Header Ads


KONSOLIDASI UNTUK PENEGAKKAN HUKUM AL-QUR'AN



Oleh : Ustadz Muhammad Rahmat Kurnia

Bersyukur saya dapat mengikuti beberapa acara online yang menghadirkan kalangan tokoh. “Kita bersyukur dapat bertemu meskipun secara online. Persatuan umat Islam harus terus dijalin. Sebab, tanpa jalinan persatuan seperti itu kekuatan umat Islam itu akan lemah,” ungkap KH Slamet Ma’arif. 

Salah satu tokoh PA 212 ini menyatakan, “Semangat yang terlihat dalam berbagai acara 212 itu jangan sampai pudar. Setelah acara, pada kembali ke habitat dan rutinitas masingmasing.” 

Pak Yunahar dari Badan Koordinaasi Mubaligh Indonesia (Bakomubin) mengamini, “Benar. Kita harus terus mengokohkan komunikasi. Tantangan kita makin besar.”

“Ya, kita harus melakukan komunikasi. Tepatnya adalah konsolidasi,” ujar Bang Egy yang dari awal terlihat serius menyimak. Tokoh perburuhan Muslim yang juga advokat senior itu melanjutkan, “Hanya saja, dalam konsolidasi ini harus terlebih dulu menyamakan persepsi. Kalau tidak sama, ya tidak bisa. Di antara persepsi yang harus sama adalah apakah rezim ini berbuat adil atau tidak terhadap umat Islam? Zalim ataukah tidak terhadap umat Islam. Kalau sama-sama melihat kezaliman dimana-mana, maka satu persepsi sudah selesai.

” Ustadz Asep Syarifuddin menimpali, “Bang, kalau dalam masalah itu mah sama. Yang beda adalah bagaimana cara dan langkah untuk melakukan perubahan melalui amar makruf nahi mungkar.”

Saya turut menyampaikan, “Kita perlu bersatu, komunikasi, dan bahkan konsolidasi. Persepsi harus disatukan. Caranya, ya, komunikasi terus dijalin. Hanya saja, selain persepsi, tolok ukur yang digunakan pun harus sama. Menurut saya, tolok ukur itu adalah ajaran Islam.” 

Banyak hadirin pun yang menyahut dengan setuju. Bang Candra menambahkan, “Di tengah musibah Covid-19 ini terjadi kezaliman. Pada satu sisi, ada aktivis Islam, misalnya, Ustadz AB ditangkap. Pada sisi lain, para koruptor dan narapidana dibebaskan dengan alasan untuk mencegah penularan virus Corona.” 

Pengacara muda itu pun segera menambahkan, “DPR pun sedang ngebut menyelesaikan beberapa RUU, tak terlihat memprioritaskan musibah Corona.” 

Itulah kalau yang dijadikan pijakan bukan Islam. Kezaliman dilakukan secara terbuka. Keadilan jauh dari pandangan mata. 

Menarik untuk disimak pendapat Prof. Suteki dalam suatu acara di Jakarta yang saya ikuti. “Nilai hukum di Indonesia mengejawantah menjadi kesepakatan membentuk negara berdasarkan hukum. Macam apa negara hukum yang hendak kita bangun itu? Negara hukum yang hendak dibangun itu adalah negara hukum yang berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Lebih konkret lagi, negara hukum itu adalah negara hukum transedental,” paparnya. 

Dosen yang terkenal karena konsisten dalam pendapatnya ini menambahkan, “Sebagai negara hukum transendental, hukum yang direproduksi kembali melalui lembagaal-lembaga supra dan infrastruktur negara (human law) seharusnya dijiwai nilai ketuhanan baik nilai hukum ketuhanan yang tertulis di Kitab Suci (scripture), maupun nilai hukum ketuhanan yang melekat pada alam (hukum alam/natural law).” 

“Sampai di sinilah secara logika sederhana pun kita bisa memahami dan menerima secara nalar bahwa Kitab Suci itu berada di atas Konstitusi,” simpulnya.

Oleh karena Kitab Suci itu di atas Konstitusi, hukum-hukum yang harus dijadikan pijakan di negeri mayoritas Muslim ini sejatinya adalah al-Quran. 

Saat itu saya menyampaikan al-Quran surat al-Maidah ayat 49 yang maknanya: Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Berhatihatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah Allah turunkan kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah Allah turunkan), ketahuilah bahwa sungguh Allah berkehendak untuk menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Sungguh kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” 

Jadi, secara syar’i Kitab Suci harus di atas Konstitusi. Atau konstitusi harus berasal dari Kitab Suci. “Kalau ini yang terjadi, hukum akan adil dan tidak zalim. Sebabnya, hukum yang bersumber dari Zat yang Maha adil pastilah adil,” tambah saya.

Ketika hal itu saya sampaikan kepada beberapa kawan pada suatu grup, ada yang berkomentar. “Kalau hukum manusia yang diterapkan, pasti kebalik-balik. Yang benar jadi salah. Yang salah menjadi dianggap benar,” komentar Pak Endang.

“Habisnya, hukum manusia itu mengikuti hawa nafsu. Akan berpihak pada kepentingan pembuatnya atau kelompoknya. Tak mungkin adil,” Pak Hasan menanggapi.

Erick pun menyampaikan, “Tapi, kalau didiskusikan dan dibahas banyak orang akan lain kali.” Anak muda itu menambahkan, “Makin banyak kepala akan semakin bagus hasilnya.” 

“Tapi, tidak selalu itu. Meskipun banyak orang, kalau partainya sama, pasti pendapatnya sama… Wkwkwkwk,” tulis Pak Endang lagi. 

Saya sampaikan bahwa kalau tolok ukur orang itu logika masing-masing, apalagi kepentingan dan hawa nafsunya, maka pasti jauh dari kebenaran. Namun, kalau tolok ukurnya ajaran Islam insya Allah akan benar. “Nah, masalahnya manusia itu akan mementingkan dirinya,” sahut Erick.

“Itu manusia yang tidak berpegang pada al-Quran dan as-Sunnah, Rick,” Pak Hasan menanggapi.

“Iya… iya,” kata Erick.

Saya katakan, “Bila tidak mengikuti tuntunan wahyu dari Allah SWT, manusia cenderung mengikuti hawa nafsunya.” Segera saya tambahkan, “Di dalam al-Quran disebutkan bahwa: mayoritas manusia tidak beriman (QS al-Baqarah [2]:100), mayoritas mereka tidak mengetahui (QS al-An’am [6]:37), mayoritas mereka jahil (QS al-An’am [6]:111), mayoritas mereka tidak bersyukur (Yunus [10]: 60), mayoritas mereka fasik (QS al-A’raf [7]:102), dan mayoritas mereka tidak menggunakan akal (QS al-’Ankabut [29]:63).” 

Dengan demikian, kalau kita menginginkan keadilan, dan kita ingin mendapatkan rasa keadilan maka hukum yang harus diterapkan adalah hukum yang bersumberkan al-Quran. Jika tidak, kita seperti berharap pada angin. Untuk mewujudkannya perlu komunikasi dan konsolidasi tokoh Islam dan umatnya. 

“Nah, Ramadhan adalah momentum untuk
itu,” Pak Endang berkomentar. Semoga.[]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.