Inggris.

Syaikh Muhammad Abdul Qodim Zallum rahimahullahu ta'ala menyatakan:

تقدم بريطانيا الأسلحة والأموال لهم. ثم واصلوا جهودهم للاستيلاء على أراضي المسلمين الذين كانوا تحت حكم الخلافة. قاموا بانتفاضة مسلحة ضد الخليفة.

حاولت الحركة الوهابية الاستيلاء على الأراضي التي يقودها الخليفة. الهدف هو أنه يمكنهم ترتيب المنطقة وفقًا للمذاهب التي يعتنقونها وفي نفس الوقت تدمير المذاهب الأخرى بالعنف.

"Inggris memberikan bantuan senjata dan dana kepada mereka. Lalu mereka meneruskan upaya untuk merampas wilayah kaum Muslim yang berada dalam kekuasaan Khilafah. Mereka melakukan pemberontakan bersenjata terhadap Khalifah. 

Gerakan Wahabi berupaya merampas wilayah yang dipimpin oleh Khalifah. Tujuannya agar mereka dapat mengatur wilayah tersebut sesuai dengan mazhab yang mereka anut sekaligus menghancurkan mazhab lain dengan kekerasan". (Kaifa Hudimatil Khilafah/hal.8).

Inilah fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri oleh kaum "Mutakabbiruun" (sombong) ini. Dari sini kita menjadi paham kenapa mereka diam, dan tidak pernah berbicara politik Islam dengan benar.

Mereka bermudah-mudahan dalam mentahdzir (vonis peringatan) kepada golongan lain yang tidak sependapat dan sepaham dengan mereka dalam banyak hal.

Mereka sangat lihai dalam mengelabui umat Islam. Dengan selalu mengklaim diri sebagai pengikut salaf sebagai upaya penyamaran dari sejarah kelam Wahabi. 

Istilah Wahabi pun mereka kritik dari segi bahasa tetapi mereka berpura-pura dengan melupakan substansi dari fakta politik berdirinya negara Saudi sebagai hasil dari pemberontakan kepada negara yang sah kala itu, yaitu negara Khilafah Utsmaniyah.

Mereka berdiri dan menjadikan dua kota suci Makkah dan Madinah sebagai tameng dalam menguatkan kedudukan mereka, seolah mereka berada di atas sunah hanya karena dua kota suci itu ada dalam kekuasaan mereka.

Mereka tidak henti-hentinya mengklaim sebuah kebenaran dengan kedustaan, yaitu dengan menggambarkan sosok Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai seorang Ulama "faqih" (cerdas) dan "mujaddid fii tauhid" (pembaharu dalam persoalan tauhid) dengan merujuk kepada Syaikhul Islam Imam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta'ala.

Mereka membuat kedusataan di hadapan kaum muslim dengan mengatakan bahwa Imam As-Syaukani rahimahullahu hidup sezaman dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan memuji beliau sebagai seorang ulama faqih.

Pujian Imam Asy-Syaukani kepada saikh Muhammad bin Abdul Wahab ternyata hoax, ini sungguh sebuah kebenaran yang harus dibuka dan dijelaskan secara faktual.

Untuk lebih jelasnya mari kita baca dengan seksama:

Ketika dakwah Saikh Muhammad bin Abdul Wahhab sampai ke Yaman, Al-Amir Ash-Shon’ani menulis sya’ir untuk memuji beliau. Sya’ir yang cukup masyhur itu beliau tulis pada tahun 1163 hijriyah

Sya’ir pujian ini diawali dengan:

تحية الى نجد والاشخاص الذين يسكنون فيها ولو تحية من بلد بعيد..

“Salam atas najd, dan orang yang tinggal di sana, sekalipun hanya salam dari negeri yang jauh…”

Gubahan bait-bait Imam Ash-Shon’ani ini sangat masyhur dan tersebar kemana-mana. Maklum, Al-Allamah Ash-Shon’ani rahimahullahu dikenal sebagai ulama besar yang zuhud, wara’ dan alim. Karangannya yang amat masyhur adalah Subulus Salam, syarh kitab Bulughul Marom.

Setelah qasidah itu tersebar kemana-mana, para ulama menegur Ash-Shon’ani, beliau pun diam mempertimbangkan. Apakah aku telah memuji orang yang salah?

Adalah Syaikh Marbad bin Ahmad At Tamimi, yang atas kehendak Allah menyingkap tabir kepalsuan, datang ke yaman, bertemu dengan Imam Al-Amir Ash-shon’ani, dan menjelaskan semua.

Bahkan sebelumnya, juga datang dari najd bernama Syaikh Abdurrahman An Najdi menjelaskan kebusukan Muhammad bin Abdul Wahab

Sepandai-pandai orang menyembunyikan bangkai, bau busuknya akan tercium juga. Kedatangan dua ulama Najd ini telah mengungkapkan kenyataan di hadapan Iman Ash Shon’ani. 

Kemudian ditulisnya qasidah lain sebagai koreksi atas pujiannya dulu, beliau juga menjelasknnya dalam kitabnya berjudul ” Irsyadu Dzawil Albab Ila Haqiqati Aqwali Muhammad bin Abdil Wahab” atau “Mahwul Haubah fi Syarhi Abyatit Taubah”. 

Kitab ini sangat masyhur di Yaman, hingga para santri ibtida’ pun bila ditanya kitab itu, mereka langsung paham.

Dalam kitab itu beliau tulis:

أراجع ما كتبته لمحمد بن عبد الوهاب النجدي ، صحيح أنه مختلف عما أؤمن به

في البداية ، اعتقدت أنه كان جيدًا ، إذا استطعت مقابلته ، خذ نصيحته التي يمكن أن تنير البشر من أجل الوصول إلى التعليمات

اتضح أن تقديري كان خاطئًا ، لكن أملي في الحصول على الخير لا يهم ، لأن ظن لا ينتج أساسًا دليلًا ".

“Aku meralat kembali apa yang pernah kutulis untuk Muhammad bin Abdul Wahhab an Najdi, benarlah pada dirinya terdapat perbedaan dengan apa yang kuyakini

Pada mulanya, aku mengira dia baik, andai aku dapat menjumpainya, mengambil nasehatnya yang dapat mencerahkan manusia demi menggapai petunjuk.

Ternyata perkiraanku meleset, namun harapanku untuk mendapat kebaikan tak jadi soal, karna dzon pada dasarnya tidak membuahkan petunjuk". (Irsyadu Dzawil Albab Ila Haqiqati Aqwali Muhammad bin Abdil Wahab).

Kedustaan berikutnya adalah sebagaimana saya sampaikan diawal berkaitan klaim atas pujian dari Imam As-Syaukani rahimahullahu ta'ala kepada Muhammad bin Abdul Wahhab.

Pertanyaannya, tahun berapa Imam As-Syaukani wafat?

Ada beberapa sumber dengan informasi yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan beliau wafat tahun 1250 H, 1251 H serta ada juga yang menyatakan tahun 1255 Hijiriyah.

Perbedaan-perbedaan tersebut sangatlah wajar, mengingat perbedaan tersebut tidak terlalu mencolok. Namun, bila perbedaan terpaut hingga seribu tahun (250–1250) ada beberapa kejanggalan yang perlu diteliti ulang.

Pertama, bisa jadi keempat sumber di atas menyajikan berita dengan metode co-pas
Kedua, sengaja dibuat demikian untuk mengkaburkan fakta.

Dengan demikian, pujian Asy-Syaukani terhadap muhammad bin abdul wahab perlu diragukan kebenarannya.

Demikianlah kedustaan yang terus menerus dilakukan para ahlu bid’ah dholalah. Kebohongan yang dilakukan oleh seseorang bukannya diperingatkan, tapi malah di copy paste oleh teman-temannya dan disebarkan untuk menipu kaum muslim.

Oleh karena itu, dengan semua uraian diatas,  layakkah mereka disebut Ahlu Sunah?

Istilah salafi yang dinisbatkan kepada Salafus Sholeh (Generasi terdahulu sahabat), sangatlah tidak layak disandang oleh mereka.

Pada saat yang bersamaan, mereka selalu mencela dengan sengit perjuangan mengembalikan kehidupan Islam melalui tegaknya Khilafah oleh para syabab Hizbut Tahrir.

Namun mereka sendiri tidak mampu berijtihad dalam rangka mengembalikan kehidupan Islam dengan konsep Khilafah Islam yang telah dilakukan para syabab Hizbut Tahrir melalui dakwah politik.

Dengan demikian, sungguh telah menunjukkan mereka berpijak pada sarang laba-laba yang rapuh dalam membangun pendapat mereka.

Sekali lagi, layakkah mereka disebut Ahlu Sunah?

Tentu jawabannya sangatlah jelas, mereka sama sekali tidak layak disebut Ahlu Sunah.

Wallahualam bissawab.(*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.